jejak perjalanan 9 Januari 2016, buah dari perburuan hadiah ulang tahun untuk Bapak Bintang. pernah coba dikirimkan ke beberapa media cetak, namun ternyata peruntungannya berbeda. jadi, ketimbang sayang hanya disimpan, aku bagikan di sini saja sudah 😉
Jagad maya penghujung tahun 2015 ramai dengan pelbagai rekamwajah baru dan lama destinasi-destinasi wisata seantero dunia tanpa terkecuali Indonesia. Meski musim hujan belum benar-benar berlalu dengan sempurna, masa libur akhir tahun tampaknya tak hendak dilewatkan tanpa cerita. Dan Situ Cilembang yang berada di Dusun Curug, Desa Hariang, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, menjadi salah satu dari sekian wajah baru yang namanya terangkat. Paras biru tenang telaga tersebut berhasil memikat banyak mata ketika pertama kali diunggah ke salah satu media sosial. Tak ayal, kini, ramai pengunjungnya yang tak hanya berasal dari Sumedang saja. Sebutlah: Bandung, Subang, Majalengka, Jakarta di antaranya.

Usut punya usut, ternyata memang tidak sulit sebenarnya untuk mencapai kolam mata air yang konon bersumber dari Gunung Tampomas itu. Saya yang berangkat dari Bandung, berdua dengan seorang kawan menggunakan kendaraan bermotor, tak terlalu waswas ketika mulai memasuki pusat Kota Sumedang. Temukan dan ikuti saja Jalan Raya Cimalaka yang biasa digunakan untuk mencapai Cirebon. Perhatikan sisi kiri jalan ketika melewati sekitaran Cibeureum untuk mendapati papan petunjuk yang memuat tulisan Conggeang dan Buahdua lalu berbelok di sana agar tidak kebablasan sampai ke Cirebon. Sekitar 15 menit dari belokan tersebut, akan bertemu lagi dengan petunjuk untuk berbelok kiri jika ingin mencapai Buahdua yang jaraknya sekitar 15 menit berkendara lagi di depan. Dari Pasar Buahdua, Hariang sudah terbilang dekat, kisaran 20 menit berkendara, melewati Desa Bongkok yang merupakan Sentra Mebel dan Desa Conggeang yang merupakan Sentra Opak. Meski kemudian tidak akan ada lagi papan informasi yang menunjukkan arah ke Situ Cilembang dari pusat Desa Hariang, jangan segan-segan bertanya. Warga sekitar tampaknya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pendatang-pendatang yang ingin mampir melihat salah satu keindahan di desa mereka. Jika ditotal, waktu tempuh (berikut dua kali beristirahat untuk sarapan dan membeli bekal minum) yang dibutuhkan dari Kota Bandung hingga sampai ke Situ Cilembang mencapai dua setengah jam bermotor.
Bagaimana bila ingin mencapai Desa Hariang dengan menggunakan kendaraan umum? Apakah memungkinkan? Jawabannya: iya, memungkinkan. Dari Sumedang, gunakan angkutan umum dari Terminal Ciakar, tujuannya Buahdua. Sesampainya di Pasar Buahdua, jika beruntung akan menemukan angkutan umum yang langsung menuju ke Hariang, namun bila tidak maka dapat menyewa angkutan umum untuk sampai ke tujuan.
Sebagai destinasi wisata baru, pengelolaan telaga yang dikenal juga sebagai Situ Biru itu dilakukan atas swadaya warga desa, tercantum resmi pada spanduk berukuran sedang yang diletakkan di gerbang depan nama Karang Taruna Desa Hariang. Lahan untuk parkir kendaraan sudah disiapkan (dengan tarif parkir Rp 2.000 untuk motor dan Rp 3.000 untuk mobil). Jadwal berkunjung sudah ditetapkan (Sabtu-Kamis: 8-17 WIB dan Jumat: sesudah Waktu Sholat Jumat-17 WIB). Sejumlah dua hingga tiga warung kecil ditempatkan di beberapa sudut yang tak saling berdekatan sekiranya pengunjung ingin makan dan minum sekadarnya. Sementara itu, tarif masuk kawasan tidak diberlakukan. Namun, pihak pengelola menyediakan kotak khusus bagi pengunjung yang ingin memberikan sumbangan sukarela, dimana hasil yang diperoleh tersebut nantinya akan digunakan sebagai biaya perawatan lingkungan sekitar telaga.
Hal yang belum banyak diketahui para pengunjung umumnya tentang Situ Cilembang adalah perihal dikeramatkannya telaga tersebut. Ketika memasuki kawasan kolam mata air, tak boleh asal bersikap dan tak boleh sembarangan bicara. Selain itu, meski kejernihan airnya sangat menggoda, tak boleh ada yang dengan seenaknya berenang-renang di sana. Kalau hanya sebatas ingin mencuci muka atau mengambil airnya untuk dibawa pulang (karena diyakini berkhasiat bahkan bertuah), masih diizinkan. Berfoto berlatar telaga tersebut pun diizinkan.

Beruntunglah saya dan kawan yang pagi itu tiba sangat awal, tepat pukul delapan. Kami masih leluasa mencerap keheningan Situ Cilembang dan merasakan lezat airnya sambil membasuh muka. Karena sekitar satu jam kemudian, kemewahan itu pecah. Satu per satu pengunjung berdatangan. Tak terkecuali seorang ibu yang tampak kesulitan melalui bebatuan besar yang memagari telaga.
“Aduh, ini batu-batunya licin. Susah. Bagaimana saya bisa mengambil airnya?”, begitulah kira-kira terjemahan kalimat-kalimat berbahasa Sunda yang terdengar dari mulutnya. Di tangan kanan ibu tersebut tampak tergenggam botol kosong yang sekiranya dapat memuat seliter air. Rupanya ia bermaksud mengambil sebagian isi telaga dan membawanya pulang, berharap keberkahan.