Laku Lampah

Perlon Unggahan Trah Banokeling, 25 April 2019

Setiap jelang bulan Ramadan yang dianggap memiliki nilai tertinggi dibanding bulan-bulan lain, pada hari Jumat terakhir di bulan Sadran (dikenal juga dengan nama: bulan Ruwah atau bulan Sya’ban), sekali dalam satu tahun, para penganut ajaran Islam warisan Kyai Banokeling (dalam tulisan ini selanjutnya disebut sebagai: Anak-cucu Banokeling) rutin menunaikan tradisi yang dikenal dengan istilah Perlon Unggahan (dalam Bahasa Jawa: perlon berarti hajat, keperluan; sementara unggahan berarti menaiki, memasuki).

Rangkaian kegiatannya cukup panjang. Dimulai dengan berdatangannya Anak-cucu Banokeling yang tersebar di seantero Banyumas, Cilacap, bahkan di luar Jawa Tengah, sehari sebelum acara inti dilaksanakan.

Sebagian mau-tak-mau harus berkendara agar dapat sampai tepat waktu di tujuan utama, sementara sebagian besar lainnya lebih menyediakan diri untuk berjalankaki (laku lampah) puluhan kilometer mengarah Desa Pekuncen yang secara administratif merupakan bagian dari Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas (±1-2 jam berkendara dari pusat kota Purwokerto) sebagai bentuk bakti terhadap leluhur mereka.

Pagi-pagi sekali, tak jarang sebelum rekah fajar, peziarah-peziarah itu telah beranjak meninggalkan rumah dengan membawaserta perlengkapan pribadi secukupnya serta hasil bumi yang nantinya akan dinikmati bersama pada puncak acara.

Anak-cucu Banokeling yang melakoni laku lampah tersebut ingat perhentian. Lokasi yang biasa mereka gunakan untuk menyimpang sekadar mengistirahatkan kaki, mengobati/menambal luka lecet akibat jauh berjalan dengan/tanpa alas, melepaskan sejenak beskap hitam yang menyerap sekaligus panas matahari dan panas badan, membenarkan belit-ikatan kain jarik yang dipakai, memulihkan tenaga dengan minum serta makan, adalah Pasar Kesugihan dan area dalam Makam Panembahan Mbok Ajeng Watulingga yang keduanya masih masuk daerah Kabupaten Cilacap.

Ketika harus kembali berjalan, semua fasih saling menegarkan. Selalu ada persona yang suka melontar seloroh pemecah gundah, selalu ada persona yang sudi berbagi lengan pengganti alat bantu penopang tubuh di mana pun terbentang dakian, selalu ada persona yang rela ikut berhenti sebentar jika kedapatan salah seorang dari para peziarah pandangannya menggelap hampir pingsan, selalu ada persona yang tak pelit berbagi obat gosok atau pijatan kepada siapa pun yang membutuhkan.

Semua ingin sesegera mungkin sampai setidaknya di Grumbul Kalilirip – perbatasan wilayah Cilacap (Dusun Sumberan, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kasugihan) dan Banyumas (Dusun Kalilirip, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang) – lepas tengah  hari tak setakat senja, melangsungkan caos bekti (serah-terima hasil bumi yang dibawa) sebagai tanda penghormatan kepada tuan rumah. Akan tetapi, harus sangat dipastikan bahwa tidak ada satu orang pun di antara mereka boleh telantar tertinggal di belakang sendirian.

Dalam pemahaman singkatku selama beberapa jam mengikuti pergerakan Anak-cucu Banokeling dari titik Pasar Kesugihan hingga di Desa Pekuncen 25 April 2019 silam, laku lampah dapat dianalogikan sebagai tindak penyucian diri pembuka serangkaian prosesi Perlon Unggahan.

Selama kaki dibawa bergerak menjauhi sarang berkediaman sehari-hari yang nyaman, secara bergantian para peziarah akan bertemu pelbagai hal yang bisa jadi menyenangkan namun bisa juga tidak; akan menghadapi ramai-ramai yang sekali waktu terasa mencerahkan lantas di menit berikutnya malah melulu menyiksa, atau sunyi-sunyi yang hanya mengingatkan pada lelah tapi selanjutnya berbalik menjadi satu-satunya dambaan sebab justru lebih meringankan; akan memutuskan untuk sibuk merutuk sepanjang jalan-jalan berlubang ramai sepeda motor lalu-lalang juga di perlintasan-perlintasan menanjak tatkala matahari macam berjarak cuma sejengkal tangan orang dewasa, atau tetap berkuat menghayati perenungan serta utuh-utuh mempercayakan diri pada kehendak Semesta.

Jujur, terpercik tetes harap, semoga tradisi baik ini janganlah kenal punah.

Biar manusia tetap punya cara sederhana untuk menapaki lagi kesadaran diri masing-masing bersama kaki-kakinya, terhindar dari mudah putus hubungan dengan nyata kehidupan di tengah riuh teknologi serba memanjakan, pada akhirnya bukan bermuara pada lelah-haus-&-lapar melainkan pada Tuhan.