Sebentar Bertandang ke Nuhu Roa

teks dan foto: Ayu Wulandari

Tabe simer (selamat pagi) , Nona. Tabe ma naa (selamat datang di) Kelanit. Saat ini kamu sedang menginjakkan kaki di titik tertinggi dataran barat Tanat Evav, di tempat turunnya koko ertal lanit (orang-orang dari langit) yang menjadi leluhur kami semua di sini, tempat terbaik untuk menyambut senyum dan berkah dari Duad Ler-vuan setiap pagi.

Sapa Pagi Bukit Masbait, Kei Kecil

Pendakian singkat menuju puncak Bukit Masbait yang berada di Ohoi (Bahasa Kei: ohoi = kampung/desa) Kelanit pada permulaan hari itu sukses membuat saya panen keringat di tengah riuh napas tersengal. Meski terbayar kemudian dengan keindahan panorama fajar Nuhu Roa – dikenal juga sebagai Kei Kecil –, sangat nyata tubuh yang lama berkehidupan di sisi barat nusantara bersama hiruk-pikuk perkotaan ini secara alami dipaksa menyesuaikan diri dengan segera. Tidak terlalu sulit dirasa ketika harus membuat telinga menerima bahasa yang berbeda dengan dialek berbeda, atau saat harus membiarkan lidah menikmati citarasa makanan serta minuman yang tak biasa. Jauh lebih sulit adanya mendapati matahari terbit sekitar dua jam lebih cepat dimana waktu tidur seakan menjadi lebih singkat dan bangun pagi secara tak langsung menjadi lebih awal. Belum lagi ternyata saya datang di musim yang kurang tepat, musim angin timur, dimana laut masih bergejolak dan Nuhu Roa begitu dingin di sela peralihan menuju kemarau.

Nama Nuhu Roa mulai ramai dibicarakan bersamaan tersingkapnya keindahan Ngurbloat (Bahasa Kei: ngur = pasir, bloat = panjang) melalui media sosial. Putih tepung pasir pantai di Ohoi Ngilngof tersebut dinyatakan tak punya bandingan di dunia. Mudah ditebak ketika dalam waktu singkat berduyun-duyun wisatawan domestik dan mancanegara menyengajakan diri singgah ke salah satu pulau dalam gugus Kepulauan Kei tersebut. Kepulauan yang didominasi batugamping dan terletak di kawasan Laut Banda; berada di selatan Kepala Burung Irian, barat Kepulauan Aru, timurlaut Kepulauan Tanimbar, dan tenggara Pulau Seram; secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tenggara.

Bandara Karel Sadsuitubun yang berada di Desa Ibra dan Pelabuhan Laut Yos Sudarso yang berada di kota Tual merupakan pintu masuk utama menuju Nuhu Roa. Maskapai seperti Trigana Air Service, Wings Air, dan Garuda Indonesia membuka penerbangan berdurasi kurang-lebih 150 menit menuju Kei Kecil dari Bandara Pattimura Ambon. PT Pelni menyediakan KM Nggapulu yang bertolak dari Pelabuhan Tanjungperak Surabaya (perjalanan selama lima hari dengan rute: Surabaya–Makassar–Baubau–Ambon–Banda Naira–Tual) sementara KM Tidar yang biasa berangkat dari Pelabuhan Tanjungpriok Jakarta menjalani proses docking (perbaikan) tahunan (sumber: situs resmi PT PELNI).

*****

Seiring kesadaran mengeksplorasi potensi pariwisata yang ada, beberapa destinasi kemudian diperkenalkan secara terbuka.

Pantai-pantai berpasirputih seperti Ngursadan yang berada di Ohoi Lilir, Matwair/Madwaer yang berada di Kecamatan Kei Kecil Barat, Ngurtavur yang berada di Pulau Warbal dan selalu disinggahi sekawanan Burung Pelikan pada musim migrasi, pantai di sekeliling Pulau Adranan (sebuah pulau kosong yang berada di sebelah utara pulau Kei Kecil), serta tanpa terkecuali pantai yang berada di Ohoi Dertawun (sekitar 30 menit berkendara dari Bukit Masbait) dengan cepat tak sekadar diperbincangkan para pelaku wisata lantaran diyakini paling tepat untuk mengantisipasi keengganan jenis pengunjung yang enggan membaur dalam keramaian Ngurbloat di setiap datang akhir pekan atau masa libur panjang.

Pulau Bair – terletak di Desa Dullah Laut, dapat dicapai dengan berkendara sekitar 30 menit dari pusat Kota Tual, lalu dilanjutkan dengan melakukan perjalanan laut sekitar satu jam menggunakan speed-boat dengan tarif sekitar Rp 50.000,00 per orang – yang kerap disebut-sebut sebagai miniatur Raja Ampat menyusul diperkenalkan berikutnya, diyakini mampu memberikan sensasi petualangan berbeda karena tidak hanya akan menyuguhi keindahan perairan tenang didominasi hijau pirus tepat ketika anak-anak Hiu Blacktip (Carcharhinus limbatus) mulai berenang-renang menampakkan diri di beberapa sudut terumbu karang dangkal.

Lengang Wear La’ai (Bahasa Kei: wear = danau; la’ai = besar) yang berada di antara Ngayub dan Ngilngof memungkinkan pengunjung Nusyanat – sebutan lain Nuhu Roa – menikmati polah pelikan juga burung-burung air berbulu hitam sembari menghayati kisah di balik terciptanya danau seluas kurang-lebih 40 ha tersebut yang ada kaitannya dengan leluhur di sana. Cerita rakyat tentang sebuah kampung berpenduduk 9.999 jiwa yang ditenggelamkan oleh seorang perempuan tua bernama Te Idar – tersebab para penduduk telah berlaku tidak terpuji demi mengungkapkan ketidaksukaan mereka terhadap si nenek dengan membuang sampah di sekitar rumahnya – itu bahkan kemudian diwajahkan dengan nama lain yang diberikan lalu dipopulerkan masyarakat setempat hingga sekarang: Wear Ablel. Konon, sebelum seluruh penduduk desa yang telah dikutuk oleh Te Idar itu sepenuhnya menjelma penghuni danau (ikan, tumbuhan, termasuk para buaya penjaga), kesemuanya seumpama ikan buntal (ab) yang tengah menggelembungkan diri dengan udara agar dapat terapung di atas air sebatas leher (lel) mereka.

Lian Hawang (Bahasa Kei: lian = gua, hawang = kekuatan hitam), sebuah gua kapur di Ohoi Letvuan yang digenangi air biru kehijauan berasa tawar dan konon bila disusuri akan berujung ke samudra, meski diyakini bertuah oleh masyarakat sekitar – dapat dilihat dari keberadaan sesaji di beberapa sudut serta larangan buang hajat sembarangan dan bertindak asusila – memiliki teras gua amat menggoda bagi siapa saja yang datang hingga akhirnya menghabiskan waktu belasan-puluhan menit untuk berenang-renang atau paling tidak memberi kesempatan pada kulit kepala juga wajah untuk merasakan kesegaran murni yang tersedia.

Pun tak ketinggalan pula Nen Mas Il Evu (dalam Bahasa Kei dapat juga berarti: emas yang hilang telah ditemukan kembali di kampung Evu, dimana emas yang dimaksud berwujud mata-air) yang lebih dikenal sebagai Pemandian Alam Evu. Sebuah tempat yang kerap disinggahi baik pengunjung lokal maupun pendatang setiap kali usai bermain di pantai-pantai sekitaran, dianggap paling enak untuk dinikmati kesegaran murni airnya sebab berasal dari mata-air utama yang menghidupi segenap masyarakat di Nuhu Roa.

*****

Senja Perpisahan di Pelabuhan Tual

Jika senja kerap ditautkan dengan romantisme paling kental setiap kali melanglang ke tanah-tanah rantau, maka tepat jelang malam terakhir berada di Kei Kecil, di salah satu saung tepi pantai Ngurbloat, saya memutuskan menikmatinya ditemani sepiring kecil embal dan secangkir kopi pahit panas. Embal tidak pernah sekadar mewakili makanan lokal yang hadir di keseharian Orang-orang Kei dan memperkaya kuliner khas. Pangan-olahan yang berwujud keras dan terbuat dari umbi tanaman singkong karet beracun tersebut secara tidak langsung dapat memberikan rasa yang melekati kawasan batuan karang sekaligus menceritakan bagaimana sejak dahulu kala Orang-orang Kei telah berupaya kuat-kuat untuk mempertahankan hidupnya tanpa sampai perlu merusak alam yang telah amat berbaikhati pada mereka.

Tabe tafrik (selamat berpisah), Tanat Evav. Tabe oba (selamat tinggal), Nuhu Roa. nit yamad ubudtaran, nusid teod erhoverbatang fangnan, duad enfangnan wuk (semoga leluhur pun ikut menjaga dan menyayangi kita, dan Tuhan pun melindungi kita senantiasa). Tet ya en savak ta’syoat (terima kasih dan sampai jumpa).


Media: Buletin Geologi Tata Lingkungan Vol 27 No 2 Juli 2017