Berada di Kei Kecil yang tersohor hingga ke mancanegara. Di sekelilingnya ada sederet daya tarik.
Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari
Melintasi Jembatan Watdek yang berada tepat di atas Selat Rosenberg, pertanda saya sudah meninggalkan Kota Tual di Pulau Dullah. Tak lama saya menjejaki wilayah Kei Kecil, yang berbatasan langsung dengan Laut Banda, Laut Arafuru, dan Samudra Indonesia. Secara administratif berada di Kabupaten Maluku Tenggara, ada perasaan bungah tak terkira saat mendengar dialek Timur yang khas dan senyum ramah warga.

Pantai Ngurbloat di Nuhu Roa — nama lain Kei Kecil — menjadi tujuan pertama hari ini. Pantai ini sudah tersohor hingga ke mancanegara. Kelembutan pasir putih pantai yang dikenal juga dengan nama Pantai Pasir Panjang tersebut dinyatakan tak ada duanya di dunia. Atas saran seorang kawan, saya menginap tak jauh dari sana, tepatnya di Ohoi Ngilngof. Ohoi dalam bahasa Kei berarti kampung. Dalam perjalanan, saya singgah ke Ohoi Kelanit. Di desa ini terdapat bukit yang puncaknya konon merupakan bagian tertinggi dari Kei Kecil sekaligus merupakan tempat ziarah jalan salib bagi penganut Katolik. Dikenal dengan nama Masbait.
Meski dikategorikan sebagai lokasi peribadatan, Bukit Masbait terbuka bagi siapa pun yang ingin menikmati keindahan matahari terbit di puncaknya. Pengunjung tak dikenai biaya. Seandainya Anda datang saat matahari sudah tinggi seperti saya, tetap ada suguhan indah pemandangan Nuhu Roa dari ketinggian. Untuk mencapai puncak bukit, tentu diperlukan sedikit usaha. Jangan lupa bekal air minum yang cukup.
Setelah menikmati Nuhu Roa dari ketinggian, saya kembali melanjutkan perjalanan. Namun, lagi-lagi, saya tergoda singgah ke satu kampung yang bernama Dertawun. Jaraknya hanya 30 menit dari Ohoi Kelanit. Di sini ada satu penginapan yang direkomendasikan turis-turis asing dan kebetulan berada di sekitar pantai yang indah pula. Namun, yang menarik perhatian saya, adalah puing bungker. Konon inilah jejak dari tentara Jepang di Kepulauan Kei pada masa penjajahan puluhan tahun lalu.
Baru 30 menit kemudian, saya memasuki gerbang Ohoi Ngilngof. Sebuah rumah panggung kayu dengan tiga kamar plus hutan kecil di sekitarnya menjadi tempat bermalam saya. Jaraknya sekitar 100 meter dari tepi Ngurbloat. Saya hanya membayar Rp 100 ribu per malam. Saya melewatkan siang untuk rehat dan baru sore menyapa pasir putih nan lembut di pantai.
Esoknya, setelah saya menghabiskan beberapa potong embal — penganan dari singkong khas Nuhu Roa — yang disajikan bersama telur dadar, pemilik penginapan datang menjemput. Ia akan mengajak saya jalan-jalan sambil mengamati beberapa ekor kuskus di hutan. Saya diminta membawa jas hujan, air minum, dan sedikit perbekalan.
Saya datang pada musim angin timur saat laut masih bergejolak dan Nuhu Roa begitu dingin. Berada dalam masa peralihan menuju kemarau, hujan pun masih sering bertandang. Walhasil, jas hujan pun wajib dibawa. Tempat pertama yang disinggahi adalah Pelabuhan Debut. Ramai oleh perahu-perahu kayu bermesin yang bersandar dan bersiap mengantar penumpang atau barang ke Kei Tanimbar dan beberapa pulau kecil lain. Juga bila ingin mampir ke Ngurtafur serta mengamati pelikan-pelikan yang bermigrasi. Dari dermaga kecil itu terlihat jelas Dian Pulau dan jembatan panjang yang menghubungkannya dengan Dian Darat.

Belum terlalu jauh dari dermaga, saya mendapati tugu tidak terlalu besar, tapi cukup mencolok dengan warna merah yang mendominasi. Meski terhalang tanaman hias, terlihat seraut wajah yang disertai sebuah nama di bagian bawah dada: Karel Sadsuidtubun. Pahlawan revolusi ini ternyata lahir di Debut.
Obyek berikutnya ialah salah satu destinasi wisata terbaik di Ohoi Letvuan. Lian Hawang merupakan gua kapur yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai gua bertuah. Ada sesaji di beberapa sudut dan larangan buang hajat sembarangan atau bertindak asusila. Begitu melihat lebih dekat, saya nyaris terlupa untuk bernapas. Benar-benar sangat indah! Pelataran terbuka Lian Hawang digenangi air biru kehijauan yang mengoda untuk direnangi. Namun sayang, saya tak membawa baju ganti, akhirnya hanya membasuh kepala dan wajah. Bila Anda piawai berenang atau menyelam dan berani, bisa mencoba menyusuri gua tersebut yang berujung di tepi laut.
Saya masih mampir ke Kampung Evu, yang memiliki mata air yang menjadi sumber air minum utama di Tual dan Kei Kecil. Selain itu, menjadi pengisi pemandian peninggalan pada masa pendudukan Jepang. Rumput laut aneka warna yang baru dipanen juga menjadi pemandangan khas. Uniknya, di sini dibudidayakan di air asin sekaligus air tawar, karena tak jauh dari mata air yang mengalir lepas ke laut. Ada pula makam-makam dengan nisan batuan tua, tapi tidak bisa disinggahi karena hujan turun deras.
Dalam perjalanan pulang, saya melintasi kampung bernama Selayar yang dihuni para pelaut asal Sulawesi Selatan dan juga pura yang dibangun di sudut sepi Nuhu Roa dan tempat peribadatan Katolik tua. Di tengah datang-perginya hujan, saya tiba kembali di Ngilngof dan mampir di tempat tujuan terakhir yang lagi-lagi merupakan destinasi wisata yang belum dikelola. Danau Ablel namanya. Konon sebuah kampung dengan 9.999 penduduk ditenggelamkan karena kemarahan perempuan tua bernama Te Idar. Pemicunya, warga suka membuang sampah sembarangan. Ikan dan lain-lain pun di danau disebut disebut sebagai penjelmaan penduduk dan ada pula buaya yang menjaganya. Saya sempat bergidik, untung mendapati 10 pelikan tengah bermain dengan burung-burung air berbulu hitam penghuni tetap Ablel.
Malam terakhir di Ngilngof. Hujan tak kunjung berhenti sejak senja. Saya berharap esok pagi matahari cerah. Sebab, saya berharap bisa berucap seiring dengan lambaian perpisahan pada saat senja jingga, “Tet ya (terima kasih), Tanat Evav. Tet ya, Nuhu Roa. Karena kebaikanmu, saya tempatkan engkau dalam lubuk hati terdalam agar selalu dekat. Duad enfangnan wuk (Dan Tuhan pun melindungi kita).”

*****
4 INFO PENTING
- Waktu yang tepat untuk menikmati Nuhu Roa ialah pada akhir September-November. Saat itu, laut cenderung tenang, warna-warni Indonesia Timur tampak ke permukaan.
- Jangan ragu menggunakan jasa pemandu lokal selama di Kei Kecil. Selain karena destinasi wisatanya tersebar dalam jarak tempuh yang cukup jauh, juga tidak semuanya sudah terkelola. Tidak banyak penunjuk jalan juga.
- Sebelum mengunjungi Kepulauan Kei atau bagian Indonesia Timur lain, pastikan menenggak pil anti-malaria dan siap menghadapi kemungkinan sinyal telekomunikasi yang kurang baik.
- Di Tual dan di Kei Kecil — tepatnya di Langgur — sudah tersedia beberapa mesin ATM dari beberapa macam bank.
Media: Travelounge edisi November 2014