Garis-garis penanda keberadaan sinyal telekomunikasi satu demi satu menghilang. Kalau sudah begitu artinya pergerakan saya semakin menjauhi peradaban. Aroma hutan yang lekat. Suara sunyi yang memadat. Sebentar sempat saya menengadah dan matahari terlihat samar disembunyikan awan. Tidak, itu tidak sama artinya dengan pertanda untuk berbalik arah dan pulang. Udara yang mengalir malah terasa semakin hangat. Sepasang telapak kaki yang telah berbalut merah coklat lumpur semakin mantap saja terus saya langkahkan ke arah aliran Aek Kaman Basah yang sudah terlihat di depan. Air sungai kecil itu akan menyucikan sebelum lebih dari belasan anak tangga dilalui untuk sampai di gerbang Gua Harimau.

Pertengahan Desember 2014 belum jauh dilewat. Pagi hari itu tepat saya ingat sebagai tanggal tujuh belas. Tanpa membiarkan terlebih dulu tubuh merebahletih di atas kasur busa dalam sebuah kamar inap sederhana seusai perjalanan panjang, saya sudah memutuskan untuk kembali bergerak menjauhi pusat kegiatan Baturaja. Padahal ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tersebut baru saja menyampaikan selarik “selamat datang” di kisaran pukul sembilan.
Bagi kalangan penggemar batu mulia, Baturaja sudah tak asing di telinga. Kota yang berjarak sekitar 200 km arah barat daya Palembang tersebut (dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum berupa bus atau kereta api dalam waktu sekitar lima jam perjalanan) bahkan telah diperkenalkan sebagai Lumbung Batu Manikam Indonesia.
Tapi bukan pasal batu mulia itulah yang membawa saya jauh-jauh datang, menempuh perjalanan darat (menggunakan bus) dan laut (memanfaatkan kapal penyeberangan antar pulau) selama belasan jam. Sama sekali bukan.
Tujuan utama perjalanan tunggal saya kali ini adalah untuk singgah ke Padang Bindu, sebuah desa di Kecamatan Semidang Aji yang masih merupakan bagian dari Kabupaten OKU, berjarak sekitar 35-40 km dari kota Baturaja (membutuhkan waktu 45-60 menit berkendara), sekitar 1 km dari Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Baturaja dan Muara Enim. Ada gua karst yang menarik perhatian saya di sana.
Namun, sepagi ini sudah harus terjadi perubahan rencana. Saya tak jadi menggunakan angkutan umum melainkan memanfaatkan jasa Ojek yang lebih mudah ditemukan di banyak sudut area Baturaja. Keputusan itu tidak diambil dengan gegabah. Saya tak melihat ada banyak mobil-mobil yang bisa didefinisikan sebagai angkutan umum lalu-lalang sejak datang. Belum lagi ada tambahan informasi dari Bang Romli dan Bang Rudi yang menerima saya bermalam sebagai tamu di Penginapan Silabung. “Ada mobil umum lewat sini. Biasanya yang warna putih. Tapi harus turun di pinggir jalan besar nanti, harus jalan lagi, tak ada yang lewat langsung Gua Harimau atau Gua Putri. Masalahnya, mobil itu pun jarang-jarang. Harus tunggu lama. Ya macam itulah di Baturaja. Ojek lebih terkenal. Bisa antar ke mana-mana.”
Maka, meski agak berberat hati karena harus kehilangan kesempatan berinteraksi dengan masyarakat lokal di angkutan umum, saya mencoba berdamai dengan keadaan. Segala keuntungan dan risiko yang melekat dengan cepat dipikirkan. Kebetulan pengojek yang mengantarkan saya ke penginapan dari kantor agen bus Kramat Djati masih belum menghilang pergi. Saya segera memaparkan maksud. Kami bernegosiasi.
Tak ada harga ditetapkan. Bang Wawan yang saya gunakan jasanya itu hanya mensyaratkan biaya pengisian bahan bakar menjadi tanggung jawab saya selama perjalanan. Masalah seberapa besar jasa kawalan yang sepaket dengan jasa antar itu akan dihargai pun diserahkan dalam kalimat, “Seiklasnya kamu saja berapa. Tak ada baiknya saya kasih harga tapi nanti kamu malah tidak iklas memberinya.”.
Sungguh, bagi seorang pejalan yang seringnya mengandalkan anggaran pribadi seperti saya, hal semacam ini dapat dikategorikan sebagai rezeki berlimpah tak terduga. Betapa tulusnya dukungan Semesta Raya.
Tak sampai jutaan menit kemudian saya sudah ikut melaju bersama motor Bang Wawan. Bergantian disuguhi rimbun pepohonan, rumah-rumah panggung kayu yang didominasi warna coklat, dan bentangan sungai Ogan di kiri jalan mulus beraspal. Sesekali laju motor berkurang bila berpapasan dengan kawanan kambing yang menyeberang macam tak punya kekhawatiran pasal lalu lalang kendaraan. Satu hal lain yang paling saya nikmati adalah aroma manis yang menyeruak bebas hambatan. Kuat dugaan berasal dari buah duku dan durian yang dijajakan di beberapa sudut Jalan Lintas Sumatera menuju Padang Bindu.

Hingga saat ini, Gua Harimau masih berstatus sebagai situs yang sedang diteliti oleh Pusat Arkeologi Nasional, bukanlah sebuah kawasan wisata terbuka sebagaimana Gua Putri yang terletak tak sampai satu kilometer jauhnya. Tercatat sebanyak 78 kerangka ras Mongoloid (yang dikuburkan berkelompok atau berpasangan) dan beraneka ragam peralatan (seperti: alat tumbuk, alat pipisan, serpihan batu obsidian, dan logam) telah ditemukan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Gua Harimau pernah menjadi satu dari puluhan rumah tinggal (baca: gua) yang ada di kawasan hunian prasejarah tersebut sekaligus berfungsi sebagai pekuburan massal.
Bukan tanpa sebab sejak tahun 2007 (tahun masuknya dalam Peta Penelitian Arkeologi Prasejarah Indonesia) gua itu dinamakan Gua Harimau. Lokasi yang tersembunyi di lereng perbukitan karst, dilindungi gerombolan pepohonan dan belukar, serta dimakmurkan aliran sungai kecil yang bermuara di Sungai Ogan (dikenal dengan nama Aek Kaman Basah), menjadikannya diminati oleh kawanan Panthera tigris sebagai tempat untuk tinggal. Dulunya tak ada seorang pun berani mendekat. Mereka takut tak selamat. Namun seiring bergulirnya masa, keadaan berubah. Masyarakat yang tinggal di Padang Bindu kini berbalik ramah bersedia mengantarkan sesiapa saja yang ingin melihat-lihat. Tampaknya keberadaan para arkeolog yang mondar-mandir kawasan tersebut telah berdampak pada kehidupan mereka. Termasuk bertambahnya pengetahuan tentang tinggalan prasejarah berharga sehingga mereka bisa pula banyak bercerita.
Jalan setapak menuju Gua Harimau dapat ditemukan setelah berbelok ke arah kiri dari jalur utama Lintas Sumatera mengikuti papan penanda hijau bertuliskan ‘Obyek Wisata Gua Puteri’ yang terlihat jelas. Jembatan pertama yang dilalui membentang di atas aliran sungai Ogan. Ada baiknya berhenti sebentar di lajur kiri dan perhatikan dengan saksama sebuah batu (dugaan: batu kapur) tegak bermahkota tumbuhan liar. Batu tersebut dikenal sebagai Batu Dayang Merindu, seorang puteri yang dikutuk oleh Pangeran Serunting atau lebih dikenal dengan julukan si Pahit Lidah, salah satu tokoh legenda tanah Sumatera.
Dari jembatan besar tersebut, teruslah berjalan hingga bertemu dengan jembatan kedua yang berukuran lebih kecil. Berbeloklah ke arah kiri, ke arah jalan tanah, ikuti hingga dalam kisaran 100-200 meter menemukan rumah kayu yang berada di sebuah pertigaan.
Meski Gua Harimau bukanlah destinasi pilihan wisatawan yang pada umumnya singgah ke Padang Bindu, ternyata penghuni rumah kayu tersebut sudah biasa disinggahi, ditanyai, dan dititipi motor oleh sesiapa saja yang hendak bertandang ke sana. Bahkan anak-anak pemilik rumah tersebut pun sudah dibiasakan untuk mengantarkan para pengunjung agar jangan sampai tersesat selama sekitar 20 menit berjalan.
Ketika kaki-kaki saya keluar meninggalkan aliran Aek Kaman Basah, sedikit kembali bersentuhan dengan tanah lunak untuk kemudian menapaki anak tangga, ada terdengar auman harimau di telinga. Sontak mendongak, mulut gua kapur di depan mata malah terlihat seperti seringai ramah. Tak urung saya menyambut dengan senyum juga. Begitu gerbang besi berwarna kusam dibuka, sepasang telapak kaki sudah disambut kering tanah pasir coklat muda.
Sempat ada perasaan tak nyaman saat berhadapan dengan kerangka-kerangka terbuka. Lebih tak nyaman lagi manakala semakin jauh mata menyelidik dengan rinci setiap lekuk peti-peti kayu yang rapi ditempatnya. Stalaktit dan stalagmit bahkan seperti terlalu banyak berahasia. Setelah mengambil beberapa gambar menggunakan kamera dari jarak cukup dekat, saya segera beralih ke arah lain. Pemandu kami (saya dan Bang Wawan), seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama, memberi tanda untuk mendekat ke arah lain sudut gua. “Yuk, di sini yang ada gambarnya.”, dan mendekatlah saya bergegas – ‘Yuk’ atau ‘Ayuk’ = kakak perempuan (dalam bahasa Palembang).
Perlu sedikit usaha menaiki batuan sebelum dapat dengan jelas melihat keberadaan gambar cadas berwarna merah di sisi timur laut dinding gua. Kabarnya warna merah tersebut berasal dari getah tumbuhan. Namun, berbeda dengan apa yang pernah saya lihat di beberapa gua prasejarah di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan, bukan gambar telapak tangan atau binatang yang ditemukan; melainkan beberapa kelompok guratan perpaduan garis lurus dan lengkung beraturan, membentuk semacam motif geometris. Jika dugaan bahwa jejak-jejak itu benar adanya merupakan penanda ritual penguburan yang berlangsung berkali-kali di Gua Harimau, maka sungguh itu jejak yang menurut saya tak hanya cerdik namun juga sangat cantik.
Bagaimana pun perlu tetap diingat, sebelum manusia mengenal dan semakin intens berkomunikasi dengan aksara, gambar sudah terlebih dulu menjadi media untuk menyampaikan ide atau gagasan. Dan temuan gambar cadas di kawasan Sumatera Selatan tersebut telah meruntuhkan anggapan bahwa Indonesia Barat tidak mengenal tradisi lukisan gua yang merupakan warisan budaya gambar manusia paling tua sebagaimana halnya kawasan Indonesia Timur dan Tengah.

Garis-garis penanda keberadaan sinyal telekomunikasi sama sekali tak menampakkan kemungkinan saya bisa bersentuhan dengan peradaban. Aroma bebatuan tua dengan sedikit campuran guano yang samar menguasai ruang pernafasan. Saya merasa perlu berdiam sebentar, duduk menelan bermenit-menit waktu sembari memuaskan hati mendengarkan suara sunyi yang ditimpali gemericik air sungai. Rasanya ada sebuah sonata yang digemakan dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Di sini, di ruang Gua Harimau.
Feature ini telah dimuat pada Majalah GeoMagz Volume 5 Nomor 1, Maret 2015 yang diterbitkan oleh Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral