travel guide: Pangandaran – Akhir Pekan yang Tenang

Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Untuk sebuah akhir pekan, perjalanan Jakarta – Pangandaran memang cukup melelahkan. Destinasi wisata yang sudah dikenal luas ini, paling tidak ditempuh selama 10 jam dengan kendaraan roda empat. Pilihannya memang berangkat Jumat malam dan tiba di kota pantai itu pada pagi esok harinya. Namun lebih nyaman jika memilih akhir pekan yang panjang sehingga setidaknya ada waktu tiga hari yang membuat Anda lebih leluasa mengatur jadwal perjalanan. Saat liburan sudah pasti ramai oleh wisatawan, tapi ada beberapa spot alternatif untuk pilihan yang lebih nyaman dan tenang.

Pemandangan Pagi Pantai Timur Pangandaran

HARI PERTAMA

Hutan Mangrove Batukaras

Bila tiba di Pangandaran bertepatan dengan waktu terbit matahari, bisa singgah sebentar di Pantai Timur untuk menikmati suasana sembari menyesap segelas teh hangat dan sarapan ringan di beberapa warung.

Hutan Mangrove Batukaras  selanjutnya dapat dicapai dengan berkendara lebih-kurang 40 menit ke arah barat Monumen Hiu. Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) tersebut telah diperkenalkan sebagai destinasi ekowisata pada Desember 2015. Tiket masuknya hanya Rp 5.000. Sementara untuk mencapai lokasi Jembatan Cinta perlu berperahu selama kurang dari 10 menit dengan tarif Rp 20-30 ribu.

Selain dapat menikmati fotogenik paduan layah-layuk tubuh serta ranting pepohonan bakau dan jembatan kayu berwarna merah bata, pengunjung pun diberi kesempatan untuk berperan langsung dalam konservasi kawasan pesisir dengan mengikuti program penanaman mangrove.

Wonder Hill Jojogan

Bergerak sekitar 20 kilometer ke arah timur laut Hutan Mangrove menuju Dusun Gunungtiga, Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, terdapat destinasi wisata yang diberi nama oleh masyarakat pengelolanya Wonder Hill Jojogan. Tempat ini dicapai sekitar 45 menit berkendara.

Sejak dibuka untuk umum pada akhir 2015, selain menikmati kesegaran bermain air di Kedung Bunder dan Curug Jojogan dengan air terjun setinggi 25-30 meter itu, pengunjung kini juga bisa menjajal body-rafting di sepanjang Gua Lawang alias Gua Lalay, Kali Numpang, dan Gua Tengah yang dilintasi aliran Ci Tonjong.

Penikmat fenomena kebumian bisa dipastikan akan menyukai Lembah Jojogan yang didominasi keberadaan batu gamping berumur belasan juta tahun dan perwajahan sungai bawah tanah terbuka. Burung kecil berperut putih berpunggung hitam seukuran burung pipit, capung jarum bersayap hitam dengan liris ungu di bagian luar serta liris hijau terang di bagian dalam,serta capung batu merah jambu (Rhinocypha fenestrata) dapat dengan mudah ditemukan dalam jumlah tidak sedikit.

Seandainya pengunjung tak ingin turun ke lembah untuk berbasah-basah, tersedia area yang memungkinkan mata berpuas-puas menikmati rona hijau perbukitan dan persawahan memenuhi hingga ke bibir Teluk Parigi yang berjarak 6-7 kilometer ke arah selatan, berhadapan langsung dengan batas cakrawala dan bentang Samudra Hindia.

Matahari Terbenam Pantai Barat

Peristirahatan strategis dalam harga variatif mudah ditemukan di sepanjang kawasan utama wisata pantai Pangandaran. Agar leluasa menikmati masa jatuhnya senja, hotel semacam Laut Biru yang memiliki beberapa kamar dengan balkon langsung menghadap ke Pantai Barat dapat dijadikan pilihan. Bahkan sangat mungkin jika ingin langsung menikmati senja dari bibir pantai sembari menyantap sajian serba laut.

Hutan Mangrove Pangandaran

HARI KEDUA

Matahari Terbit Pantai Timur

Rona jingga terbitnya matahari mulai dapat dihayati menjelang pukul 05.30. Debur tenang ombak Pantai Timur selaras dengan suasana pagi yang cenderung tidak berisik. Siluet pengunjung yang lalu lalang dapat dijadikan obyek fotografi. Belum lagi, jika tiba-tiba ada rusa yang tanpa sepengetahuan keluar dari area Cagar Alam mampir bermain air. Wisatawan cilik biasanya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengalami berinteraksi dengan hewan  itu secara alami.

Batu Layar

Bila datang di musim panas, coba singgah melihat Batu Layar. Sosok batuan tegak setinggi sekitar 30 meter tersebut, selain lekat dengan legenda Putri Tandarun Cagang, juga merupakan jejak keberadaan gunung api purba yang telah melintasi waktu panjang dan masih terus dikikis oleh angin dan air laut. Butuh waktu sekitar 15 menit berlayar bila mulai berperahu dari sisian Pantai Timur. Karena tidak mudah merapat, para penyedia jasa biasanya akan menyertakan pengunjung dalam satu paket seharga Rp 250 ribu per orang dengan tujuan lain, Pantai Pasirputih, yang menjadi gerbang alternatif untuk masuk kawasan konservasi Pananjung.

Cagar Alam Pananjung

Pusat keanekaragaman hayati yang dulunya disebut paniisan (tempat beristirahat) ini berada di ujung selatan dan dapat dicapai dengan berjalan kaki, baik menyusuri Jalan Pantai Barat maupun Jalan Pantai Timur. Retribusi yang diberlakukan untuk masuk melalui pos tiket sebesar Rp 20 ribu per orang, sementara jika berperahu akan dikenai Rp 150-200 ribu per orang sudah termasuk dengan biaya sewa.

Meski disemarakkan sejuk hutan, pengunjung Cagar Alam Pananjung umumnya diarahkan untuk menikmati wisata gua. Paling terkenal Gua Cempet yang relatif sempit serta Gua Parat yang relatif panjang dengan bentukan stalagtit dan stalagmit variatif dan sesekali diramaikan dengan kehadiran landak-landak yang hidup di dalamnya.

Hal yang tak kalah mengasyikkan di sini hidangan perpaduan Jawa Barat dan Jawa Tengah, yakni sepincuk Pecel Bunga Kecombrang. Satu porsinya dihargai Rp 10 ribu plus bisa tambah aneka gorengan.


Media: Travelounge edisi Mei 2017