sedari kecil, segala apa yang dapat kulihat, tak pandang tersaji/digambarkan dalam bentuk rumit atau sederhana, acap kali mampu membuat imajinasiku bebas lepas mengembara ke mana-mana.
ketika belakang hari aku lebih banyak menggunakan sepasang mata dalam pelbagai kegiatan untuk melengkapi aktivitas menggenapkan pengalaman rasa, memadukannya kemudian dengan kemampuan memvisualisasikan kesemuanya sesuai isi kepala berbantu kamera, semakin menjauh dari bidang teknologi terapan yang aku tekuni perkuliahannya selama tujuh tahun setengah, yaaa, mungkin itulah penyebabnya.
kendati tidak fasih menggambar — kalau nekad-nekadan melakukan padu-padan warna, em, masih bisa lah — aku sangat suka menikmati dan mengapresiasi buah gores lain orang, entah kawan entah bukan.
bila kesempatan berhadapan langsung dengan karya-karya tersebut terbilang langka, kala-kala secara impulsif aku bisa benar-benar mengejar. bahkan, andai kata Pameran Ilustrasi Buku Cerita Anak yang menghadirkan sejumlah koleksi ilustrasi dari Chihiro Art Museum nun di Jepang sana tidak dilangsungkan di Galeri Soemardja beberapa pekan silam (23 Januari – 17 Februari 2019), ada kemungkinan aku akan bercita-cita kembali mengaktifkan paspor-ku yang sudah kuhanguskan bertahun-tahun lampau untuk sekadar bisa mengupayakan singgah ke Museum Ilustrasi Buku Anak Perintis baik yang berdiri sejak tahun 1977 di bekas rumah Chihiro Iwasaki di Tokyo mau pun satu yang dibangun pada akhir 1980-an di desa Matsukawa (Azumino, Prefektur Nagano), daerah asal kedua orangtua beliau.

Chihiro Art Museum Tokyo (sumber gambar: https://chihiro.jp/en/)

Chihiro Art Museum Azumino (sumber gambar: https://chihiro.jp/en/)
* * * * *
perkenalan pertamaku dengan goresan Chihiro Iwasaki di Jogja dekat kisaran tahun 2000-an sebenarnya agak buram. kebetulan buku Madogiwa no Totto-chan yang aku pinjam dari seorang kawan saat itu adalah hasil fotocopy-an.
walau keseluruhan kisah yang dituturkan oleh Tetsuko Kuroyanagi tentang Tomoe, tentang Pak Kobayashi, tanpa terkecuali tentang anjing kesayangannya yang bernama Rocky sukses kuselesaikan tak lebih dari sehari semalam, tetap saja ada rasa penasaran tertinggal; membuatku bertekad mencari buku terbitan asli dengan harapan semua gambar ilustrasi leluasa kusaksikan hingga gambaran Totto-chan dalam kepala ini paripurna.
lantas, selepas iktikad tersebut lulus aku tunaikan, eh, kok ya ndilalah aku malah semakin penasaran, berkelanjutan ingin tahu bagaimana cara Ilustrator Perempuan yang tutup usia setelah didiagnosa menderita kanker hati itu memberlakukan tekstur dan warna atas setiap kerja kreatifnya, sampai-sampai sebagian uang jajanku sengaja kusisihkan agar aku selesa mencari data-data citra karya Chihiro Iwasaki di salah satu warnet langganan.
dan dampak yang paling lekas aku sadari sesudah bermalam-malam menenggelamkan diri dalam pencarian di sela-sela segenap keperluan pengerjaan sebarang skripsi atau tugas kuliah tak henti-henti sungguh tunggal saja: aku makin-makin-makin suka!

Madogiwa no Totto-chan

beberapa karya Chihiro Iwasaki yang aku suka (sumber gambar: https://instagram.com/chihiroartmuseum_azumino/)
belasan tahun kemudian, tepatnya pada Januari hari ke-8 tahun sekarang, tanpa sengaja aku membaca postingan Bu Riama Maslan Sihombing di akun instagram beliau. ada foto selebaran Pameran Museum Chihiro di salah satu sudut Stasiun Teradacho yang ditampilkan, berikut pemberitahuan singkat bahwa beberapa karya Ilustrator Cerita Anak Legendaris tersebut akan dipamerkan bersamaan Pesta Cerita Anak (TaCiTa) perdana.
jangan tanya perasaanku tempo itu macam apa. aku hanya ingat aku langsung teriak-teriak kegirangan sendirian di kamar kontrakan padahal tak ada lotre bernilai bombastis yang aku menangkan.
sepuluh hari selewat dari tanggal delapan, aku lagi-lagi kembali menjelma bak berbutir-butir jagung yang tak henti memamerkan letupan-letupan.
muasal perkaranya jelas:
Pameran Ilustrasi Buku Anak Indonesia dan Jepang
mempersembahkan koleksi Chihiro Art Museum serta
hasil kurasi Ilustrasi Buku Anak & Desain Sampul
Buku Remaja Indonesia23 Januari – 17 Februari 2019
Galeri Soemardja, Bandung
GRATIS!
demikian pengumuman oleh Bu Riama yang langsung baik-baik kucatat.
* * * * *
aku sejatinya punya banyak peluang untuk berpuas-puas menghayati ketigapuluh koleksi ilustrasi yang dibawa oleh perwakilan Chihiro Art Museum – sembilan diantaranya merupakan karya Chihiro Iwasaki dan duapuluh satu lainnya merupakan karya dari sembilan Ilustrator Cerita Anak terkemuka asal Jepang baik yang masih ada mau pun yang telah tiada – dan empatpuluh karya Ilustrator Nusantara mengingat kelompok dongengku juga terlibat dalam beberapa kegiatan untuk anak-anak di TaCiTa. tapi, demi dapat maksimal khusyuk menyelami satu per satu gambar ilustrasi yang ada, aku menyengajakan diri untuk datang pada hari kedua pameran pagi-pagi benar. sekitar pukul sembilan lah, sesuai jam buka Galeri Soemardja.
tidak ada satu pun koleksi ilustrasi dari Chihiro Art Museum yang dengan sengaja aku dokumentasikan dalam jarak dekat selama berada di sana, baik di hari kedatangan pertama atau pada hari-hari selanjutnya saat aku bertugas meliput kegiatan Kelompok Dongeng Bengkimut dan Ayo Dongeng Indonesia. sejak awal, agar jangan sampai salah berlaku – karena biasanya nih (sepengetahuanku) warga mancanegara punya aturan berbeda atas karya seni – aku sudah menanyakan dulu kepada pihak penyelenggara di meja informasi tentang boleh/tidaknya pengunjung merekam video atau mengambil gambar.
ketika belakangan aku diizinkan langsung oleh Bu Riama untuk mengambil suasana pelbagai aktivitas entah bersama kalangan anak-anak bahkan remaja dan dewasa, sebisanya aku berusaha tetap punya batasan. karena kalau lain hari kelak apa yang sembrono aku lakukan malah akan menghilangkan kesempatan-kesempatan karya terbaik mancanegara hadir lagi ya di Soemardja, di Bandung, ya di Indonesia, kan susah.

Pameran Ilustrasi Buku Anak Indonesia dan Jepang
selepas melewati pintu masuk Galeri Soemardja, tanpa butuh waktu panjang, aku segera larut dalam kisah-kisah yang dipaparkan pada setiap gambar, mencerap setiap tarikan garis dan pulasan warna tanpa pretensi mengerti betul mana yang bagus mana yang bukan. sesosok Kucing Penikmat Musik dalam dua bingkai adalah hal yang langsung menarik perhatianku, dimana ternyata ia adalah bagian dari rangkaian ilustrasi terakhir yang dibuat oleh Takeshi Motai – salah satu ilustrator cerita anak terbaik pasca Perang Dunia II, penerima Shogakukan Children’s Culture Award – untuk buku bertajuk Serohiki no Goshu (Goshu The Cellist) yang ditulis Kenji Miyazawa dan diterbitkan oleh Fukuinkan Shoten Publishers pada tahun 1956.
aku tak ingat benar berapa banyak menit yang kuhabiskan di hadapan gambar dua dimensi dengan biru tua sebagai warna malam dan kuning muda mewakili terang ruang dalam rumah yang terlampau susah untuk diduga berukuran luas. aku hanya ingat benar aku spontan asyik tertawa-tawa sebab polah dan ekspresi si kucing yang kuyakin di dunia nyata mah pasti tak mudah ditemukan.
sekira tiga langkah bergeser ke arah kiri, aku langsung berhadapan dengan tiga karakter bersahaja dari dua kisah berlainan, yaitu: satu karakter kucing dan satu karakter beruang masing-masing digambarkan dalam kondisi wajah ditutup kedua tangan yang lalu merentang terbuka oleh Yasuo Segawa, merupakan bagian dari buku Inai Inai Baa (Peek-a-Boo) yang diperuntukkan bagi bayi, ditulis oleh Miyoko Matsunani dan diterbitkan oleh Doshinsha Publishing pada tahun 1967; serta satu karakter kelinci mengenakan baju ajaib model terusan bermotif kembang-kembang dihadirkan oleh Kayako Nishimaki untuk melengkapi buku Watashi no Wanpisu (My Miracle Dress) yang diterbitkan Koguma Publishing pada tahun 1969.
singkat sekali lihat, entah bagaimana aku berkeyakinan kalau gambar-gambar tersebut pasti akan langsung disukai dan dipahami anak-anak usia kecil yang belum mampu membahasakan perasaannya secara gamblang.
karya berikutnya yang membuatku langsung teringat ajaran-ajaran Pak Fendi Siregar perihal sudut pandang pengambilan foto adalah dua bingkai buah gores Seizo Tajima, merupakan bagian dari kisah Fukimanbuku (Butterbur Flowers) yang ditulis pula olehnya dan diterbitkan Kaisei-sha pada tahun 1973.
tokoh utama dalam buku tersebut macam bangsa liliput dengan tubuh sebesar jempol tangan manusia biasa kurasa. lantas seladang daun-daun tanaman air yang masih anggota keluarga bunga aster di sana agaknya dapat diibaratkan sebagai wahana bermain/bertualang teramat sangat menyenangkan dan tak membosankan.
setelah sebentar mengambil jeda saat melihat tiga bingkai ilustrasi karya Yasunari Murakami yang menceritakan pengalaman kemping bersama keluarga di hutan – terangkum dalam buku Yokoso Mori e (Welcome to The Forest) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 oleh Fukutake Publishing – aku kembali terhenti cukup lama dan banyak menduga-duga di hadapan tiga bingkai ilustrasi buah gores Shinta Cho yang, ah, mungkin agak sedikit absurd awalnya.

Gomu Atama Pontaro (Pontaro, a Boy with a Rubber-head)
apa yang langsung terpikirkan bila kau mendapati sosok seperti manusia namun berkepala sempurna bulat dengan besar tidak proporsional tampak terapung di udara di atas permukaan air begitu luas, lalu beberapa waktu berikutnya sudah melintas sehamparan perbukitan dan pegunungan, kemudian penuh cemas tatkala kepalanya yang terus berada di bawah kaki terancam duri-duri tajam bunga mawar? akan cukup mampu mengarahkanmu pada apa/siapa sebenarnya tokoh Gomu Atama Pontaro (Pontaro, a Boy with a Rubber-head) itu kah?
belum selesai meredakan gempita imajinasi disebabkan sosok Pontaro, mata dan kepalaku sudah langsung diserbu goresan dua dimensi Yosuke Inoue yang entah kenapa bagiku kanak-kanak sekali. kedua bingkai gambar yang tersaji dalam dua bingkai tersebut menggenapi kisah Densha Ehon (Wacky Rail Rides) buatan Yosuke sendiri yang diterbitkan oleh Billiken Shokai pada tahun 2000.
tanpa berlama-lama di depan tiga bingkai ilustrasi milik Iku Dekune untuk kisah Māsha to shiroi tori(Marsha and the White Bird) yang ia tulis dan diterbitkan oleh Kaisei-Sha Publishing di tahun 2005 karena menurut perasaanku kesemuanya terlalu muram dan jauh berbeda dari karya kedelapan Ilustrator Cerita Anak Jepang lainnya, aku menghamburkan diri dan imajinasi di hadapan kesembilan gores khas Chihiro Iwasaki, dimulai dari ilustrasi berjudul Children Peeping through Hedge kesukaanku – bagian dari buku The Child Who Moved Next Door yang lahir kisaran tahun 1970 – dan berakhir saaaangat lama di hadapan Girl Wearing Brown Hat yang selanjutnya termahsyur sebagai sosok Totto-chan karena digunakan sebagai sampul buku kisah seorang gadis kecil yang memiliki kecenderungan kecerdasan berbeda pada zamannya tersebut.

Pameran Ilustrasi Buku Anak Indonesia dan Jepang
kalakian, bagaimana dengan karya-karya sejumlah Ilustrator Nusantara yang dipamerkan itu, Kuk? apa ada yang menarik hatimu sampai sedalam-dalam kau dapati sewaktu bertemupandang dan rasa dengan beberapa koleksi Chihiro Art Museum?
emmm, secara keseluruhan, tampilan grafis ilustrasi yang disajikan oleh para Ilustrator Nusantara lolos kurasi untuk pameran ini terbilang bagus, bahkan terlalu bagus. satu tipe dengan goresan Iku Dekune lah.
bila ditanya apa ada yang menarik perhatianku: ya ada. misalnya: Teman Baru Epi yang dihadirkan Nabilan Adani Purindra lesat membuatku tersentuh ketimbang Girl and Egg milik Yenna Mariana yang letaknya bersebelahan dengan Bunga Matahari Chihiro karena mungkin terasa lebih humanis bila disandingkan dengan satu yang imajinatif seperti itu; karya Aaron Randy sempat membuatku terpingkal karena dalam penerimaanku seluruh sosok Bayi-bayi Mamalia dan Burung yang berlarian terlihat sangat menggemaskan juga lucu hingga ingin rasanya dibawa pulang tanpa ragu; tiga sosok bocah yang rela berhujanan demi mengamati polah entah Ibu Itik/Angsa dan anak-anaknya atau seekor kodok/katak, masing-masing mengenakan jas hujan plastik dengan warna berlainan (hijau, merah, kuning) juga bisa membuatku tersenyum mafhum di penghujungnya.
tapi, jujur, tidak ada yang meninggalkan kesan sedalam Kucing Penikmat Musik, Inai Inai Baa, Liliput di Fukimanbuku, Pontaro, Kereta Api dengan jalur ajaib dalam Densha Ehon, dan gadis-gadis kecil yang kerap digambar Chihiro; padahal setiap tarikan garis, goresan, dimensi, serta pilihan warna yang dipakai cenderung bebas, sebebas terimaan lihatan mata dan pikir kanak-kanak, tidak terikat pakem-pakem lukisan realis yang biasanya punya celah hingga pikiranku terpancing membantah entah karena ketidaksesuaian logika atau sekadar beda pengalaman pandang mata; dimana kesemuanya itu (bagiku pribadi) sungguh teramat sangat-sangat-sangat membahagiakan selayaknya berhari-hari hidup bersama lautan dan aku tidak akan pernah berkeberatan akan itu semua selama-lamanya 🙂

Pameran Ilustrasi Buku Anak Indonesia dan Jepang

Pameran Ilustrasi Buku Anak Indonesia dan Jepang