Pesona Bumi Dieng

sebuah catatan lama perihal perjalanan kedua ke Dataran Tinggi Dieng jelang akhir tahun 2014


seputar pertengahan November 2014 aku kembali menginjakkan kaki di Dataran Tinggi Dieng demi menggenapkan pengalaman, melakukan perburuan rasa, semata agar buku yang tengah aku susun bersama-sama (dengan satu Tim Kecil GeoMagz terbitan Badan Geologi saat itu) setidaknya (menurutku) bisa sedikit lebih bernyawa.

apa yang pernah sedikit teringini sekira tiga tahun kurang sebulan sebelumnya ternyata dikabulkan oleh Tuhan. selama dua hari satu malam – yup! aku akhirnya kesampaian mengalami sendiri seperti apa  itunamanya bermalam dan kedinginan maksimal! – aku benar-benar puas keluyuran mengamati kehidupan Dieng tak hanya di cantik ramah pusat keramaiannya, namun mlipir jauh hingga ke Gunung Prau dan kebun-kebun warga lokal, berjumpa wujud sesungguh-sungguhnya negeri tersebut dalam cerah, kabut, serta hujan bergantian.

kendati membawadiri berbekal kamera pinjaman, aku tetap melakukan pendokumentasian. selain untuk melengkapi buku, sebagian akan aku gunakan sebagai pengantar presentasi karya, sisanya disimpan tanpa tahu apa kegunaannya kelak.

bila kalian ingin melihat, aku ingat pernah menyimpan file-nya di akun youtube pribadi yang hanya kuisi kalau tak lupa 😀

lantas, macam apa nih, Kuk, penampakan hasil karya bersama tersebut? didistribusikan secara terbuka tidak supaya dapat dibaca masyarakat umum?

kalau sekadar tampilan sampul serta beberapa fotoku yang termuat didalamnya, bolehlah kusajikan di bawah 🙂 tapi, karena masa produksinya telah berlalu lama, dan sepanjang 1-2 tahun sejak terbitnya buku itu entah sudah dibagi-bagikan ke mana saja oleh pihak paling berwenang, kemungkinan besar Pesona Bumi Dieng dapat ditemukan dan dibaca di Perpustakaan Badan Geologi Jl. Diponegoro No. 57 Bandung, Perpustakaan Elmuloka – SD GagasCeria Jl. Malabar No. 61 Bandung, Perpustakaan Perguruan F. Tandean Jl. Dr. Sutomo Tebingtinggi Deli, Perpustakaan SMPN 1 Jl. Dr. Sutomo No. 15 Tebingtinggi Deli, dan Perpustakaan SMAN 4 Jl. Karangrejo Raya No. 12A Banyumanik Semarang – keempat lokasi yang terakhir disebutkan menerima masing-masing satu salinan buku atas inisiatifku secara pribadi, sebagai orang yang kerap berkunjung (lokasi kedua di Bandung), sebagai orang yang pernah bersekolah di sana (tiga lokasi lain di Sumatera Utara dan Jawa Tengah) – belaka.


Pesona Bumi Dieng

 

Penulis: Priatna, Atep Kurnia, Ayu Wulandari

Editor: Adjat Sudrajat, Nana Sulaksana, T. Bachtiar

Penerbit:
Badan Geologi
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jl. Diponegoro No. 57 Bandung 40122

ISBN: 978-602-9105-44-5


Nun di sebuah dataran tinggi di mana degup jantung Jawa menggelora, hiduplah beragam pesona yang menyemarakkan pelataran istana bersemayamnya para dewa. Tak hanya mampu memenuhi lumbung rasa makhluk-makhluk yang berkehidupan di sekitarnya, terpenuhi pulalah karsa bagi setiap mereka yang baik peruntungannya. Ramai orang datang dan pergi untuk mendapatkan keberkahan sesaat dalam bentuk apa saja, namun tak sedikit pula yang bertahan tinggal demi menikmati kesemua itu selamanya.

Meski demikian, bumi tak pernah sedikit pun menyimpan rahasia kelam yang dimiliki Dataran Tinggi Dieng. Benih-benih petaka yang tak kunjung henti bertumbuh di dalam perutnya kerap dikabarkan melalui alun kepul asap putih yang lolos melalui rekahan. Catatan-catatan sejarahnya tersimpan baik pada setiap celah batu hingga kuak kawah.

Pesona Bumi Dieng mencoba untuk merangkum keseluruhan pengetahuan kebumian tentang sekawasan gunung api aktif di Jawa Tengah tersebut, beserta kumpulan keping-keping keindahannya. Tak lain tak bukan agar tercukupilah kesadaran mengutamakan kesetimbangan berkehidupan selaras dengan kehendak alam tanpa mengabaikan terjaganya kewaspadaan.

*****

Pesona Bumi Dieng - Kalamakara

Prolog

Tersebutlah sebuah negeri yang keberadaannya dijaga oleh sekawanan kabut. Konon kemilau keemasan matahari hidup abadi di sana, setia menemani gelombang tenang lautan awan di pelataran puncak-puncak gunung tempat para dewa-dewi bersemayam. Tak sembarang orang dapat menikmati utuh keindahan negeri tersebut. Tak sembarang orang terberkati hingga dapat membawa pulang kuat kesan dan pengetahuan yang tersimpan di setiap lekuk bumi juga batu-batu. Karena gerbang waktu menuju kesemua itu hanya akan terbuka manakala pandang bersedia dipertemukan dengan tatap sepasang mata Kalamakara* lalu merelakan hati dipinang berkelana mengarungi setumpuk tinggi catatan masa. Tentunya bersama alun merdu daisy dan dandelion yang dibawa oleh udara.

*Kalamakara adalah dewa penjaga waktu dalam kepercayaan Hindu dan Buddha. Selain diyakini berfungsi utama sebagai pengusir roh-roh jahat, Kalamakara pun menyimbolkan dua kekuatan yang ada di semesta, yaitu: matahari (Kala mewakili kekuatan di atas) dan bumi (Makara mewakili kekuatan di bawah).

*****

Fajar jelang puncak Gunung Prau Dieng

Bukan Pemburu Matahari

Tidak ada permintaan khusus untuk dengan sengaja mengunjungi Gunung Prau dalam perjalanan kali ini. Ketika saya memutuskan untuk memberanikan diri datang ke Dataran Tinggi Dieng terkait dengan pekerjaan yang harus diselesaikan, bisa jadi saya sudah membuat beberapa orang berucap syukur tanpa kemudian ingin saya melakukan lebih dari mereguk butir-butir jiwa tempat itu secukupnya sebagai bekal menulis. Mereka bukannya tak mengetahui betapa saya menyukai rupa-rupa wajah langit. Namun mereka juga bukannya tak memahami betapa saya tak mudah dibuat suka berburu matahari pagi dan menembus dingin yang tak lain tak bukan adalah satu dari sekian kelemahan pribadi.

“Kalau Sikunir itu delapan kilometer dari sini, mbak. Setiap yang datang ke Dieng pasti paling mudah dan paling suka ke sana. Kalau Prau itu butuh tiga jam untuk sampai ke tempat orang biasa menikmati sunrise. Berangkatnya dekat dari sini. Setiap akhir pekan pasti ramai, entah itu berkemah di sana atau tektok seperti saya biasa lakukan.”, begitu Mas Thopix – pria yang saya kenal melalui Pak Bachtiar dan direkomendasikan oleh Pak Parpar mengingat pergerakan saya yang seringnya relatif dinamis juga acak – memaparkan.

“Mana yang selalu paling ramai?”

“Sikunir. Di sana orang tidak terlalu perlu energi ekstra.”

“Yang sudah ada tulisan berhuruf besar-besar itu di mana?”

“Sikunir, mbak.”

“Aaa, begitu. Baiklah. Saya mau ke Prau.”

“Yakin?”

“Yakin. Tapi saya bukan pendaki. Jadi tidak bisa bergerak cepat-cepat.”

“Tidak apa-apa. Biasanya kalau saya yang bawa orang ya modelnya fun hiking kok. Jadi cukup santai. Hitungan tiga jam itu santai dan jalur pilihannya juga relatif landai.”

“Kita melewati apa saja?”

“Em, dari basecamp sampai pos satu itu kita akan lewat ladang-ladang kentang. Sesudah itu baru masuk hutan dan pos keduanya adalah ujung hutan itu sebelum tower. Pos ketiganya sudah dekat dari puncak Prau. Dari sana sudah bisa lihat sunrise. Tapi kalau mau melihat mereka yang sudah lebih dulu bermalam khusus agar bisa menikmati matahari, kita harus berjalan kurang lebih satu jam lagi melintasi sabana.”

“Saya mau melintasi sabana, tapi tidak mengejar matahari. Saya hanya ingin lihat-lihat apa yang dilakukan ramai orang di sana saja.”

“Baik, mbak. Nanti perbekalannya saya siapkan.”

“O iya, saya punya masalah dengan ketinggian dan dingin. Masalah pernafasan. Tapi saya sudah dibekali jaket tebal sih oleh Pak Bachtiar. Sudah bawa inhaler juga.”

“Kalau begitu nanti saya bawakan jaket cadangan, jaga-jaga kalau anginnya mendadak kencang. Oksigen juga saya sediakan saja ya. “

“Siap. Terima kasih.”

“Sebenarnya kita hanya akan naik sekitar lima ratus meter saja. ‘Kan Dieng sendiri sudah di ketinggian dua ribu. Jadi santai saja.”

“Baiklah.”

Diam-diam hati kecil saya tersenyum. Entah bagaimana bisa keputusan itu mengalir demikian mudahnya untuk terucap. Saya akan melakukan pendakian singkat ke Gunung Prau untuk memenuhi rasa ingin tahu saya tentang apa yang dicari sekian banyak orang hingga pergi ke ketinggian 2.565 m dpl. Dieng saja (yang berada di 2.093 m dpl) sudah membuat saya menggigil hebat setiap kali kabut datang dibawa angin kencang. Belum lagi gunung yang tak lebih saya suka daripada laut. Tapi, sudahlah, yang akan terjadi ya terjadi sajalah. Saya sudah memilih Prau ketimbang Sikunir yang rasanya sudah bisa ditebak akan seperti apa riuh ramainya.

Ah ya, keputusan ini tak saya sampaikan pada siapa-siapa. Tidak pada Pak Parpar, tidak pada Kang Atep, tidak pada Pak Bachtiar, tidak pada Pak Dody, tidak pada keluarga, tidak pula pada pada orang-orang terdekat yang sudah paham bagaimana hubungan antara gunung dan saya. Hanya satu orang yang tepat di hari pengambilan keputusan cepat itu baru saja kehilangan salah seorang kawannya dan terus mendoakan agar ketenangan pikir juga kehangatan tak jauh-jauh dari saya: Tuan-nya Sasmaya.

Tak lama kemudian, seusai menerima tawaran Mas Thopix untuk makan malam di rumah makan yang menjadi satu dengan Losmen Bu Djono – sebuah penginapan yang telah  mahsyur namanya di kalangan pejalan lokal dan mancanegara karena namanya telah tercatat di sebuah buku panduan perjalanan internasional sejak beberapa tahun silam – lalu dengan santai menghabiskan seporsi nasi goreng ayam dan pamcake pisang sekaligus berkenalan dengan lebih banyak lagi kawan, tentu tanpa lupa berbelanja sedikit perbekalan, saya tidur lebih cepat. Bagaimana pun saya harus cukup energi.

Kisaran pukul dua dini hari di pertengahan November 2014 yang dua pertiga sepi, penuh sadar saya keluar dari kamar 201 Gunung Mas, menyambut Mas Thopix yang sudah menanti di luar gerbang untuk kemudian melangkahkan  kaki menuju Pos Pendakian Gunung Gunung Prau. Pos tersebut terletak tak melampaui seratus meter dari Losmen Bu Djono di pertigaan Dieng. Dan di sana telah tersedia sebuah buku yang menjadi tempat setiap pendaki kategori pemula hingga mahir mencatatkan data diri berupa: nama, nomor telepon yang dapat dihubungi, kota/negara asal, jam mulai pendakian. Lalu tentu saja setiap pendaki akan dikenai biaya retribusi sebesar Rp. 4.000,- secara resmi.

Jalur yang harus dilalui ternyata berada di belakang basecamp. Namun, karena tubuh masih dingin dan sebelumnya tak ada instruksi melakukan pemanasan, saya cukup terkejut juga. Untuk mencapai jalan akses ladang, ternyata terlebih dahulu harus menemui berpuluh anak tangga. Tak ayal nafas saya terundang tersengal lebih cepat meski tak berlebihan. Saya sempat protes kecil dan itu disambut tawa renyah. Aduh, untung angin sedang ramah, bahkan terkesan tak ada. Kalau tidak, bisa-bisa saya kewalahan sebelum mencapai Pos 1.

Begitu melampaui bibir hutan, kelembaban sangat terasa berubah, dingin pun lebih mencengkeram. Tak ada lagi jalan setapak semen, melainkan tanah yang permukaannya licin pasal guyuran hujan yang begitu panjang kemarin mulai siang. Mau tidak mau saya harus lebih berhati-hati melihat dan menapak, meski (demi Tuhan) saya sangat tergoda dengan sebaran permata-permata embun yang memenuhi segerombolan daisy di kiri-kanan jalan.

Ya, saya mudah teralih perhatian oleh hal-hal yang sepele kata lain orang. Dan itu akan menjadi hambatan kalau saja hari sudah terang.

Hal mengejutkan terjadi setibanya kami di Pos-2. Mas Thopix mendapati bahwa ternyata saya membutuhkan waktu satu jam saja untuk sampai. Ada beberapa kali saya meminta berhenti dan beristirahat minum sebentar. Tapi menurutnya, untuk orang yang mengaku belum berpengalaman mendaki gunung dan bermasalah dengan ketinggian juga dingin, waktu tempuh tersebut terbilang baik.

Catatan waktu tempuh yang sudah baik itu serta-merta membuat pemandu saya yakin bahwa dalam waktu kurang dari satu jam, kami sudah akan melintasi puncak Prau lalu kemudian bersantai-santai menghangatkan diri dengan segelas teh atau kopi hangat sembari menikmati matahari perlahan meninggi menembus lapis selimut awan. Saya hanya menyambut dengan senyum saja, toh bukan itu yang ingin saya kejar, dan ternyata senyum tenang itulah pemenangnya bukan keyakinan Mas Thopix. Karena beberapa ratus meter di depan ada sekelompok kecil mahasiswi (berjumlah tujuh orang dan ternyata berasal dari Bandung juga) yang sedang mengalami kesulitan, salah satu dari mereka tampak pucat pasi kepayahan berjalan. Hal tersebut diduga sebagai akibat kesemua dari mereka tidak tidur sebelum melakukan pendakian.

Meski sebenarnya kelompok kecil itu sudah didampingi oleh dua orang pemandu, saya memutuskan untuk berjalan di belakang mereka dan membiarkan pemandu saya membantu di depan. Celah yang cukup sempit dengan setapak tanah basah berkemiringan sekitar 45o itu tak bisa dipungkiri cukup menyulitkan jika harus dilalui tergesa dalam kondisi tidak fit. Licin! Gadis yang pucat pasi itu bahkan terpeleset jatuh hanya dalam beberapa langkah di depan. Di tengah kondisi dan ruang macam itu entah kenapa saya tetap memilih berada di belakangnya pada batas jarak aman. Mungkin karena saya ingat apa yang dilakukan oleh kawan-kawan seperjalanan ketika menyaksikan dan menemani saya mendaki Puncakdarma di sebuah teluk di Sukabumi Selatan dengan begitu kepayahan. Saya tak mau meninggalkan. Inginnya bisa memberi semangat agar gadis itu tetap bisa menyampai puncak meski perlahan, biar ia juga bisa ikut senang menikmati kemilau matahari abadi di atas sana.

Ah ya, Mas Thopix juga berinisiatif membagi bekal berupa air kelapa dalam kemasan yang memang dibeli dalam jumlah lebih banyak dari kebutuhan kemarin malam. Menurutnya akan sangat membantu mengikat kebutuhan oksigen saat berada di ketinggian. Awalnya gadis berjalan paling akhir di kelompoknya itu sempat menolak, sungkan. Tapi sepertinya semua orang selain dirinya sepakat untuk kompak memintanya menerima tanpa bisa lagi berdalih lain apa.

Kisaran pukul 4.30 waktu setempat, saya memutuskan untuk berhenti dan memisahkan diri dari rombongan mahasiswi tersebut tepat di puncak Gunung Prau. Semburat jingga mulai menjadi warna di antara biru pekat dan kerumunan bintang. Pemandu saya ada sempat terdengar berkata, “santai, kami ndak ngejar sunrise kok.”. Bagi saya sungguh itu berarti cukup dalam, semacam penerimaan bahwa saya memang sejak awal menolak untuk tergesa-gesa berjalan demi tak mau kehilangan apa yang banyak orang-orang cari sampai ke ketinggian ini.

Dua puluh menit berikutnya, pemandu saya sudah lebih sering lagi menggeleng-gelengkan kepala. Untungnya ia tergolong penyabar juga. Bukan karena apa, saya hanya sungguh tak mau melewatkan detik-detik berharga menyesapi aroma sabana dan membiarkan tubuh mengingat dengan sebaik-baiknya. Bagaimana pun ini sabana pertama saya.

Titik-titik Embun di Sabana Gunung Prau

Sebaran titik-titik embun di hamparan padang daisy yang memenuhi sabana perlahan terlihat bak butir-butir permata. Matahari yang kian meninggi menyinari, menggenapkan keindahan mereka. Liuk pepohonan hingga belukar tak sedikit pun lepas dari kiri-kanan pengamatan. Saya ingat saya tidak berlari karena pulasan warna-warni di langit semakin menggiurkan untuk segera dinikmati dalam diam, bukan dalam keadaan masih berjalan seperti ini. Saya ingat saya malah semakin asyik dengan kepak sayap burung phoenix yang menampakkan diri entah di langit arah tenggara atau selatan. Saya pun ingat dalam kepala saya ada mengalun musik yang biasa terputar dengan sendirinya setiap kali saya berada di tempat-tempat yang mengundang liarnya imajinasi dan kebebasan merasa. Saya menari di sepanjang sabana bersama kerling embun dan phoenix tanpa cemas matahari akan mencemburuinya.

Mendekati waktu meninggalkan pukul lima dan matahari telah sejajar puncak Merbabu, barulah saya sampai di tanah datar yang lapang. Ramai pelangi tenda dan ramai pula orang. Sebagian dari mereka tengah menikmati sarapan, sebagian besar lainnya memilih pergi ke sudut-sudut tertentu bersama kelompoknya dengan membawa serta kamera untuk mengabadikan keberadaan mereka dalam format foto maupun video, dan saya dengan cepat memutuskan untuk melontarkan senyum pada pasangan Sundoro – Sumbing sertanya anaknya si Kembang lalu bersegera mencari tempat cukup nyaman. Saya ingin punya waktu merasakan terpa hangat matahari sembari duduk diam. Hal itu memang satu-satunya yang paling saya ingin lakukan sejak berada di puncak gunung dengan ketinggian melebihi 2.000 meter di atas permukaan laut  masih sebatas angan-angan. Ya, menikmati langit dalam tenang diam meski tak sampai berjam-jam, menikmati kemilau matahari abadi di pelataran puncak-puncak gunung tempat para dewa-dewi bersemayam.

Saat pukul tujuh menjelang, saya memutuskan untuk segera turun kembali ke Dieng demi memenuhi rencana perjalanan yang sudah disusun semalam. Rasanya berat, saya masih ingin menuai bahagia yang tak akan saya temui di kota. Tapi, bukankah saya berada di sini bukan dalam rangka liburan?

Tanpa merasa perlu berjanji pada dewa-dewi untuk kembali bertamu di tempat yang sama, saya yakin akan mengingat baik-baik perjalanan yang satu ini. Tak akan terganti rasanya berhasil memenangkan diri sendiri. Saya berhasil menenangkan kelemahan sendiri, menjawab tulus bulan setengah yang tak lelah menyemangati, bertemu hal-hal di luar dugaan, hingga kemudian nyata saya berdiri dan mengucapkan “selamat pagi” pada Sundoro dan Sumbing juga lautan awan yang tak selalunya bisa dengan mudah ditemui. Saya akan mengingat baik-baik perjalanan kali ini.

*****

Epilog

Menguak satu demi satu lapis pesona negeri kabut, menyibak tirainya dan berharap keramahan langit juga matahari demi sebuah berkah kemilau hangat abadi  adalah perjalanan dengan jejak-jejak kesan mendalam. Ada melekat kuat ramah senyum dan sapa dalam bahasa yang tak terdengar berkata-kata, pelan dibawa angin juga halimun, dipastikan dapat dimengerti oleh siapa saja, membahagiakan semua.

Sebagaimana Dataran Tinggi Dieng tak pernah menutup-nutupi catatan kelamnya di masa lampau, tak sedikit pun ia menampik kenyataan bahwa benih-benih petaka masih terus hidup bertumbuh seiring pendar pesona dan keberkahannya yang begitu digila-gilai manusia. Sehingga tak akan jadi pantas rasanya jika kita memilih untuk mengabaikan kecemasan dan menanggalkan kewaspadaan ke mana pun langkah diayunkan. Tak akan pernah menjadi pantas rasanya jika setiap kita yang berpengetahuan, yang memahami apa pasal kejadian, kemudian melakukan pembiaran; sebatas datang bersenang-senang tanpa memikirkan apa yang bisa saja terjadi pada mereka yang sepanjang masa berada di sana menjalani rentang usianya.

Manusia-manusia yang berjalan bersama kesadaran pentingnya mengutamakan kesetimbangan berkehidupan dengan kehendak alam akan menjadi agen terbaik bagi tercapainya merdu harmoni semesta raya di mana saja beradanya. Manusia-manusia yang tak enggan berbagi pengetahuan akan menjadi keberkahan bagi satu dan banyak lagi lainnya. Sampai pada akhirnya damai sejahtera lah yang menjadi ganjaran terbaik dari segenap upaya.

hamparan bunga Daisy di pelataran puncak Gunung Prau