heritage: Museum Kereta Api Ambarawa – Koleksi Lokomotif Tua

Stasiun tua berusia 141 tahun yang masih terawat

Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Museum Kereta Api Ambarawa

Ada yang berbeda hari itu di pelataran Museum Kereta Api Ambarawa, Semarang. Penyebabnya bukanlah semata kehadiran sekelompok pengunjung berkamera (termasuk saya), melainkan juga debu-debu putih di lembar daun kelengkeng, rerumputan, dan permukaan lokomotif-lokomotif tua yang ditempatkan di ruang terbuka. Tidak ada penyambutan istimewa selain kesibukan para petugas museum membersihkan debu letusan Gunung Kelud yang dibawa angin hingga ke Ambarawa.

Satu hal tak lazim lainnya yang terjadi kemudian adalah pemandangan kami sebagai pengunjung mengenakan penutup mulut dan hidung yang dibeli dalam perjalanan menuju museum, sembari tetap berusaha menikmati dan merekam sudut-sudut menarik.

Sejak pertengahan 2013, museum yang berlokasi di pusta Kota Ambarawa atau sekitar 15 kilometer dari Ungaran, Kabupaten Semarang, dan 35 kilometer dari Kota Semarang ini memang tidak lagi terbuka untuk umum. Namun kunjungan masih tetap dimungkinkan jika sebelumnya telah menghubungi langsung pihak pengelola dan mengajukan surat permohonan secara resmi. Sebelum ditutup, museum ini melayani perjalanan wisata menggunakan kereta atau lori dengan trayek Ambarawa-Bedono. Waktu tempuh menuju Stasiun Bedono sekitar 1 jam untuk 35 kilometer dengan sajian panorama lembah hijau antara Gunung Ungaran dan Merbabu di sepanjang lintasan.

Ada juga rute Ambarawa-Tuntang dengan jarak ke Stasiun Tuntang relatif dekat, hanya 7 kilometer. Di sepanjang lintasan akan ada suguhan lanskap sawah dan ladang berlatar Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, serta Rawa Pening.

Untuk menikmati kedua perjalanan singkat tersebut, masing-masing penumpang dikenai biaya Rp 50ribu (kereta wisata) dan Rp 10ribu (lori).

Museum Kereta Api Ambarawa

Awalnya, lokasi yang ditempati dan menjadi Museum Kereta Api ini stasiun tua yang dialihfungsikan. Dibangun semasa pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Mei 1873 atas perintah Raja Willem I, stasiun tua yang berusia 141 tahun itu tampak begitu terjaga kecantikannya. Pada 1970, setelah sebuah gempa besar, stasiun ini ditutup dan mengakibatkan putusnya lalu lintas kereta antara Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Pada 1976, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Roestam, mengubah fungsi Stasiun Willem I sebagai museum.

Koleksi yang dimiliki oleh Museum Kereta Api Ambarawa tak kalah menariknya. Di halaman menuju bangunan utama stasiun, tampak beberapa lokomotif uap yang sudah tidak beroperasi, seperti B2510 (produksi Hartmann tahun 1911, awalnya bertugas di Stasiun Cirebon untuk perjalanan menuju Tegal, Purwokerto, dan Kudus), BB1012 (produksi Hartmann, 1906, awalnya bertugas di daerah Banjar untuk perjalanan ke sekitar Cijulang dan Rangkasbitung), dan B2014 (produksi Bayer Peacock, 1905).

Di sisi kanan bangunan Stasiun Willem I ini berderet pula beberapa lokomotif tua lain. Di sisi kiri, tampak bergandengan gerbong kereta kayu bernomor GW152002 dengan gerbong bernomor GW152013 dan gerbong terbuka di atas rel. Jika berjalan berbalik arah melintasi lingkaran besar turntable (perangkat untuk memutar arah jalan lokomotif), pengunjung akan melihat pula garasi terbuka yang dipenuhi beberapa lokomotif dan gerbong kereta api tua. Sebut saja Boni (lokomotif uap bernomor B2502) dan Bobo (lokomotif uap bernomor B2503). Keduanya diproduksi oleh Esslingen – perusahaan teknik Jerman yang khusus memproduksi lokomotif, trem, kereta api, dan peralatan atau perangkat pendukung jasa kereta api – pada 1902.

Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa


Media: Travelounge edisi Mei 2014