Teks & Foto: Ayu Wulandari
Dataran tinggi Dieng pertengahan Februari tahun ini. Wajah pagi musim penghujan masih amat mudah ditemui. Sebentar saja matahari memberi hangat rona kuning di pipi langit, berikutnya kabut penuh sukacita mengambil alih. Bahkan angin yang menurut penduduk sekitar sedang kencang-kencangnya itu tampak sigap menghantarkan hujan deras berlapis dingin. Meski begitu tak lantas sunyi kenyataannya di sekitar Batu Ratapan Angin. Tampak serombongan muda-mudi penuh semangat bergantian saling mengabadikan diri berlatar Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang agak muram dari lazim.

Bila melayangkan ingatan pada kisaran dua-tiga tahun silam, kondisi destinasi wisata yang kini paling banyak diminati sebab dinilai fotogenik dan instagramable ini amatlah berbeda.
Berbagai fasilitas umum bagi pengunjung telah dihadirkan mulai dari area parkir, kamar mandi, hingga tempat beribadah. Beberapa warung menyediakan makanan-minuman cepatsaji tanpa meniadakan menu Tempe Kemul dan Mi Ongklok (yang telah mewakili citra Dieng sejak lama sebelum maraknya Kentang Bulat Berbumbu lima ribuan) sepaket dengan beraneka buahtangan. Di sudut mudah tertangkap mata, seorang wanita belum paruhbaya menjadi satu-satunya penjaja Wedang Ronde yang hangatnya pas guna menghadapi dingin berkepanjangan. Sementara untuk memuaskan kesukaan berfoto, selain keberadaan bongkah-bongkahan batuan vulkanik yang kerap dinaiki, telah disediakan wahana berbayar (di luar harga tiket masuk) berupa panggung pandang yang diberi nama Jembatan Ratapan Cinta (Rp 5.000,00 per orang sekali masuk) serta jembatan gantung yang direntang memanjang arah timur-barat dan diberi nama Jembatan Merah Putih (Rp 10.000,00 per orang sekali masuk).
Walau ya tetap saja – selain tak tanggung-tanggung mencoba berdiri dan berjalan di atas jembatan yang terayun-ayun angin arah utara-selatan bergantian – bersusah-susah menaiki batu sembari menahan debar akibat setapak sempit dan angin kencang tampak masih lebih menang menjadi pilihan ketimbang mengerahkan segala macam gaya berlatar sederet huruf kayu berwarna merah mencolok berukuran besar yang membentuk nama “Batu Pandang”.
Tak terbayang seumpama di hari lain dengan jumlah pengunjung jauh lebih ramai dan tingkat kesabaran menunggu beragam, kesemuanya ingin berfoto di titik terbaik yang sama; bukan tak mungkin hal tersebut berbuah celaka menilik situasi kawasan sekitar Ratapan Angin.
Hal lain yang tak terlewat dicermati adalah satunya jalan masuk dan jalan keluar yang diberlakukan. Kondisinya relatif mirip dengan yang ditemui ketika naik-turun Bukit Sikunir untuk menikmati detik-detik terbitnya matahari. Dalam keadaan normal – dimana arus pergerakan pengunjung yang datang dan meninggalkan lokasi wisata seimbang dalam nilai ambang wajar untuk setiap tujuan – bisa dipastikan kecil sekali kendala (di luar licinnya jalan setapak batu/tanah saat masuk musim penghujan) bermunculan. Namun di bulan-bulan tertentu, ketika setiap kepala keluarga di beberapa kota besar pulau-pulau terbesar Nusantara berniat membahagiakan orang-orang yang dikasihinya dengan mengajak bertamasya ke Dieng untuk beroleh kesegaran, akan jadi lain cerita.
Meski di Ratapan Angin sendiri kini telah disediakan wahana flying-fox berbayar (Rp 25.000,00 per orang sekali lintas) sepanjang kurang dari 200 meter untuk mempersingkat waktu bagi sesiapa yang tidak ingin lagi melintasi jalan yang sama saat memasuki kawasan, entah apakah di masa-masa darurat hal tersebut dapat menjadi alternatif solusi yang tepat.
Di tengah gelora semangat pemerintah daerah (Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang, Kabupaten Banjarnegara) yang menaungi, gencarnya pengejawantahan wacana Tamanbumi (Geopark) Nasional di provinsi Jawa Tengah, investor yang cerdik membaca peluang, dan masyarakat setempat yang terus berupaya agar perekonomian mereka membaik; hal terbijak sebelum mempertimbangkan beberapa modifikasi opsi pola Tatakelola Destinasi Wisata, terus mengeksplorasi Dataran Tinggi Dieng dan melakukan pelbagai pembangunan sehubungan kepentingan menghidupkan Pariwisata, adalah dengan benar-benar mengenalpahami serta tidak sama sekali melupakan sejarah macam apa yang melekati sekawasan gunungapi aktif tersebut. Gambaran keuntungan materiil dan non-materiil yang akan diraih bisa jadi melenakan, namun keselamatan tetaplah harus diutamakan.
Ada hal-hal tak terduga (bencana alam) yang bisa muncul kapan saja baik dalam bentuk dapat dilihat atau tidak (gas beracun). Bukanlah berita baik apabila di masa mendatang tersiar kabar sejumlah besar orang (pengunjung dan warga lokal) terjebak di kawasan yang digadang-gadang keindahan kemilau terbit mentarinya karena terjadi longsor besar yang menyebabkan akses utama searah terputus dan peliknya upaya penyelamatan. Guna satu kepentingan ini saja, proses edukasi tidak dapat dilakukan hanya searah pada masyarakat penghuni melainkan juga kepada para pendatang dengan lama berkunjung variatif, agar setidaknya setiap mereka dapat menjaga dirinya sendiri.
Selain itu, perlu diingat, mengedepankan kenyamanan wisatawan tidak sama artinya dengan mengorbankan kenyamanan warga yang sehari-hari berkehidupan di sana dan menghilangkan identitas mereka dengan budaya-budaya bawaan para pendatang, atau sampai mengusir para dewa yang telah merelakan istana dan suci luas halamannya disinggahi kaki-kaki manusia. Tatkala menyitir harmoni semesta, pencapaiannya adalah dengan tetap membiarkan Dieng sebagai Dieng dan tetap memperhatikan kesetimbangan keberadaan hutan dan sebaran pepohonan rindang sebab berbandinglurus dengan ketersediaan dan kualitas air serta penjagaan terhadap gerak tanah.
Bukanlah hal baik bila paras Dieng didandani fasilitas-fasilitas permanen yang bertumbuh dengan alasan mendukung geliat pariwisata, dan dinding-dinding pertahanannya justru disemarakkan keberadaan kebun-kebun sayur atau tanaman musiman lainnya, meski hal-hal tersebut dari sisi ekonomi relatif cepat menguntungkan.
Media: BGTL (Buletin Geologi Tata Lingkungan) Volume 27 No 1, Maret 2017