Kompleks candi hindu kecil dengan pengaruh era Megalitikum di lereng Gunung Lawu
Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Candi Sukuh tidak sulit untuk dicapai dengan transportasi umum. Dari Terminal Tirtonadi, Solo, saya naik bus jurusan Tawangmangu, yang membawa ke Terminal Karangpandan. Bus ini beroperasi mulai pukul 06.00. Di hari biasa, bus itu penuh dengan penumpang anak sekolah dan pegawai kantor. Dengan ongkos sekitar Rp. 7.000-8.000, dalam 50-60 menit saya pun tiba di Karangpandan.
Perjalanan ke lereng barat Gunung Lawu dilanjutkan dengan bus kecil tujuan Kemuning, yang setiap pagi dipenuhi ibu-ibu sepulang berbelanja dari pasar. Sekitar 20 menit kemudian, saya tiba di Pertigaan Nglorok cukup dengan membayar Rp. 4.000. Selanjutnya, ada dua pilihan untuk menuju Candi Sukuh, yakni naik ojek bertarif Rp. 7.000 atau berjalan kaki selama 45 menit di jalan aspal sepanjang 2 kilometer.
Setiba di Candi Sukuh, saya bertemu dengan rombongan turis Prancis, tiga rombongan keluarga dari Jawa Barat dan sekitar Solo, beberapa pasangan kekasih, serta sekelompok siswi sekolah menengah pertama.
Sepintas, tanpa memperhatikan detail relief, bangunan utama Candi Sukuh tampak seperti bangunan pemujaan ala suku Maya di Meksiko. Candi yang menghadap ke barat pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut ini dibangun pada akhir abad ke-15. Candi tersebut dikategorikan sebagai candi Hindu dengan arsitektur menyimpang dari ketentuan kitab Wastu Widya. Pengaruh budaya pra-Hindu (Megalitikum) tampak jelas dari teras berundak di kompleks candi tersebut, di mana titik paling suci ditempatkan pada bagian paling tinggi dan paling belakang. Ada dugaan Candi Sukuh dibangun dengan tujuan sebagai tempat meruwat untuk melepaskan kekuatan buruk yang dimiliki seseorang.


Memasuki kompleks ini, pengunjung akan disambut Gapura Paduraksa – gapura beratap menuju teras pertama. Di bagian atasnya terdapat pahatan kepala Kala, yang menyambut dengan senyum seringai. Lalu, di dinding kiri-kanan terdapat pahatan raksasa sedang menggigit ekor ular dan memakan manusia. Konon, kedua pahatan itu merupakan sandi angka (sengkalan) yang diperkirakan menunjukkan tahun selesainya pembuatan candi: 1359 Saka (1437 Masehi).
Sayang, kini pengunjung tidak dapat lagi melintasi Gapura Paduraksa untuk masuk ke teras pertama. Para turis kini harus memutar dari sisi kanan. Pintu gapura utama tersebut ditutup agar pahatan yang berfungsi sebagai Mantra Ruwatan, yang ada di lantai gapura, tetap terlindungi. Karya tersebut disinyalir menggambarkan persatuan lingga dan yoni, lambang kesuburan. Mantra itu dipasang konon untuk menyucikan setiap tubuh yang masuk ke kompleks candi.
Tak banyak yang dapat dinikmati di halaman teras pertama. Pemandangan paling mencolok, selain Karanganyar dari ketinggian, adalah tiga batu yang masing-masing bergambar lelaki berkuda diiringi pasukan bertombak, sepasang lembu, dan lelaki penunggang gajah. Di belakang ketiga batu tersebut terdapat semacam bangku batu dan meja.
Teras kedua dapat dicapai setelah melalui tangga batu yang diapit Gapura Bentar. Sama sekali kosong di sini, sehingga dapat dipastikan pengunjung akan bersegera menuju teras ketiga. Teras tertinggi itu diyakini sebagai pelataran paling suci. Terdapat banyak arca dan batu bergambar di sana. Di sayap kanan, perhatian pengunjung akan tersita oleh tiga arca manusia bersayap. Anak-anak bisa jadi akan berimajinasi bertemu dengan malaikat. Pada bagian belakang, tampak dua dari tiga arca memiliki pahatan aksara Kawi. Sedangkan di sayap kiri terdapat beberapa arca berbentuk lembu dan gajah, di mana kisah Sudamala dimulai tepat setelah relief gajah terakhir. Relief itu menggambarkan kisah keberhasilan Sadewa – anggota Pandawa bersaudara – meruwat Dewi Uma yang dikutuk oleh Batara Guru menjadi Durga.
Pengunjung biasanya tak mau melewatkan kesempatan untuk naik ke bangunan utama di teras ketiga setinggi 6 meter. Tidak ada ruangan lain di dalamnya. Kosong pula bagian atapnya. Hanya ada lingga tanpa yoni dengan beberapa batang dupa wangi dan canang sesaji. Kadang-kadang pengunjung meletakkan uang dalam jumlah tak terlalu besar di sana.


Media: Travelounge edisi Desember 2013