Lapis-lapis kabut disingkap matahari perlahan. Pagi itu, rasa lelah seusai menempuh empat jam perjalanan bersampan melawan deras arus sungai dari Muara Siberut menuju desa Madobag (kecamatan Siberut Selatan, kabupaten Kepulauan Mentawai, provinsi Sumatera Barat) dalam kondisi hujan sudah hilang. Perjalanan akan kembali dilanjutkan. Dusun Butui yang menjadi tujuan. Akan tetapi, sebentar, tampaknya ada yang menarik perhatian dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Mari berbelok dulu ke sebuah uma dan berkenalan dengan seorang Sikerei di sana.

Bisa dikatakan inilah lelaki Mentawai pertama yang penampilannya memukau saya. Aman Gebag Unen namanya. Berusia sekitar 65 tahun. Beliau sangat ramah. Walau terkendala bahasa, tetap saja menyambut kami semua dengan senyuman yang tak lepas-lepas. Uma-nya pun terbuka untuk dilihat-lihat dan diabadikan dengan kamera. Rumah kayu panggung yang terbilang luas lengkap beserta ornamen-ornamen di dalamnya memang tak sepantasnya dilewatkan. Tapi mata saya malah keterlaluan ingin tahu apa makna dari setiap torehan garis lurus, lengkung, tebal, halus, hingga setiap titik berwarna kehitaman di sekujur kulit tubuhnya.
“Ah, jadi ini yang namanya titi. Tato-nya orang Mentawai.”, saya bicara sendiri dalam hati.
Saat itu tak ada pertanyaan yang diajukan. Saya benar-benar hanya mengamati dan memotret. Pertanyaan yang muncul di kepala sementara disimpan. Kalau satu orang Sikerei saja sudah semenarik ini, pasti Sikerei lainnya yang akan ditemui nanti di sepanjang perjalanan menuju Butui akan jadi lebih menarik pula untuk dicermati.
Sekitar satu jam kemudian, sesampainya di Ugai (kira-kira setengah perjalanan menuju Butui), benar saja, saya bertemu dengan seorang lelaki yang lebih tua kisaran usianya dibandingkan dengan Aman Gebag Unen dan memiliki goresan titi begitu persis. Tapi, ternyata bukan hanya itu. Saya juga bertemu dengan seorang lelaki Mentawai tua lainnya dengan goresan titi lagi-lagi mirip namun tidak memiliki dua simbol di bahu kanan-kiri, dan seorang lelaki muda Mentawai yang sama sekali tak punya titi di kulit tubuhnya. Daftar pertanyaan dalam kepala jadi bertambah.
Ketika pada kisaran tengah hari rombongan kami tiba di uma milik Aman Laulau yang akan menjadi tempat bermalam selama berada di Butui, saya kembali tak bisa menahan diri untuk memperhatikan titi di tubuh sang pemilik uma, istri, juga anaknya sulung. Sepertinya pertanyaan-pertanyaan yang ada akan cukup waktu untuk menemukan jawabannya, begitu pikir saya.
TITI & SIPATITI
Seni Tato Mentawai (dikenal masyarakatnya sebagai: titi) konon merupakan salah satu seni rajah tubuh tertua yang ada di dunia, bahkan dilansir lebih tua dari seni tato yang ada di Mesir. Sayangnya, meski demikian, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan upaya pelestariannya. Titi perlahan memunah. Orang-orang Mentawai masa kini tidak lagi suka memaparkan identitas dirinya di sekujur permukaan kulit tubuh mereka dengan gamblang. Generasi muda suku Mentawai tak lagi mempertimbangkan keterkaitan antara titi dengan Arat Sabulungan. Padahal, jika ada tato yang dapat memperlihatkan makna, tanda kenal wilayah, asal–usul, dan identitas sosial seseorang, bukan semata–mata keindahan pada setiap goresannya, maka Tato Mentawai lah itu adanya. Setiap orang akan terlihat seperti membawa catatan sejarah dirinya bersama tubuhnya, terbaca dari setiap goresan yang melekat di sana.
Sehubungan dengan titi, Suku Mentawai mengenal keberadaan Sipatiti. Meski tidak diangkat secara adat, ia adalah orang (laki-laki, tidak boleh perempuan) yang dipercaya sebagai sang pembuat tato, seseorang yang memiliki keahlian merajah sekaligus memahami simbol-simbol yang lazim digunakan berikut maknanya. Setiap kali pertemuan, jasa seorang Sipatiti akan dibayar dengan satu ekor babi atau beberapa ekor ayam.
Perlu diketahui pula bahwa proses pembuatan titi bukanlah sesederhana: seseorang datang kepada Sipatiti, memilih motif yang diinginkan, Sipatiti bekerja, selesai, kemudian dibayar. Tidak seperti itu. Sebelum proses penorehan kulit tubuh dilakukan ada acara adat yang dikenal dengan nama Punen Kepa yang harus terlebih dulu dilakukan. Tujuannya tak lain adalah untuk menyingkirkan pengaruh jahat dan ancaman terjadinya malapetaka di kampung yang dihuni. Pada puncak punen, biasanya akan dilakukan perjalanan ke Siberut yang diyakini sebagai asal orang Mentawai. Perjalanan laut yang dikenal dengan istilah Bulepak itu dilakukan beramai-ramai, dalam satu sampan bermuatan cukup besar. Apabila kemudian semua yang berangkat ke Siberut itu berhasil membawa manik-manik khas Siberut yang dijadikan prasyarat, kembali dengan selamat, maka semua warga sudah boleh mulai menjalani upacara inisiasi pembuatan titi yang dikenal dengan nama Punen Enegat. Upacara tersebut dipimpin oleh Sikerei dan dilakukan di putukurat yang merupakan tempat khusus berlangsungnya proses pembuatan titi.

Selain harus melalui ritual, pembuatan tato bagi Suku Mentawai pun harus bertahap. Tahap pertama dilakukan pada saat seseorang berusia 11-12 tahun (masa akil balig), dimana torehan hanya boleh dilakukan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua dilakukan pada saat orang tersebut berusia 18-19 tahun, dan torehan dilanjutkan ke bagian paha. Tahap ketiga dilakukan ketika masuk masa dewasa di bagian tubuh lainnya.
Setiap motif titi yang dirajahkan pada kulit tubuh memiliki arti tersendiri. Masing-masingnya merepresentasikan simbol-simbol penghormatan orang-orang Suku Mentawai kepada pada roh dan pada keyakinan mereka. Secara umum dikenal tujuh macam motif yang berlaku bagi laki-laki dan tiga motif bagi perempuan, yaitu:
- Sarepak Abak – biasanya ditorehkan di bagian punggung, melambangkan keseimbangan berkehidupan di alam, merupakan representasi dari cadik (penyeimbang) pada perahu (pompon) yang sudah menjadi alat transportasi sehari-hari.
- Durukat – biasanya ditorehkan di bagian dada, simbol jati diri suku, merepresentasikan batas wilayah kesukuan, umumnya memanfaatkan garis-garis halus yang kemudian diisi titik-titikdan motif Lokpok (bentuknya menyerupai daun).
- Sikaloinan – biasanya ditorehkan pada bagian pangkal lengan hingga siku, simbol jati diri suku, merepresentasikan paipai sikaloinan (ekor buaya).
- Gagai – biasanya ditorehkan pada tangan laki-laki/perempuan, simbol kepiawaian menangkap ikan.
- Boug – biasanya ditorehkan pada bagian paha, simbol jati diri suku, penggambarannya memanfaatkan bentuk garis-garis lengkung.
- Saliou – biasanya ditorehkan pada betis hingga pergelangan kaki dengan ragam rias lengkung garis yang indah.
- Soroi – khusus kaum pria, simbol jati diri kesukuan, biasanya ditorehkan pada bagian pusar, merepresentasikan keindahan rumbai-rumbai bulu ekor ayam.
Satu catatan penting, terlihat sekali bahwa seorang Sipatiti tidak boleh mengabaikan faktor simetris dalam pelaksanaan tugasnya. Pengaturan jarak dari setiap gores garis hingga titik diperhitungkan dengan sangat presisi dalam hitungan satu jari, dua jari, tiga, empat, dan seterusnya.
KENANGAN SIBALU-BALU
Keesokan harinya, untuk memberikan gambaran lebih jelas, Aman Laulau kemudian melakukan semacam simulasi singkat pembuatan titi dengan asumsi semua persyaratan dan ritual sudah dipenuhi. Seusai seorang pasiennya pulang pasca diobati dengan ramuan obat yang diraciknya di tepi sungai belakang uma, beliau dengan sigap mengambil peralatan yang diperlukan di dalam kamarnya, termasuk kemudian dengan cepat menyiapkan tinta pewarna (terbuat dari serpihan jelaga kayu/tempurung kelapa/bambu yang dicampur dengan air perasan tebu) dalam takuk (mangkuk batok kelapa). Berbantukan sebatang lidi (dari pohon kelapa), pelan-pelan digambarnya sebuah lingkaran yang bagian dalamnya kemudian diberi beberapa garis lengkung pengisi dan deretan titik-titik di enam penjuru lingkaran tersebut. Selanjutnya, tangan Aman Laulau dengan terampil mengetuk-etukkan lili’pat (kayu tipis panjang yang berfungsi sebagai pemukul) pada mabiau (sebilah kayu bengkok yang diukir melengkung dan kemudian dipasangi rui muntei, yaitu duri dari pohon asam atau pohon jeruk). Mengingat yang dilakukan itu bukanlah prosesi resmi, melainkan hanya simulasi, Aman Laulau tak sungguh-sungguh keras mengetuk sebagaimana mestinya. Alhasil permukaan kulit saya tidak tertusuk rui muntei dan tintanya pun tak terserap sempurna.
“Rasa sebenarnya sangat sakit. Kamu bisa demam. Tidak boleh. Kamu kan sudah harus pulang.”, begitu kira-kira yang disampaikan Sikerei itu ketika mendapati airmuka saya tampak kecewa begitu gambaran pola titi yang dibuatnya perlahan memudar.
“Kamu tahu tidak, itu Sibalu-balu, Bintang. Ma-ta-ha-ri.”, ditunjuknya bergantian gambar yang ada di paha saya dan gambar yang ada di bahu kiri dan kanannya.
“Dan cuma Sikerei yang boleh punya Matahari. dua Matahari.”, lanjutnya sambil menepuk pelan pundak saya dan tersenyum sangat manis.
Penjelasan demi penjelasan yang diberikan Aman Laulau di bagian akhir membuat saya mengerti mengapa saya tidak selalu menemukan simbol yang sama di bahu kiri-kanan setiap orang Mentawai yang berhasil ditemui di sepanjang perjalanan. Simbol itu ternyata istimewa. Tidak sembarangan dipakainya.

Hasil suntingan feature ini telah dimuat pada Majalah Travelounge Volume 06 Nomor 01, Desember 2015 yang diterbitkan oleh PT Tempo Inti Media untuk Bandara Internasional Soekarno Hatta