teks dan foto: Ayu Wulandari
Empuk tingkahan suara Ella Fitzgerald menyanyikan Hard Hearted Hannah bertepatan dengan tibanya mobil yang saya dan kawan-kawan tumpangi di sebentangan sabana. 45 menit berkendara jaraknya dari gerbang utama sebuah kawasan konservasi yang berada di ujung timur pulau Jawa. Seucap sambutan dihadiahkan oleh pohon Widoro Bekol yang berada di sisi kanan jalan. Penyandang marga Ziziphus tersebut segera saya kenali sebagai sesosok penanda spot pendokumentasian gambar terbaik – karena dapat dikategorikan amat fotogenik berpadu hamparan padang rumput menguning yang di lain waktu (saat musim basah) akan merata hijau – yang telah termahsyur di dunia maya. Bila cukup awas, rangkaian ranting dan dedaunan pemilik nama lain Kalangga atau Rangga ini pun sangat elok ketika digunakan untuk membingkai Gunungapi Purba Baluran yang tegak tepat di barat.

Selamat datang di Taman Nasional Baluran. Selamat datang di salah satu kawasan lindungan World Conservation Union yang berada di ujung timur pulau Jawa; secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Situbondo (Provinsi Jawa Timur). Tepatnya terletak di Kecamatan Banyuputih; dimana sisi timur-nya berbatasan dengan Selat Bali, sisi selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati (Desa Wonorejo), sisi barat berbatasan dengan Sungai Klokoran (Desa Sumberanyar), dan sisi utara berbatasan dengan Selat Madura.
Untuk mencapai kawasan konservasi seluas 25.000 hektare yang secara geografis terletak antara 7°45’ – 7°15’ Lintang Selatan, dan antara 114°18’ – 114°27’ Bujur Timur itu, apabila perjalanan dimulai dari Kota Surabaya maka akan dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam perjalanan darat dengan rute: Surabaya – Sidoarjo – Pasuruan – Probolinggo – Situbondo – Taman Nasional Baluran, sementara apabila memulainya dari Banyuwangi akan lebih singkat dan hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam saja melintasi jalan utama pesisir utara. Tidak perlu khawatir gerbang utama taman nasional akan terlewat. Posisinya tidaklah tersembunyi sebab berada tepat pada ruas utama Jalan Raya Situbondo – Banyuwangi.
Kira-kira lima kilometer pertama dari gerbang utama, tepat ketika pandangan di depan mata mulai diteduhkan naungan tumbuhan hijau di kiri-kanan lintasan, cobalah untuk mengatur laju kendaraan dalam kecepatan sedang. Anda memasuki kawasan yang dikenal sebagai Hutan Evergreen (hijau sepanjang tahun). Beragam salam sapa boleh jadi tak hanya akan disampaikan oleh lelambaian dedaunan yang tampak, melainkan juga dari para ayam hutan yang lalu-lalang suka-suka. Anggaplah kesemuanya itu sebagai hidangan pembuka sebelum bertemu dengan keindahan berikutnya yang ada di kilometer ke-12.
Seusai menghabiskan sedikit stok ruang kosong di kartu memori kamera dan mengabadikan diri di awalan Sabana Bekol (yaitu di selingkung pohon Widoro Bekol yang ramah sebagaimana dikisahkan pada bagian pembuka), berdasarkan tinjauan singkat mengandalkan mata telanjang, sekira kurang dari satu kilometer melanjutkan perjalanan masih ke timurlaut, berderet beberapa bangunan kayu yang bisa dipastikan merupakan akomodasi yang disediakan oleh pihak taman nasional. Tidak akan pernah salah jika memutuskan untuk meneruskan menuju tempat tersebut berjalankaki. Anggap saja melancarkan peredaran darah setelah duduk lumayan lama dalam kendaraan. Belum lagi sejauhjauh pandang dilepaskan akan amat jelas terlihat permadani rumput setengah mengering tergelar menutupi lantai sabana.
Namun, jangan salah. Berhati-hati melangkah tetaplah mutlak. Permadani istimewa nan hijau kekuningan itu tak sepenuhnya bebas dari jejak-jejak flora-fauna lain yang sama berumah di Baluran. Selain keberadaan beberapa bunga putih dan kuning penyendiri yang penyangga tumbuhnya tak lebih dari kisaran 5-10 cm, tidak terlalu sulit untuk menemukan onggokan coklat kehitaman kotoran kerbau liar tersebar acak.
Selagi asyik menyusuri datar bentangan sambil sesekali sengaja memutar badan agar mendapatkan gambaran panorama 360 derajat, tiba-tiba terlihat seekor burung dengan ekor macam kipas bulu terlipat panjang menjuntai mendarat di sisi lain sabana. Berhubung tak membawa teropong, mau tak mau saya memanfaatkan kemampuan lensa kamera. Terkejutlah saya kemudian karena mengenali sosok satwa liar yang tengah melenggang tanpa canggung itu sebagai Merak Hijau, satu dari tiga spesies burung merak yang ada di dunia.
Di Indonesia mereka hanya hidup di pulau Jawa; yaitu tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Alas Purwo, dan Taman Nasional Baluran. Oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) burung berbulu indah ini sudah menyandang status terancam punah. Sementara menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wildlife Fauna and Flora) mereka dimasukkan dalam kategori Appendix II yang berarti perdagangannya harus dikendalikan dan berada dalam pengawasan.
Meski begitu Pavo muticus yang terbiasa hidup di alam bebas bukanlah tergolong satwa mudah untuk didekati apalagi dipotret dari jarak dekat. Perlu keahlian menyaru dan mengendap-endap amat lihai. Selazimnya burung, Merak Hijau memiliki indera penglihatan dan pendengaran amat peka. Paling tidak saya sudah membuktikannya sendiri dan anehnya malah berujung bahagia. Kendati sudah berusaha sehalus mungkin bergerak, pergerakan itu rupanya masih terlalu kasar hingga burung merak yang saya incar sontak tegak lantas berlari kencang dan terbang masuk sembunyi ke rimbunan hutan. Tak ada satu foto berhasil diperoleh akhirnya. Tetapi saat itu sukses menjadi kali pertama saya melihat langsung bahwa merak bisa terbang.
Ya, ternyata Merak Hijau merupakan penerbang terbaik jika dibandingkan dengan dua spesies lainnya, yaitu Merak Biru (Pavo cristatus, dikenal juga dengan nama Merak India) dan Merak Kongo (Afropavo congensis).
Senyampang ujung petang belum kehilangan benderang, menara pandang adalah tujuan selanjutnya. Sempat jumawa di awal semua akan enteng dilewati, apa daya kesombongan itu meluntur tatkala mendapati bukan hanya satu-dua monyet liar sigap mendekat dari berbagai arah mengincar pemberian makanan karena mereka tampak mulai terbiasa diberi makanan oleh pengunjung. Tidak hanya itu. Estimasi waktu saya makin jauh meleset seiring anak tangga yang berjumlah lebih dari belasan pada rute menanjak. Tak melampaui 500 meter memang. Tapi tetap saja lebih dari lumayan. Termasuk masih harus memanjat tanggak besi nyaris tegaklurus agar dapat mencapai puncak menara.

Apa yang bisa dinikmati dari Menara Pandang Bekol? Pastinya utuh sabana berikut jalan lintas pemandangan beserta kaki langit yang disangga Gunungapi Baluran dan beralas laut pada arah berlawanan. Sekiranya ingin leluasa beroleh fajar dan senja yang cantik entah untuk diabadikan kamera atau sekadar disimpan dalam ingatan mata, maka amat memungkinkan. Oleh sebab tidak membawa alat penerangan pribadi, saya memutuskan tak berlama-lama di menara yang mengasyikkan dalam ketidakleluasaan geraknya. Agak sedikit berkejaran dengan waktu demi mendapatkan sudut pengambilan gambar yang bagus dengan hasil sebisanya memuaskan. Sayang langit pada penghujung hari terang itu sama sekali tak disurih jingga senja kala. Adanya cuma sejumlah kerbau liar termata-mata lena di tengah sabana mengabaikan gelap yang mulai menyungkup terbuka rumah mereka.
Sebagaimana disepakati bersama, saya dan rombongan bermalam di salah satu wisma yang tersedia di sekitar Sabana Bekol. Tadinya kami pun bermaksud untuk bersafari malam menggunakan mobil agar dapat bertemu dengan lebih banyak satwa liar dibanding pada saat sore. Apa mau dikata, eh, turunlah hujan deras selepas makan malam yang berhasil mematahkan semangat dan membuat rencana dibatalkan sebab semakin ditunggu semakin tak kunjung reda. Sebelum pergi tidur, kesepakatan baru dibuatlah. Besok pagi kami akan bangun lebih awal. Target terbarunya adalah mencerap warna-warni rona pagi sejak mulai merekahnya seiring kuat aroma laut di Pantai Bama.
* * * * *
Kucuran air dari angkasa rupanya bertahan lebih lama dari perkiraan. Walau pada akhirnya beralih jadi rintik-rintik cukup tipis dan kecil ketika terang mulai mengembang, lagi-lagi apa yang telanjur diangan-angankan terpaksa direlakan. Rombongan terpecah kemudian menjadi dua: satu meneruskan berkelung di tempatnya masing-masing memilih tidur, satu lainnya bergerak menuju Menara Pandang dengan harapan akan ada panorama berhias lembayung fajar bisa didapat meski sekelumit.
Hasilnya? Ah, kue lapis fajar! Tak ada tangkapan lebih baik lagi ketimbang apa yang tersaji di depan mata. Jingga menjadi lapisan ketiga setelah awan gelap nyaris hitam dan awan kelabu relatif muda yang berada tepat di atas garis permukaan laut. Ternyata hujan pun mengguyur perairan Bali pagi itu.
Sesampainya kembali di penginapan, pilihan terbaik untuk dilakukan sebelum kawan-kawan yang tidur terbangun menurut saya adalah membuat teh panas, duduk di teras, dan menghabiskan sisa pagi tanpa terburu-buru. Suara ayam hutan nyaring menyahuti riuh ocehan beragam kawanan burung yang secara konstan dilatari nyanyian jangkrik dan sesekali ditimpali pekik rusa juga lenguh kerbau bahkan kerisik jejak gerak mereka semata terasa sebagai sebenar-benarnya kebebasan yang mengudara di seantero sabana tanpa sedikit pun menyakitkan telinga; dapat diterima seperti paduan nada harmoni yang riang menenangkan, di banyak detik malah membuat asyik terlarut, sesekali diselingi senyum-senyum, lantas berandai-andai bisa tinggal lebih lama di kawasan konservasi tersebut.

Pukul sembilan, usai melapik perut dan berbincang-bincang dengan petugas taman nasional yang menyambangi wisma, kawan-kawan rombongan impulsif saja bermaksud melihat Taman Nasional Baluran dari sisi berbeda sebelum kembali ke Surabaya. Hujan sudah lewat, langit kembali cerah dengan biru melambailambai, benar-benar membuat saya susah untuk menolak. Kabarnya di sekitaran Pos Karangtekok yang berada sekitar 24 kilometer di barat gerbang utama kawasan terdapat sebaran batuan lava yang akan mudah sekali ditemukan, begitu pun di sepanjang perjalanan menuju Watunumpuk yang berada di kaki ketiga puncak Gunung Baluran (yaitu: Aleng, Gede, dan Klosot). Hal lain yang tak kalah menarik adalah bahwa di sana pun saya akan dapat dengan lebih leluasa mengamati apa penyebab akasia berduri tumbuh memenuhi sudut-sudut Baluran sangat cepat.
Acacia nilotica dalam lima dekade terakhir dinyatakan sangat mengancam keberlangsungan karakteristik asli Taman Nasional Baluran. Jika awal penanamannya ditujukan sebagai sekat api untuk mengendalikan kebakaran di area sabana tiap tiba musim kemarau, kini tanaman tersebut justru telah menutupi hingga mencapai sekitar 6.000 hektare kawasan. Belakangan diketahui bahwa akasia berduri merupakan spesies perintis yang tumbuh relatif gesit di tempat gersang. Tidak hanya ketersediaan air dan paparan sinar matahari yang mencukupi saja yang kemudian membuatnya senang hati merebak, hewan-hewan liar dan ternak domestik pun kiranya ambil peran. Polong-polong akasia yang konon mengandung tinggi karbohidrat dan protein itu digemari para herbivora yang bebas berkeliaran di Baluran. Karena mereka tak kenal aturan selayaknya manusia setiap kali berkepentingan buang hajat, kotorannya yang mengandung biji akasia tersebar di mana-mana. Itulah kemudian yang membuka jalan bagi tumbuhan invasif ini merajai sabana.
Program pembasmian Acacia nilotica sampai saat ini masih terus diupayakan. Ketika penebangan diperkirakan tidak sepenuhnya dapat mendukung – sebab untuk menebang satu hektare akasia saja membutuhkan kuranglebih dua hari dengan melibatkan 20 orang tenaga kerja – pihak pengelola kawasan konservasi mulai dibantu dan melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat setempat mengingat hingga akhir tahun 2017 baru satu per limabelas area invasi berhasil dibebaskan.
Media: Buletin Geologi Tata Lingkungan Vol 28 No 1 Mei 2018