~ naskah artikel yang tak dilirik, tertanggal 11.10.2013

Riuh suara segerombolan bebek membangunkan saya pagi itu. Setengah meringkuk berselimutkan selembar sarung, pelan-pelan kelopak mata diperintahkan untuk sedikit membuka agar dapat jelas melihat waktu yang ditunjukkan sebuah jam dinding di atas dispenser air. Sudah menjauhi pukul enam rupanya. Sebentar saya melirik ponsel ternyata malah mendapati jam dijital di angka lima. Mata segera berkoordinasi dengan ingatan, saling mencocokkan, dan untunglah saya segera sadar bahwa pagi ini saya sudah berada di zona WITA yang satu jam lebih awal dari zona WIB keseharian saya (WITA = Waktu Indonesia Bagian Tengah, WIB = Waktu Indonesia Bagian Barat). Sinar yang berasal dari matahari dalam sekejap sudah menegaskan kehadiran biru langit ditingkahi julangan dinding batu dipenuhi rimbun pepohonan. Saya terlonjak hingga lantai kayu berderak, bergegas mengambil kamera, lalu mendekat ke arah jendela. Aaah, indahnya. Bisa dipastikan seulas senyum sudah mengembang di wajah saya bertepatan datangnya sebuah pesan singkat. “Selamat pagi. Selamat datang di Belae, Kuk. Selamat menghadapi keindahan Karst Menara.”
Tak ada lagi kebiasaan malas mandi. Perlengkapan dokumentasi segera disiapkan dalam sebuah tas selempang kecil, sementara perlengkapan jelajah singkat disiagakan dalam ransel tersendiri. Tentu tak boleh terlupa topi. Cepat sekali terik matahari di desa ini. Satu tiga Mandura yang disuguhkan Ibu Barliang – pemilik homestay yang saya tinggali selama berada di Belae – dengan sigap berpindah ke dalam perut. Penganan berbahan dasar ketan ini tak jauh beda rasanya dengan Lemang yang saya akrabi di Tebingtinggi Deli. Segelas teh hangat melengkapi. Hingga dalam beberapa menit saja saya sudah sigap menuruni anak-anak tangga rumah kayu panggung, berjalan kaki menuju Sekretariat International Cave Festival (ICF) 2013 yang tanpa saya sadari dengan agak setengah berlari.
*****

MAGNET BELAE
Inilah tujuan utama saya datang ke Belae – sebuah desa yang secara administratif merupakan bagian dari Kelurahan Biraeng, Kecamatan Misana Te’ne, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan – menghadiri perhelatan bertaraf internasional pertama terkait dengan kegiatan penelusuran gua dan upaya penyelamatan kawasan karst. Menurut pihak panitia, alasan mengapa Belae dipilih sebagai tempat pertama diselenggarakannya festival ini adalah karena faktor potensi gua prasejarah yang dimiliki serta kesiapan dukungan masyarakatnya. Satu keistimewaan lainnya adalah gugusan Karst Maros Pangkep yang melintasi terkesan membentengi desa ini, sebuah gugusan karst berkarakter Menara. Bagi saya yang telanjur dibuat penasaran dengan foto-foto yang dilansir oleh pihak panitia, sekaligus belum pernah memiliki pengalaman berinteraksi dengan Sulawesi Selatan, hanya beberapa kali singgah transit di Bandara Hasanuddin, kegiatan terorganisir macam ini amat memudahkan.
Namun sebuah kebiasaan tetaplah sebuah kebiasaan. Meski pihak panitia telah menyediakan kendaraan untuk mengantarkan dari sekretariat sampai ke ujung jalan terakhir menuju lokasi utama ICF 2013 dekat Kalibbong Aloa, saya lebih suka memilih berjalan kaki. Ada sekitar dua kilometer jarak yang saya tempuhi. Lelah memang, keringat deras yang bercucuran berbanding lurus dengan jumlah tegukan air bening dalam botol plastik yang saya bawa. Tapi rasa bahagia yang melingkupi sungguh tak ada bandingannya. Seberapa sering kita bisa berjalan di antara dua julangan dinding Karst yang megah? Belum lagi biru langit seakan begitu kekal, hijau rimbun pepohonan memenuhi sisi kiri dan kanan jalan, hamparan luas sawah mengering sesekali ditingkahi beberapa ekor kerbau dan gerombolan bebek yang turun makan, gundukan tersebar taman batu gamping tak ayal membuat penasaran, seekor monyet hitam malah secara tak sengaja terlihat bergelantungan di satu sudut dinding tertinggi. Teras rumah-rumah kayu panggung beratap seng dalam rentang jarak berjauhan yang saya lalui bahkan tak kenal sepi, diramaikan sapa ramah berhias senyum masyarakat yang ditemui. Sungguh tak ada alasan untuk merasa tidak senang, banyak yang bisa diabadikan. Imajinasi saya pun sempat terundang liar.
Dihadapkan pada kemegahan bentangan Karst macam ini kemudian mengingatkan saya akan apa yang dialami oleh kawanan Karst di kawasan Citatah (Padalarang, Jawa Barat). Saya belum pernah menyaksikan langsung keindahannya di masa pra-penambangan besar-besaran. Saya justru terus melihatnya semakin habis dan habis dalam beberapa tahun belakangan. Sama sekali tak terbersit keinginan Kawasan Karst Maros Pangkep mengalami hal serupa, sama sekali jangan sampai terjadi. Akan teramat sangat mengerikan rasanya ketika bukan hanya keindahan saja yang hilang, melainkan juga keseimbangan alam kian terpinggirkan.
*****

REKAMAN CERITA PADA LEANG-LEANG
Setibanya di area perkemahan (yang juga merupakan lokasi kegiatan utama festival) rombongan dibagi menjadi dua. Rombongan pertama yang dipandu langsung oleh Hery Cahyadi – perwakilan Parekraf sekaligus Ketua Pelaksana ICF 2013 – bergerak menuju Kalibbong Aloa, sebuah gua vertikal dengan keindahan interior yang dijanjikan begitu mempesona namun membutuhkan keberanian dan kemampuan fisik relatif memadai untuk mencapainya. Sementara rombongan kedua dipandu oleh Pak Khaerudin – seorang Juru Pelihara Gua asal Belae yang sudah mengabdikan dirinya sejak tahun 1992 – akan melakukan Geotrek Gua Prasejarah dengan menyinggahi sekitar tujuh buah gua, yaitu: Leang Sakapao, Leang Buloribba, Leang Kajuara, Leang Pattennung, Leang Kassi, Leang Lompoa, dan Leang Lambuto — (Kalibbong adalah sebutan untuk gua vertikal, sementara Leang adalah sebutan untuk gua horizontal).
Saya yang sedianya ingin sekali melakukan penelusuran gua vertikal perdana entah kenapa justru berbalik arah, mengikuti langkah Pak Budi Brahmantyo (Geolog) dan Mas Cahyo Rahmadi (Peneliti LIPI) yang sama sepakat memilih singgah ke gua-gua prasejarah tersebut.
Sekitar 3-4 menit perjalanan dengan mobil, dilanjutkan dengan 20 menit berjalan kaki menyusuri persawahan dan taman batu, barulah kami tiba di pintu Sakapao, gua paling tinggi dari ketujuh gua yang kami singgahi. Sejumlah anak tangga yang harus dilalui dan berhasil membuat semua anggota rombongan (kecuali Sang Pemandu) terengah dalam (tak sampai) 5 menit sudah dilupakan dengan mudah. Apa pasal? Kemegahan sebuah formasi Karst berlatar biru berpadu hijau dan kering semu! Rasanya seperti disuguhi sebagian kecil keindahan paras Tuhan!
Lain Sakapao lain pula Buloribba. Leang yang satu ini malah sempat membuat semua kami berandai-andai akan sebuah hunian nyaman dengan teras yang memungkinkan terekamnya keindahan demi keindahan di setiap hari tanpa kehilangan kontrol atas beragam aktivitas (seperti menggembalakan ternak misalnya).
Lima leang berikutnya pun sama meninggalkan kesan: Kajuara yang punya lorong rahasia, Pattennung dengan interior paling indah, Kassi yang diam-diam memuat kisah (mungkin) asmara zaman prasejarah, Lompoa dengan kolam kecil yang diminati sangkutan sampah, Lambuto yang saya duga semacam Gedung Serba Guna di masanya. Jika dihitung dengan seksama, waktu geotrek ini terlalu singkat.
Ah ya, saya hampir lupa. Jadi jejak prasejarah macam apa yang ditinggalkan di gua-gua tadi? Sebagian besar yang diperlihatkan oleh Pak Khaerudin adalah gambar-gambar telapak tangan berbingkai cipratan warna merah. Ukuran telapak-telapak tangan itu kira-kira sama dengan ukuran telapak tangan orang dewasa. Selain itu ada juga gambar-gambar yang diduga sebagai bentuk babi hutan, ikan, kura-kura, manusia, dan kapal layar. Tidak semuanya digambar dengan materi merah seperti pada telapak tangan, gambar aktivitas manusia di Leang Kassi keseluruhannya berwarna hitam.
Keemasan cahaya dari matahari pada akhirnya menjadi penutup penyusuran. Harapannya tentu semoga selalu akan ada lain kesempatan untuk dapat singgah menjawab kebelumpuasan. Dan semoga pula di saat itu tak ada berita buruk yang menghampiri dan harus dihadapi. Belae sudah semestinya terlindungi julangan tinggi dinding batu dan kepedulian masyarakatnya sendiri.
