Huwalaaa Jenggala!

Selama bertahun-tahun melalui jalur selatan keluar-masuk Jawa Barat dan Jawa Tengah bergantian, belum pernah sekali pun aku berlama-lama berdiam di daerah Banyumas. Walhasil tidak banyak yang bisa kuingat akannya selain perihal keberadaan Gunung Slamet dan sebuah kawasan wisata termahsyur bernama Baturraden yang sering kudapati beritanya baik di televisi atau media cetak.

Tatkala Pak Fendi Siregar mengatakan bahwa pagi itu, sehari sebelum kegiatan pemotretan ritual Perlon Unggahan Trah Banokeling di Desa Pekuncen – Jatilawang, kami (Mbak Wis, Galih, Syarif, Dewi, aku) akan berkunjung ke Curug Jenggala, wah!, sungguh tak terhitung seberapa besar rasa bahagia mencuat!

Hore! Ketemu dengan Air Penerjun! Hore! Main dengan Air Penerjun! \(^.^)/

Kendati masih seperempat tak enak badan (buntut bawaan dari Bandung nih), begitulah seada-adanya kemeriahan dalam hati kecilku yang seketika sangat siap mengubah warnanya menjadi sedemikian cerah.

Curug Jenggala yang berada di lereng selatan Gunung Slamet, diapit oleh Bukit Cipokol dan Bukit Ciangin, secara administratif merupakan bagian dari Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Sebelum dibuka sebagai destinasi wisata yang dikelola oleh warga setempat, gerojokan tersebut lebih dikenal dengan nama Curug Tempuan karena merupakan pertemuan dari dua sungai, yaitu: Sungai Mertelu dan Sungai Banjaran (cucu Sungai Serayu, anak Sungai Logawa).

Bila perjalanan berkendara dimulai dari titik Stasiun Purwokerto yang berada di pusat kota kabupaten misalnya, airterjun tujuan tersebut tidak terlalu jauh kurasa. Hanya perlu waktu bergerak ke utara sekira 55 menit saja. Namun, lantaran sebelumnya kami sudah mlipir-mlipir mengelilingi tepian Sungai Serayu (yang sepagian itu diselimuti kabut) sampai ke Patikraja, jarak tempuh yang harus dilalui jadi agak sedikit panjang, ketambahan 20-30 menit lah kira-kira.

Sejak memasuki kawasan Baturraden, kami yang berada dalam mobil sewaan sepakat membuka jendela. Udara segar tak berbayar beserta aroma bangun pagi para Pepohonan betapa terlampau sayang jika dilewatkan selagi jauh dari perkotaan sesak jejak pembangunan.

Ada untungnya sebelum bertolak ke sini kami sudah sempat sarapan masakan rumahan yang sangat enak hingga tenaga yang terpakai ketika turun dan menyusuri Terowongan Kebasen paripurna tergantikan. Ada untungnya pula kami mengurungkan niat mencapai puncak Bukit Watu Meja yang iming-iming pemandangannya amat saaaangat menggiurkan.

Sebab, ternyata-eh-ternyata, perjalanan untuk sampai-ke lalu kembali-dari Curug Jenggala tersebut benar-benar membutuhkan meruah daya selain luas kesabaran. Bahkan demi sebatas mencapai Pos Tiketnya <_<)

Dipandu Iman – kawan pemotret asli Banyumas yang punya stok semangat berlimpah -, rombongan kecil kami mulai menyusuri setapak batuan tersusun rapi yang posisinya berdampingan dengan pipa pesat hijau tua milik PLTA Ketenger. Sekilas lihat, pipa itu membuatku teringat akan pipa-pipa kuning di rute ‘seribu anak tangga’ menuju PLTA Dago Bengkok.

Sembari pelan berjalan – meski kesenangan, aku ingat benar bahwa aku belum sempat melakukan pemanasan, jadi tidak boleh semena-mena pada jantungku yang masih tenang-tenang -, diam-diam kuat-kuat aku berharap tidak akan bertemu anak-anak tangga melelahkan sehingga harus mengulang pengalaman pegal-pegal seakan tak berkesudahan.

Tapi, ah, harapan rupanya murni tertinggal sebagai harapan. Tuhan tidak mengabulkan. Kurang dari lima menit menjauhi pipa pesat hijau tua, di depan mata terpampang jelas anak-anak tangga menjulang. Jumlahnya sudah pasti bukan lagi belasan <_<)

Seperti biasa, Pak Fendi melaju hingga otomatis memimpin paling depan. Galih mengikuti dengan arah (yang kalau kuperhatikan) agak acak karena ia bisa tiba-tiba ada agak ke tengah sawah entah di kiri entah di kanan. Mbak Wis, Dewi, dan Iman menyusul di belakangnya. Aku masih bersikukuh dalam kecepatan santai. Lalu terakhir, Syarif, yang bukannya beristirahat dan mencukupkan tidur di Pekuncen, tampak menikmati sekali mendokumentasikan pergerakan dari satu anak tangga ke anak tangga lain dalam format video menggunakan kamera.

Kami semua sempat berhenti agak lama kemudian. Guru kami tertarik sebentar berbelok ke jatuhan air yang tidak terlalu besar, namun punya susunan batu cukup apik dirimbuni dedaunan di sekitar.

Ketika yang lain ikut turun serta ikut merekam/membekukan sembarang gerak air berikut sajian panorama sebagaimana Pak Fendi lakukan, aku lebih memilih asyik-asyik duduk manis di tengah jembatan – posisinya ada di antara tangga turun dan tangga naik, dapat dilihat pada gambar dua paragraf di atas – dengan kaki dibiarkan menjuntai ke bawah, rehat, tanpa lupa minum air yang kubekal dari rumah Pak Ritam – orang yang berbaikhati menyediakan tempat untuk kami beserta Kawan-kawan Rumah Kayu Fotografi lain inapi selama berada di Desa Pekuncen. Sepuluh sampai belasan menit jeda itu kalau buatku mah bukan lagi lumayan.

Kisaran pukul 9.40 WIB, rombongan kecil kami kembali berjalan. Kurang dari sepuluh menit,  eh, berhenti lagi begitu berpapasan dengan dua warga lokal melintas sambil memanggul rumput-rumput yang biasa jadi pakan ternak.

Mumpung kok-ya-ndilalah-ada-warung tak jauh dari tempat melintasnya para Bapak Pembawa Rumput, tanpa perlu kesepakatan, kami beramai-ramai jajan. Sebagian sekadar beli airbening, sebagian menjatuhkan pilihan pada sebotol Minuman Ringan Pengganti Hilangnya Keringat, sementara aku kebagian disubsidi Teh Pucuk yang tidak-perlu-didinginkan-karena-akan-dingin-dengan-sendirinya oleh siapa-lagi-kalau-bukan Pak Kobayashi tercintah!

Selepas 38 menit (terhitung dari awal bertemu pipa pesat) berjalan-memotret-berjalan, tanda-tanda kehidupan Curug Jenggala belum juga kentara. Pos Tiket yang kami cari-cari pun, eugh, tak kunjung tampak ujung atapnya. Hanya persimpangan yang nyata-nyata ada. Tanda penunjuk arah: tidak ada! ^.^)/

Untungnya kami tak perlu menghabiskan ratusan menit celingukan di persimpangan elok tersebut. Sekira semenit-dua, muncul seorang bapak keluar dari belukar ujung tangga terdekat. Beliau dengan segera jadi tempat Pak Fendi bertanya. Bahasa tubuh dan suaranya mantap  betul menjawab “ambil jalan kanan!”

Reaksi spontan tak terelakkan, aku dan Pak Fendi sebentar saling bertatap. Sepertinya pikir kami kali ini amatlah seia-sekata. “TANGGA LAGI CUY!” – singkatnya demikian >,<)

Jumlah detik beserta anak tangga yang harus dilalui sebenarnya tidaklah spektakuler nian. Toh tiga menit berikutnya sebuah kolam berpagar luas, dengan sebentuk bangunan terbilang klasik di ujungnya, indah membentang di depan mata.

Kabar baik menyusul tiga menit kemudian. Rupa-rupanya: di sinilah Pos Tiket Curug Jenggala berada!

Untuk memperoleh satu tiket masuk, setiap pengunjung hanya perlu menauri dengan uang sejumlah Rp5.000,00 saja. Harga itu menurutku tergolong murah semisal dibandingkan dengan harga tiket masuk yang diberlakukan di Curug Cimahi atau Curug Tilu di Bandung.

Akan tetapi, sebaiknya buang jauh-jauh harapan tanda-tanda keberadaan Curug Jenggala bakal terlihat dalam dua menit perpindahan badan. Karena di sebilangan waktu tersebut, paling dekat ditemui adalah semacam jembatan yang berhasil bikin nyaliku rada menciut sebab penampakannya agak ngeri-ngeri sedap o_0)

Tidak ada data teknis dapat ditemukan di sekitar titian air yang membentang sepanjang, emmm, mungkin ada kira-kira 20an meter di atas sebuah kali yang didominasi batu-batu pelbagai ukuran. Jaraknya dari dasar kali bisa ditaksir lima meter lah.

Dengan kondisi (yang kalau dinilai sekilas dari warna besi-besi penyangga titian tersebut) sudah tidak lagi muda, area sokongan kaki cuma muat dua telapak berjajar, deras alir air tepat  di bawah kaki sama sekali tak ditutupi apa-apa, ketiadaan pegangan tangan lebih layak dari serentang wire rope (tali baja) di salah satu sisi, batu-batu kali berukuran besar berada persis di bawah (jadi, semisal jatuh, duh, nggak kebayang potek-poteknya gimana), ditambah keberadaan dua papan peringatan bertuliskan ‘JEMBATAN SEMPIT JALAN SATU PER SATU’ dan ‘AWAS!!! BAHAYA JATUH’  ditempatkan bertetangga – jangan tanya seberapa deg-degannya lantaran: SANGAT! >,<)

Terus, akhirnya kamu memilih melintasi jembatan ajaib itu nggak, Kuk? Atau mencari jalan berputar? Pasti ada kan?

Ada. Ada kok jalan lain yang bisa dilewati sambil santai-santai cekrek foto kiri cekrek foto kanan begitu. Tidak terlalu jauh pula, satu kilometer kurang. Wujudnya aku wakilkan dalam satu tangkapan (gambar) yang  diposisikan tampil di atas paragraf ini.

Tapi, kusabab diberi tantangan dan aku-nya sendiri pun ingin makbul menghadapi ketakutan (yang kurasa: ah, masih bisa lah, Kuk.. masih bisaaa.. heuheu.. heuheuheu), aku lakoni juga deh segala ke-deg-deg-an menyeberangi titian unik tersebut selama seratusan detik yang kok ya lamaaa banget kayaknya ^,^)7 Sementara, jembatan normalnya digunakan saat rombongan kecil kami meninggalkan itu kawasan wisata.

Lepas dari ketidakberaturan degup jantung, Curug Jenggala masih juga belum terlihat. Meski sempat berpikir  “jangan-jangan airterjun ini penghujungnya di nirwana ya?”, aku berusaha tetap jaga semangat.

Ternyata-eh-ternyata, wah, kami masih butuh lebih-kurang 40 menit (termasuk berhenti untuk memotret) berjalan menanjak.. santai datar.. menurun.. melalui rute berbatu yang rapi tertata sebelum kemudian sama-sama  “HUWALAAA!!!” atas hasil yang tidak mengkhianati usaha! \(^.^)/

Lena kami berada di sana, setengah jam lebih kurasa. Setiap sudut pengambilan gambar baik diam mau pun bergerak sepertinya tak ada yang terlewat dicermati benar-benar.

Berhubung tidak membawa baju ganti (kan berkunjung ke Curug Jenggala ini by-surprise), aku cuma mondar-mandir di pinggir jatuhan air paling kiri saja. Jatuhan air paling kanan susah didekati tanpa kebasahan sebab untuk sampai ke bagian paling cantik tersebut – perhatikan keberadaan satu pohon kecil juga jenis penampakan jatuhannya yang berbeda – tidak bisa dengan tidak menyeberangi sungai – eh, bisa sih kalau mau jalan berputar ke atas, lalu rappeling seandainya berkecukupan alat, heuheuheu.

Aku sangat menikmati setiap butir Air Penerjun yang bertitikan di sekujur permukaan kulit wajah dan tangan yang tak tertutup kain pakaian. Apalagi semua itu didukung dengan sebaran energi baik sekitaran yang terasa enaaaak sekali untuk melakukan isi ulang daya.

Sisa sakit yang sempat mengganggu selepas sedikit main-main di tepi Sungai Serayu dan Terowongan Kebasen, termasuk segala ngilu-ngilu yang awalnya kucemaskan akan mengganggu pergerakanku walau telah usai pening-demam lima hari jelang berangkat berkereta ke Banyumas, spontan macam ternihilkan. Parasku tak terhindar terturut berubah rona, kata kawan-kawan.

Selaras posisi matahari tepat di atas kepala, rombongan kecil kami sepakat meninggalkan Curug Jenggala. Pak Fendi masih ada lain kewajiban buat dituntaskan selain perut-perut pun mulai keroncongan.

Rute yang mau-tak-mau mesti ditempuh adalah rute yang sama dengan keberangkatan semula. Namun, kali ini ada bonusnya dan itu berlaku atas dua orang.

Malang tak dapat ditolak, lumut-lumut licin di sekitar pipa pesat yang awalnya dapat dihindari pada saat datang, ternyata-eh-ternyata tidak lagi aman pada saat pulang. Mereka sukses menelan korban. Pertama: Syarif, kedua: Indah. Satu beroleh lebam di pinggang belakang, satu beroleh lebam di tulang kering kaki entah kiri entah kanan.