heritage: Kampung Arab di Tepi Sungai Musi

Jejak para pendatang dari Hadramaut itu masih dipertahankan hingga sekarang.

Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Bisa jadi pilihan waktu saya salah. Sekilas melihat ke arah arloji, rupanya menjelang pukul tiga petang. Tak heran dera panas khas Kota Palembang masih menyengat permukaan kulit. Dan saya masih mencari-cari plang yang bertuliskan nama sebuah Madrasah Ibtidaiyah: Al Kautsar. Menurut petunjuk beberapa warga yang saya temui di sekitaran jalan K. H. Azhari plang tersebut menjadi penanda keberadaan Kampung Arab Al Munawar.

Kampung Arab Palembang

Secara administratif, kampung yang telah berusia ratusan tahun dan memiliki keterkaitan tersendiri dengan sejarah perkembangan Palembang, serta telah ditetapkan pula sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah setempat tersebut, berada di Kampung 13 Ulu Palembang. Jika Jembatan Ampera dijadikan sebagai patokan, kampung itu berada di arah Timur. Untuk mencapainya dimungkinkan dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari ujung ulu jembatan, menyusuri tepian Sungai Musi. Bila ingin menggunakan kendaraan pribadi, utamanya roda empat, maka jalannya akan menjadi sedikit berputar mengikuti beberapa ruas jalan utama Lintas Timur Sumatera sebelum akhirnya masuk di ruas jalan K. H. Azhari. Satu pilihan transportasi lainnya adalah dengan menggunakan perahu yang bersandar di dermaga Benteng Kuto Besak.

Kampung yang awalnya hanya didiami oleh keluarga Syeikh Abdurrahman Al Munawar sejak kisaran tahun 1206 Hijriah (1792 Masehi) dan hanya terdiri dari delapan rumah utama saja itu sedikit mengingatkan saya pada sesisian jalan Karangturi di Lasem, Jawa Tengah. Bedanya, kawasan ini jauh lebih ramai dan tampak nyata setiap rumah yang ada masih berpenghuni. Dinamika kehidupan masih hangat menyeruak dan menggeliat dari setiap sudutnya. Tak terkesan detak waktu terhenti.

Leluhur warga Kampung Arab kabarnya datang dari sebuah lembah di pesisir selatan Arab yang dikenal dengan nama Hadramaut. Sejak lama masyarakat yang tinggal di sana telah dikenal suka sekali berdagang dan pergi bertualang mengikuti arah angin barat dan timur. Dalam perkembangannya, tak sekadar membaur, mereka pun menjadi bagian dari penyebaran agama Islam di sekitaran Palembang.

Meski tak menutup diri dengan lingkungan sekitar dan perubahan zaman, para penghuni Kampung Arab memiliki peraturan tersendiri bagi kalangan mereka demi kelestarian. Salah satu peraturan yang diberlakukan adalah tentang pernikahan, bahwa seorang perempuan keturunan Arab tak boleh menikah dengan laki-laki pribumi karena akan memutus garis keturunan. Namun tidak demikian pada kaum lelaki keturunan Arab. Para pria, sebaliknya, diizinkanmenikahi perempuan pribumi.

Selain dari keberadaan senyum sapa, keterbukaan serta keramahan para penghuni Kampung Arab sebenarnya dapat dilihat dari kedelapan rumah yang hingga saat ini masih dihuni secara bergantian oleh keluarga-keluarga yang terikat pertalian darah dan pernikahan. Di setiap rumah tersebut sejak awal telah dirancang adanya satu ruang kamar tidur dan kamar mandi yang ditempatkan di bagian depan rumah untuk tamu yang perlu bermalam.

Tak hanya itu. Sentuhan Timur Tengah sama sekali tak terkesan mendominasi kedelapan rumah panggung tersebut. Campuran Eropa dengan mudah dapat ditemukan di sana. Hal itu bukannya tanpa sebab. Sebagai kaum pedagang, para penghuni Kampung Arab terdahulu acap membawa pulang bahan-bahan dekorasi rumah sebagai buah tangan dari mancanegara. Di salah satu halaman belakang rumah yang dapat dilihat dari lantai dua rumah lainnya bahkan saya menemukan ubin aneka warna dan corak yang ditempatkan sedemikian rupa. Sayangnya saya tak dapat memotret leluasa karena halaman belakang tersebut sedang digunakan untuk mandi sore bersama.

Semakin tua petang, saya meneruskan penelusuran mendekat ke arah Musi. Belum lagi menginjakkan kaki di halaman depan masjid yang letaknya paling pinggir, saya malah terpanggil untuk membalikkan badan lantas menginjakkan kaki di tangga menuju lantai dua sepasang rumah yang dinamakan Rumah Kembar Laut. Kedua rumah tersebut tidak sama persis warna dan interiornya, tapi sama luas dan saling terhubung serta sewaktu-waktu dapat digunakan bersama apabila akan dilakukan perhelatan besar, lazimnya berupa pesta pernikahan.

Kekaguman rasanya tak putus-putus saat saya diperkenankan masuk dan mengamati detail interior rumah berbahan kayu unglen. Kayu ini disebut juga kayu ulin atau kayu besi. Merupakan salah satu jenis kayu yang terkenal kuat sebagai bahan bangunan, tahan perubahan suhu dan kelembapan, serta air, juga tumbuh secara alami di Sumatera Selatan dan Kalimantan.

 


Media: Travelounge edisi Juni 2016