Teks & Foto: Ayu Wulandari
Beberapa tahun terakhir konsep geowisata gencar dikumandangkan hampir merata di seluruh nusantara. Kesemuanya digiatkan mengingat besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia, selain juga sebagai upaya untuk meminimalisir dampak dari eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran bahkan cenderung berlebihan. Dan sebagai dampak dari upaya tersebut, tak heran sarasehan yang digelar oleh Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PAG) di penghujung November 2015 hingga awal Desember 2015 ramai peminat dalam sekejap.

Pada hari pertama, bergantian di sesi satu dan dua, Budi Brahmantyo serta Heryadi Rachmat memaparkan tentang potensi yang dimiliki oleh Indonesia sebagai surga geowisata berikut bagaimana baiknya para pegiat menginterpretasikan destinasi yang sedang dikunjungi tersebut tidak hanya dari sisi keindahan yang terlihat saja. Gerak-ubah Bumi selama banyak tahun telah membuat Indonesia menjadi sebuah kepulauan yang di setiap sudutnya memiliki cerita tersendiri. Hal itulah yang menjadikannya istimewa. Para pegiat geowisata mau tak mau harus membekali dirinya tak cuma dengan secukupnya pengetahuan kebumian dan pengalaman perjalanan.
“Karena umumnya manusia mengingat 10% apa yang didengarnya, 30% apa yang dibacanya, 50% apa yang dilihatnya, 90% apa yang dilakukannya.”, demikian Budi Brahmantyo menyampaikan.
Berikutnya, pada tanggal 23 dan 25 November 2015 , untuk kepentingan pendokumentasian yang kelak erat pula kaitannya dengan publikasi dan pemasaran geowisata, tak tanggung-tanggung tiga praktisi fotografi dan videografi diundang sebagai narasumber, yaitu: Ronal Agusta, Deni Sugandi, dan Adhi Rachdian. Pengenalan sejumlah perangkat dasar hingga pemanfaatan Drone yang kian marak tak luput dari pembahasan. Termasuk selengkap apa persiapan yang harus dilakukan seandainya pegiat geowisata hendak melakukan perjalanan sekaligus mendokumentasikan kegiatan yang berlangsung di daerah-daerah pedalaman yang minim listrik.
Puncak sarasehan yang berjarak seminggu kemudian tak lantas kehilangan peminat. Di Kamis 3 Desember 2015 seluruh kursi yang disediakan penuh. Rupanya besar minat peserta untuk belajar dari Hawe Setiawan dan T. Bachtiar tentang bagaimana caranya memulai menulis agar cerita-cerita yang didapat selama perjalanan dapat dikabarkan dengan lebih merata; bagaimana agar artikel kebumian yang mencakup tentang keragaman bumi (bentang alam, proses geologi, batuan, fosil), keragaman hayati, dan keragaman budaya tersebut dapat dicerna tanpa merumitkan pemahaman dan menjadi penarik minat bagi masyarakat.
“Tidak ada tips dan trik khusus untuk menulis. Caranya menulis itu ya dilakoni.”, ujar T. Bachtiar di akhir sarasehan.
Media: BGTL (Buletin Geologi Tata Lingkungan) Volume 26 No 1, Maret 2016