Februari tahun ini ada dua pameran yang sama berlangsung di Bandung dan keduanya berhasil membuatku sangat bahagia.
- Pameran Ilustrasi Buku Cerita Buku Anak yang digelar di Galeri Soemardja, merupakan bagian dari rangkaian TaCiTa (Pesta Cerita Anak),
- Pameran Radio Antik yang digelar di Museum Kota Bandung dalam rangka memperingati Hari Radio Sedunia.
aku akan menceritakan kesanku selama menikmati karya-karya/koleksi-koleksi yang secara langsung kusaksikan dalam dua babak (artikel) terpisah.
mari kita mulai dengan apa yang terjadi padaku ketika berada di antara 41 buah radio yang bahkan lebih tua dariku usianya.
***
berawal dari sebuah ketidaksengajaan, aku mendapatkan informasi live perihal pembukaan Pameran Radio Antik melalui IG (Instagram) Story Gurilaps. karena sepanjang pengetahuanku acara macam ini amat jarang-jarang, tanpa ragu tanpa malu aku segera saja menghubungi kawanku si Asa (Surya Pagi Asa) yang kuduga pasti sedang berada di sana vi WA (WhatsApp).
Pameran Radio Antik.. radio-radionya boleh dipoto?
Kek nya boleh. Itu orang pada poto2. Hahaha.
berhubung bertepatan saat menanyakan itu (14 Februari 2019) kondisiku tidak memungkinkan untuk segera meluncur menuju lokasi pameran alias Museum Kota, aku kuat-kuat meniatkan untuk mengunjunginya selepas bertugas memotret untuk Kelompok Dongeng Bengkimut di hari terakhir pelaksanaan TaCiTa – yang ujung-ujungnya urung kesampaian karena ternyata-eh-ternyata aku tidak bisa tidak mengikuti sesi penutupan dan museum tujuanku keburu tutup sebagaimana jadwal – atau apes-apesnya mah mengejar hari terakhir lah.
iya, aku memang tidak mau melewatkan segala sesuatu hal yang memungkinkan aku dapat menikmati dengan saksama berbagai buah karya istimewa di tahun-tahun lama (sekira 1980 ke bawah) dengan mudah. alasannya sederhana: belum tentu aku akan bisa menyaksikannya dalam entah banyak entah singkat waktu ke depan.

Pameran Radio Antik – Museum Kota Bandung
kala kesempatan yang dinanti-nanti akhirnya datang, aku sempat berjibaku dulu dengan kemalasanku – ah, andai kau merasakan sendiri bagaimana adem dan mendungnya Bandung kemarin sangat mendukung pemuasan nafsu banyak-banyak rebah istirahat di rumah, hahaha – sebelum kemudian dengan tegas melecut diri untuk memesan jasa Ojek Online dan bergerak sebelum Matahari tepat di atas kepala.
setibanya di museum sekira pukul 11 siang, aku masih agak sedikit kecarian. di bangunan utama aku hanya menemukan pajangan linimasa memenuhi setiap sisi dinding dan tak ada tanda-tanda Radio Tua di sekitaran.
rupa-rupanya pameran yang aku tuju berada di lantai dua bangunan lain di area belakang. aku baru mendapatkan informasinya ketika kehadiranku (sebagai pengunjung pertama Museum Kota kemarin) menarik perhatian seorang petugas dan aku sigap memanfaatkan momentum dengan bertanya.

selamat datang di Pameran Radio Antik – Museum Kota Bandung!
aroma udara sontak bersilih berbeda begitu pintu ruang pamer yang berat itu kutarikbuka. dalam hitungan detik, saat kepala kulongokkan sebentar, bah! benar-benar lengang! kalau pun ada orang di sana, hem, sebilang dua insan dari Komunitas Radio Antik Bandung (KRAB) saja.
tanpa kebanyakan mikir kelamaan, aku mengikuti tuntunan tubuhku untuk berbelok ke arah-mana-saja-asal-bukan-kanan, bertemu muka dengan si Gatotkaca Philips BX638A, namun malah jatuh hati pada Pilot Mariner AC yang ada persis disebelahnya.
sekilas lihat, penampakan radio kayu kelahiran daratan Inggris Raya tahun 1951 tersebut mungkin biasa-biasa. tapi, bila diperhatikan lekat-lekat setengah bagian gelap di sisi depan, nah! di situlah menurutku letaknya pesona yang bikin aku macam ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’ – mungkin aneh bagi lain orang, tapi mau gimana lagi jika aku suka sekali detail-detail begini rupa?
tulisan Peru, Israel, China, Venezuela, Cairo, Ankara, Jerusalem, Calcultta, Tokio, Delhi, Moskva, Dacca, Vaticano, bahkan Korea melambungkan imajinasiku ke masa 27 tahun sebelum aku dilahirkan. betapa segala berita-berita dari setiap kejadian dekat kurun waktu tersebut telah tersebar sedemikian luas melebihi apa yang pernah aku bayangkan.

bagian Pilot Mariner AC yang membuat aku jatuh hati seketika
keasyikansendiri-ku tidak terhenti selepas 7-8 menit pertama berpuas-puas di hadapan koleksi pribadi Kang Rahmat – seperti itu terbacanya dalam kertas informasi yang menyertai si Pilot. meski muskil mencukupkan kunjungan sekadar satu jam – yah, rada tergesa sebab sudah ada janji berikutnya – aku enggan peluang terbaikku kalas sia-sia. penuh semangat aku memutari ke-39 Radio Tua satu per satu bergiliran, memenuhi hasratku mengamati detail-detail luar tubuh mereka sembari lupa sekitaran.
ada temponya aku balik berlari ke titik-titik sebelumnya cuma untuk memastikan bahwa logo Philips itu tidak berubah seiring zaman. ada temponya dahiku mengernyit tebal, dalam hati bilang “kok bisa ya kepikiran?”, begitu saling tatap dengan Tesla Talisman 308U yang mengingatkanku pada vespa milik Papa. ada temponya aku cekikikan sendirian gara-gara teringat wajah Wall-E kala berhadapan dengan Philips B3X96A atau malah kerabat Transformer-nya Optimus Prime sewaktu memperhatikan Philips BIN326U juga Philips 333A yang maujud pada kisaran tahun 1952 dan 1936. paling jelas, hem, ini dia: aku tidak luput mendokumentasikan bagian belakang Ralin M392BT yang asli buatan Indonesia tahun 1965 semata karena tertarik dengan stiker STOP memudar – terima kasih banyak untuk kedua bapak yang pasti merupakan anggota KRAB lantaran sudah membantu membalikkan tubuh radio kayu yang ingin kulihat bagian belakangnya itu, heuheuheu.

tampak belakang Radio Ralin M392BT

tampak depan Radio Ralin M392BT

si kok-mengingatkanku-pada-Wall-E Philips B3X96A

si kok-mengingatkanku-pada-Transformer Philips BIN326U

Tesla Talisman 308U yang mengingatkan pada vespa si Papa
60 menit ku di Museum Kota rasa-rasanya betul-betul kumanfaatkan dengan maksimal. walau ada pernik dari ke-41 Radio Tua tersebut yang (kuyakin) terlewat, hati ini entah kenapa menggaungkan sekata ‘puas’ belaka.
airmuka ku kemarin itu kuduga keras berona bahagia merata. hingga “terima kasih” berlipat-lipat ganda lah saja yang kupikir sudah sepatutnya dihadiahkan bagi semua pihak yang memungkinkan hal tersebut terjadi tanpa halangan.
lantas, kira-kira nih ya, bulan-bulan mendatang di Bandung akan ada pameran menarik, mengenyangkan, menyenangkan apa? aku penasaran. inginnya sih berkesempatan lagi menyaksikan lebih banyak.
iya! 😀

suasana ruang Pameran Radio Antik – Museum Kota Bandung

suasana ruang Pameran Radio Antik – Museum Kota Bandung