traveller’s note: Geotrek Gua Prasejarah di Belae

Ratusan anak tangga dijejaki untuk mencermati beragam gambar yang menghiasi gua.

Naskah dan Foto: Ayu Kuke Wulandari

Belae Village, Pangkep Regency, South Sulawesi

Sulawesi Selatan menyodorkan banyak pilihan bagi penikmat wisata. Beberapa lokasi yang kerap dituju adalah Pantai Losari dan Benteng Somba Opu. Bahkan, para turis pun bersedia menempuh perjalanan jauh untuk ke Tana Toraja serta menyempatkan diri mampir ke Bira dan Bulukumba. Selain itu, kebanyakan wisatawan sudah tak asing dengan pesona kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Tapi hanya sedikit wisatawan yang bersedia singgah ke Pangkep.

Dan Pangkep menjadi tujuan saya kali ini. Tepatnya saya menyambangi Desa Belae. Ada perhelatan International Cave Festival 2013, pada 4-6 Oktober lalu, yang ingin saya hadiri. Butuh waktu sekitar satu jam dengan kendaraan roda empat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, untuk mencapai daerah tersebut. Secara administratif, desa ini bagian dari Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasa Te’ne, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Secara geografis, Belae dilalui oleh gugusan Karst Maros Pangkep berkarakter menara yang membentang seluas 43,750 hektare.

Setibanya di lokasi, Belae dalam imajinasi saya menjelma seperti sebuah rumah besar berdinding batuan karst menjulang dengan atap langit biru di setiap hari terang. Ada pepohonan di kiri-kanan jalan, persawahan yang luas, sebaran taman batu gamping, serta kerbau dan bebek yang bergerombol di beberapa lahan. Monyet-monyet hitam juga bergelantungan di beberapa sudut dinding tertinggi. Selain itu, rumah-rumah kayu panggung beratap seng yang berjauhan satu sama lain berdiri penuh pesona. Tak bisa dilupakan semua senyum dan sapa masyarakat setempat. Walhasil jarak 2-3 kilometer yang saya tempuh dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi ini tak sia-sia. Semua jadi begitu menyenangkan.

Sebenarnya , saya tertarik sekaligus nekat mengikuti penelusuran gua vertikal meski tidak mempunyai pengalaman sebelumnya. Namun akhirnya saya malah memilih melakukan geotrek dengan tujuan tujuh gua prasejarah yang ada di Belae, yaitu: Leang Sakapao, Leang Buloribba, Leang Kajuara, Leang Pattennung, Leang Kassi, Leang Lompoa, dan Leang Lambuto. Saya bergabung dengan rombongan kecil yang terdiri atas lima orang dipandu oleh Pak Khaerudin. Juru pelihara gua asli Belae yang sudah mengabdikan dirinya sejak 1992 ini begitu fasih dengan seluk-beluk lintasan gua. Dia sama sekali tak terlihat terengah-engah ketika harus menaiki ratusan anak tangga menuju pintu Sakapao (gua horizontal pertama yang disinggahi). Padahal, ada kemungkinan saya ini seumur dengan putranya. Perbedaan paling mencolok lainnya, ketika kawan-kawan dan saya sudah menghabiskan berbotol-botol air kemasan, sang pemandu ini sama sekali tidak terlihat kehausan. Hebat!

Belae Village, Pangkep Regency, South Sulawesi

Di ketujuh gua yang disinggahi, Pak Khaerudin memperlihatkan gambar-gambar telapak tangan, babi hutan, kura-kura, serta manusia (lelaki dan perempuan) yang terlukis acak di dinding, juga bahkan langit-langit gua. Sebagian besar berwarna merah, ada yang hijau, lainnya hitam. Diperkirakan warna-warna tersebut diperoleh secara alami dari materi getah tumbuhan ataupun arang. Tak sedikit pula sampah rumah tangga, seperti kulit kerang, berserakan di sekitar gua.

Belum sah jika sebuah perjalanan tidak digenapi dengan memberi pengalaman indah bagi lidah. Ibu Barliang — pemilik homestay yang saya tinggali — setiap hari menyuguhkan masakan rumah berbahan ikan bandeng dan sayuran ditemani sambal enak. Layanan ini sudah menjadi bagian dari tarif Rp 100 ribu per malam yang harus saya bayar untuk akomodasi. Ditambah lagi keluarga Pak Khaerudin menghadirkan pengalaman sarapan dengan mandura — penganan berbahan ketan, sejenis lemang.

Sementara itu, dalam perjalanan menuju bandara saat kepulangan, masih sempat pula saya mampir ke rumah makan yang tak jauh dari kantor Kepolisian Sektor Minasa Te’ne untuk mencicipi hidangan terkenal khas Pangkep: Sop Saudara. Isinya berupa potongan daging sapi berikut jeroan dilengkapi bihun dan daun bawang. Semua bahan itu tentu diberi bumbu rempah-rempah. Entah karena tepat waktu atau pada dasarnya memang disajikan dalam komposisi rancangan yang pas, sop yang saya pesan tanpa jeroan itu terasa sangat enak.

Sebelum lupa, ada pesona lainnya yang disimpan Belae dan sama sekali tak ingin saya lewatkan. Saya pun yakin pengalaman satu ini dapat mengekalkan sensasi prasejarah. Saya sengaja menyempatkan diri berjalan kaki tanpa membawa alat penerangan menyusuri kegelapan malam di beberapa titik Belae. Ya, bagi saya, tak ada yang bisa mengalahkan keindahan riuh tebaran bintang tanpa paparan radiasi cahaya seperti yang memenuhi langit perkotaan.


Media: Travelounge edisi November 2013