destination: Menanti Pagi di Papandayan

Musim yang sepi dari hujan selalunya menjadi saat yang paling digemari oleh para penikmat alam bebas. Entah berkelompok atau sendirian, entah dikombinasikan atau tidak dengan beberapa perayaan kecil maupun besar, perjalanan-perjalanan mendekat ke alam acapkali menempati urutan pertama dalam agenda kegiatan akhir pekan. Belum lagi, Indonesia dapat dikatakan sebagai semacam surga untuk memenuhi kebutuhan macam itu. Dan Agustus lah yang lazimnya menjadi primadona dibanding bulan-bulan lainnya mengingat Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia berada di tanggal 17.

pagi di papandayan

Tanpa bermaksud merayakan apa pun, Agustus pula lah yang menjadi pilihan saya dan beberapa orang kawan untuk bertandang ke Papandayan. Sebuah gunung api aktif berketinggian 2.665 m. dpl. yang secara administratif tercatat sebagai bagian dari Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat; berjarak sekitar 70 kilometer sebelah tenggara Kota Bandung. Dalam sejarahnya, Papandayan telah mengalami beberapa kali letusan, yaitu pada: 12 Agustus 1772, 11 Maret 1923, 15 Agustus 1942, dan 11 November 2002. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, status yang disandang oleh gunung api strato tipe A tersebut tak jauh-jauh dari Level II (Waspada) dan Level III (Siaga). Namun, meski kenyataan yang ada demikian, ternyata Papandayan tak lantas ditakuti orang. Hal tersebut secara eksplisit terlihat dari antusiasme warga sekitar yang menyambanginya di akhir pekan. Mereka akan mudah sekali dibedakan penampilannya jika dibandingkan dengan para pengunjung yang khusus datang untuk berkemah dan melakukan pendakian. Hingga di hari kedatangan (yang juga merupakan hari kepulangan) saat itu, bagi saya, berkunjung ke Papandayan jadi tak ubahnya singgah datang ke taman-taman teduh atau pusat keramaian. Bisa jadi hal tersebut dikarenakan ia memiliki jalur yang cenderung ramah bagi siapa saja.

Saya tidak tahu persis berapa derajat Celcius suhu udara ketika lepas pukul dua dini hari minggu keempat Agustus lalu saya dan kawan-kawan menginjakkan kaki di pelataran parkir Gerbang Cisurupan. Dalam gelap gulita dengan tak banyak bantuan penerangan, beberapa mobil yang diparkir di sana tampak kacanya berembun. Rerumputan dan gerumbul tanaman di sekitar tampak pula basah. Meski angin yang menyambut tak terlalu kencang, tak butuh waktu sampai lima menit, sepasang telapak tangan yang awalnya telanjang bergegas saja diselamatkan kehangatannya dengan sarung tangan wol tebal. Setelah bertemu dengan pemandu untuk menihilkan kemungkinan tersasar dalam perjalanan (tarif jasa yang diberlakukan bagi pengunjung lokal sebesar Rp 150.000 per hari; sedangkan untuk pengunjung asing akan dikenakan tarif jasa sebesar Rp 350.000 per hari) dan membayar tiket masuk seharga Rp 7.500 per orang (catatan: tarif tersebut adalah tarif masuk yang berlaku di akhir pekan untuk pengunjung lokal, bagi pengunjung asing, tarif masuk yang berlaku adalah Rp 150.000 per orang) kami pun memulai pendakian dari Camp David yang berada pada kisaran ketinggian 1.800 m. dpl. Gemerisik segera terdengar melumat kesunyian pukul tiga dini hari itu. Medan awal yang kami temui adalah medan landai tanah berpasir dengan ramai sebaran pelbagai ukuran batu.

Gunung Papandayan pertama kali dibuka sebagai destinasi wisata pada 28 Desember 1935 sebagai buah upaya komunitas bernama Bandoeng Vooruit yang memfokuskan diri pada pengembangan pariwisata Bandung masa itu. Jalan akses sepanjang tujuh kilometer dari Perkebunan Sedep menuju kawah Gunung Papandayan dibangun untuk memudahkan dicapainya titik ketinggian 2300 m. dpl. bahkan dengan mobil. Namun, jauh-jauh masa sebelumnya, Papandayan pun telah pula disinggahi oleh Bujangga Manik, putra mahkota Kerajaan Sunda yang memilih berkehidupan sebagai petapa pengelana. Dalam catatannya yang sejak tahun 1627 telah tersimpan di Perpustakaan Bodleain Oxford, ia ada menuliskan bahwa dari gunung yang disebutnya sebagai panenjoan (dalam bahasa Sunda berarti tempat untuk melihat dengan lebih leluasa) itu ia dapat memandang satu demi satu pegunungan di sekelilingnya. Bukan hanya meliputi Cikuray, Galunggung, Talagabodas, Slamet, Cereme, bahkan Guntur yang terdekat; melainkan juga meliputi wilayah yang lebih jauh seperti Cina Jambudwipa, Gedah dan Malaka, Bandan Tanjungpura, dan beberapa lainnya lagi.

“Mang Ayi, ti lebah mana tiasa jelas ningali gunung-gunung?”, salah seorang kawan bertanya pada pemandu yang menyertai kami setelah sekitar 15-20 menit kami berjalan. Iya, dia menanyakan di mana kiranya kami bisa dengan leluasa melihat gunung-gunung lain sebagaimana dikisahkan Bujangga Manik. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk beberapa jam ke depan, saat matahari terbit nanti. Dan tanpa banyak bicara tak perlu, Mang Ayi – yang merupakan satu dari 30 pemandu di Gunung Papandayan itu – segera menjawab dan mengarahkan langkah kami menjauhi kawah, menjauhi jalur yang biasa digunakan untuk mencapai Hoberhoet atau pun Hutan Mati.

Tak dapat disangkal, kami terlalu cepat berangkat. Ternyata titik yang dimaksud pemandu kami itu terhitung tidak terlalu jauh. Andai pun pendakian dimulai awal subuh, kami tak akan kehilangan sensasi merekahnya fajar. Namun demikian: tak apa. Sebagian dari kami segera membuka perbekalan dan mulai memasak air sebagai awal penyiapan makanan dan minuman hangat, sebagian lainnya sibuk mencari titik pemotretan. Jika di hadapan mata ada dua lapis gemintang, satu berada di angkasa dan satunya lagi berada di bumi, maka siapa yang mau melewatkan? Cikuray – si Penggawa Timur – memperhatikan gerak-gerik kami tanpa sama sekali bicara apa-apa.

Menit demi menit berlalu, tak ayal hembus angin dan dingin di ketinggian membuat kami mengelilingi api unggun yang dibuat oleh Mang Ayi. Meski makanan dan minuman sudah mengisi tubuh, kondisi lebih banyak diam cenderung membuat cengkeraman dingin lebih terasa. 60 menit terasa sangat panjang. Tidur pun seakan-akan jadi satu-satunya pilihan. Namun, tak ada yang melakukan hal itu. Dirasa lebih menyenangkan untuk saling berbincang di tengah kerumunan bintang-bintang yang satu per satu perlahan hilang sebagai pertanda matahari semakin dekat datang.

Kisaran pukul lima, kerucut Cikuray semakin jelas terlihat. Batas Cakrawala sudah mulai dihiasi jingga pekat di awal. Dari balik selimut kabut dan awan beberapa puncak gunung menyembul seakan mencari hangat dan terang. Bergerak dari timur ke arah barat, mereka adalah: Slamet, Talagabodas, Galunggung, Cereme, dan Guntur. Tak jauh dari pukul enam, matahari mengerling manis tepat di atas Galunggung bersamaan melintasnya sebuah kapal udara yang entah menuju ke mana.

Perjalanan kami tentu tak terhenti di sini. Sekitar satu setengah jam kemudian – sebelum akhirnya menjelang pukul satu siang kembali berada di Gerbang Cisurupan – saya dan kawan-kawan sudah bergerak kembali ke jalur yang lazim digunakan. Titik yang menjadi tujuan bukanlah puncak, melainkan berkeliling, singgah ke beberapa titik yang memungkinkan kami tak hanya mendapati banyak pemandangan bentang bumi yang apik namun juga bertemu hal-hal menarik lain di lingkung Papandayan.

Lebih dari sekadar cantik perpaduan kepul asap yang keluar dari rekahan-rekahan Kawah Emas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk dengan biru langit juga putih pelataran Papandayan di hari itu. Lebih dari sekadar bertebarannya pedagang-pedagang makanan dan minuman yang memudahkan pengunjung bahkan pendaki mulai dari persimpangan Hutan Mati dan Hoberhoet, Hoberhoet, menjelang dan di ujung lorong Lawangangin, Pondok Saladah, bahkan di Tegalalun. Lebih dari sekadar keberadaan Ojek Gunung yang memungkinkan ringannya bawaan di pundak, meski sehari-harinya lebih sering digunakan untuk mengangkut pupuk serta hasil bumi milik warga sekitar. Lebih dari sekadar berbagi jalur berjalan antara para pengunjung yang mengandalkan kaki dengan pengunjung yang mengandalkan sepeda dan motor trail. Lebih dari sekadar ruahan pesona kuncup-kuncup Senduro (Edelweiss Jawa, Anaphalis javanica) yang gerumbulannya memenuhi Tegalalun dan kesetiaannya telah termahsyur mendampingi gunung-gunung hingga konon ratusan tahun. Lebih dari betapa menakjubkannya keindahan Hutan Cantigi yang tersisa sebagai jejak letusan 11 November 2002 yang kini jadi titik kegemaran para penyuka juga pegiat fotografi dan dikenal sebagai Hutan Mati.

pagi di papandayan


Hasil suntingan feature ini telah dimuat pada Majalah Travelounge Volume 06 Nomor 12, November 2015 yang diterbitkan oleh PT Tempo Inti Media untuk Bandara Internasional Soekarno Hatta