enam jam di Negeri Kabut

sebuah catatan lama perihal perjalanan pertama ke Dataran Tinggi Dieng di akhir tahun 2011


aku menamainya Negeri Kabut. setiap cerita dari mereka yang telah berhasil mencapainya, setiap lihatan yang wara-wiri di berbagai media, membuat kawasan tersebut justru kuingat sebagai tempat yang sangat jarang kenal cerah panjang di keseharian. entah apakah di sana Matahari pernah dan akan sempat mengeluhkan keadaan, pastinya aku tak kurang keyakinan bahwa di negeri nan termahsyur itu sarat ada yang namanya kedamaian juga kebahagiaan. hingga aku pikir aku sungguh tak punya alasan untuk menolak undangannya agar datang bertandang šŸ™‚

#1 hari kedatangan

ini bukan perjalanan panjang di atas roda membelah daratan yang pertama yang aku lakukan. tapi, ternyata-eh-ternyata, aku masih saja selalu berhasil dikurung debar-debar menjurus kegairahan sebagaimana awal-awal kesukaanku berkelana sini-sana.

lengkung Bulan Sabit di kisaran pukul tiga dini hari yang kulihat dari balik jendela bus saja sudah macam selengkung senyuman yang menyambut jelang ujung kepegalan duduk selama berjam-jam. Hujan yang membasahi Bandung selama saat kutinggalkan kumaknai sebagai sebentuk restu, bukan tanda keberatan.

aku tidak lagi menghitung benar sudah berapa lama aku dibawa menjauh dari Alun-alun Kota Wonosobo oleh bus kecil yang aku tumpangi bersama sejumlah Ibu-ibu lewat paruh baya yang membawa bakul serta karung-karung dagangan mereka kemudian.

tanpa terasa: tahu-tahu Langit pelan-pelan jadi benderang dibanding sebelumnya. sangat terasa: sergapan dingin gelap dini hari yang telah disibak fajar tak bisa lagi dihirup hidungku dengan sekadar santai tanpa merapatkan perangkat penghangat badan. kejutan perdana: sebentuk Bola Cahaya menyeruakĀ  dari balik tubuh entah bukit entah gunung pula yang bisa dikata dengan Gunung Sundoro bertetangga.

selanjutnya kantukku tertahan lumayan lama lantaran aku tak mau melewatkan sajian sepaket keindahan yang tidak bisa kuperoleh sama persis dan dengan mudah esok-esok nantinya šŸ™‚

Fajar Selamat Datang Dataran Tinggi Dieng, akhir 2011

Fajar Selamat Datang Dataran Tinggi Dieng, akhir 2011

 

tidak tahu sel-sel imajinasiku terpicu apa: di satu kali aku merasa tengah bekejaran dengan para pengawal Negeri Kabut, namun di kali berikutnya aku seperti hanya sedang bekejaran dengan Sang Waktu yang terus menarik Matahari keluar meninggalkan batas melintasi Bumantara.

nafasku sampai tersengal-sengal. benar-benar tersengal. padahal sejatinya ketersengalan itu semata milik mesin bus kecil tumpanganku yang bersikeras menapaki tanjakan dengan ujung masih serba tak terbayang.

kaki-kakiku mulai gatal ingin segera melompat turun menjejak tanah. kedua mataku tergerak meliar tak tentu arah. si Ungu (kameraku) terbiarkan nyala tanpa punya ketertarikan untuk teriak unjukrasa. jiwa anginku merebak mendapati Langit cerah terkuak.

hei, apa sungguh inilah Negeri Kabut itu? apa sungguh inilah negeri yang sibuk mengisi khayalku sejak dulu? mengapa keseluruhan kabutnya meretas jadi senyum? kenapa juga para pengawalnya mendadak berhenti memburu berganti melambaikan tangan mengucap “selamat datang” padaku? mengapa kecerahan yang menyertai perjalananku?

“semua kami sudah saling menerima kabar perihal kedatanganmu sejak semalam, Mungil. segalanya terbuka untukmu sepagian ini. kami sangat berharap kau akan bisa menikmati dan berbahagia dengan cara paling kau sukai. kami akan turut ke mana suasana hatimu menggiring.”, kudengar Matahari menengahi kerusuhan yang terjadi dalam kepalaku amat lembut sekali.

*****

#2 menyesap hening damai

aroma embun habis-habisan menyerempak indera penciumanku. andai saja tak malu pada setiap bunga rumput, kupu-kupu, domba, dan kecerahan yang terbuka pagi ini, inginnya aku menghempas tubuh penat sebab semalaman tertekuk dalam bus, menghayati permadani rumput basah alami di pelataran Kompleks Candi Arjuna yang kusinggahi selepas menyempatkan sarapan.

aku menahan diri: tenang.

aku menahan diri:Ā  berusaha tenang.

aku menahan diri sampai akhirnya tak bisa tahan lagi dan mulai menyapa satu per satu titik air yang bergelayut tenteram menunggu sirna dari gerumbul rerumputan, mereka dengan kecantikan seumpama berlian, menggunakan bahasa tanpa kata-kata berhamburan.

ujung celana panjangku basah. bagian bawah ranselku yang tersentuh rumput juga terikut basah. sepatuku pun ya jelas-jelas basah. hanya si Ungu saja yang terjaga, terhindar dari basah.

titik-titik air yang bergelayut pagi itu

titik-titik air yang bergelayut pagi itu

 

tak lebih dari limabelas kejap, langkahku mulai melingar, pergerakan bola mataku berlipat cepat dari biasa – berpacu dengan putaran imajinasi sendiri dan tanpa sadar mengakibatkanĀ  Mie Instan Rebus Telur yang belum lebih dari 30 menit kucerna kehilangan taring kuasanya di dalam ruang perutku yang luasnya tak seberapa – dan sesungguhnya itu bukan kelainan.

begitulah adatku bila sudah bertemuan tumpuk-tumpukan bebatuan tua memang. jemari tanganku akan segera mendekat ke arahnya untuk merasakan ketidakseragaman permukaan demi permukaan. aroma kembang dan bakaran dupa akan tertangkap memberi salam saban kali aku terhisap masuk, menaiki undak-undakan, menghampiri kegelapan yang seringnya membuat tak nyaman.

bergantian Arjuna, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Semar, dan Setiaki kutemui dengan wajah berhias senyum tak curai-curai. tak tergambar apa terjadi bilamasa Gatotkaca serta Bima yang ada di hadapan.

aku sempat bersikukuh hendakĀ  menemukan beberapa telaga di sekitaran keenam candi tersebut sebagaimana tercantum pada peta di salah satu halaman Lonely Planet Indonesia yang kubeli kira-kira tahun 2010 (kalau tak salah ingat). kompas pun ada kubawa.

Setiaki jadi saksi aku yang kebingungan sembari kepanasan. satu dua teguk air perbekalan kubiarkan berperan tapi rasanya tak signifikan. Bola Cahaya terus bergerak meninggi mengikuti lintasan. pada akhirnya aku memilih meninggalkan setapak basah, kembali ke jalan batu buatan, pergi ke tempat yang kuperkirakan lebih tinggi dengan harapan telaga-telaga yang kucari itu akan terlihat.

Candi Setiaki, akhir 2011

Candi Setiaki, akhir 2011

*****

#3 berpandu Awan, Langit, Angin, Matahari, bahkan firasat

riang langkah kaki, riang nyanyi hati, itu saja lah adanya aku kini. jalanan yang sepi, meski sesekali dilalui rombongan mobil dan bus pariwisata, masih sempat aku perlakukan selayaknya panggung tari.

kendati nyata kudapati tak kunjung luntur ceria biru Langit manakala Awan-awan mendung dan Kabut seperti malah raib ditelan Bumi, aku sebenarnya agak cemas dengan persediaan air. sengaja meminta pada diri agar jangan cepat-cepat lelah, setidaknya hingga nanti menemukan satu warung kecil.

belum lagi, duh, rupanya aku ketinggalan topi. maka, biar gelisahĀ  takĀ  terus menjalar ke mana-mana, ada beberapa kaliĀ  aku membidik Matahari yang berusaha membuatku tak semakin kepanasan dari balik dedaunan dan ranting.

halo, Matahari!

halo, Matahari!

 

semakin jauh berjalan, aku makin menguatkan hati. papan-papan penunjuk arah yang tidak terlalu banyak jumlahnya kurasa menggantikan fungsi oase meski aku bukan sedang beradaĀ  di Gurun Pasir.

sesekali aku berhalusinasi, terutama setelah melewati Bima sebagai candi terakhir. diantaranya: aku sempat menyangka reruntuhan Pabrik Jamur yang cukup luas di sesudut Dieng sebagai peninggalan kuno yang tidak lebih tua dari candi!

butir-butir Keringat kemudian kuduga bak berlomba dengan Angin. puluhan butir lahir, satu sapuan meniadakan; puluhan butir melihat Dunia, satu sapuan membuyarkan angan-angan. begitulah rupanya mereka berdua kuterjemahkan dalam kepala: Keringat dan Angin. tak terhindar membuatku tergelak sendiri, padahal aslinya aku sedang berupaya hemat-hemat tenaga sambil mempertahankan laju napas stabilĀ  šŸ˜€

kegaduhan imajinasi ituĀ  tidak berlangsung lama. aku dibungkam sosok Gerbang Pipa Gas Besar yang menandai jarakku dengan pintu masuk ke kawasan Kawah Sikidang. ternyata aku tidak nyaman. tanpa pikir panjang bersegera membalik badan, tanpa ragu menjauh sejauh-jauhnya.

mungkin ada kaitannya dengan sebentuk ketakutan, mungkin pula perwajahan firasat tak terjelaskan. dan aku lebih suka menuruti firasat, dalam sebagian besar perjalanan-perjalananku ia adalah salah satu faktor pengaman/penyelamat.

Gerbang Pipa Gas Besar

Gerbang Pipa Gas Besar

*****

#4 biarkan ditutup warna, tapi biarkan aku mengenal dirimu sesungguhnya kapan-kapan

tak ada Jembatan Pelangi di Negeri Kabut seindah dalam khayalan. bagaimanaĀ  dimungkinkan jika tidak setitik air pun jatuh dari Langit sejak detik kedatanganku di dataran tinggi yang konon kerap disinggahi para Btari-Btara.

lamun, tidak lantas aku jatuh kecewa. sebelumĀ  mengakhir kunjungan singkatku, aku telah memerdekakan semua rasa lelah di hadapan Telaga Warna yang pandai menenangkan pada selain akhir pekan dan musim liburan, juga memberi tempo pada jiwaku menunduk dalam-dalam, mencoba memahami dan menerima jerih payah seisi Semesta yang sudah menghadiahkan sebuah perjalanan melampaui dambaan.

aku tak mau kehilangan apa-apa yang bisa dirasakan dan didapat di negeri asing ini dengan amat mudah, secara sia-sia. aku memutuskan untuk berterimakasih segemuk-gemuknya seraya memanjatkan doa agar ia senantiasa dilindungi dari keserakahan serta laju modernisasi yang kala-kala siap melahap habis segala potensi penghasil uang.

tidak tahu akankah aku bertemu kembali dengan Negeri Kabut kapan-kapan. namun, seandainya kejadian, aku ingin dibiarkan dapat kesempatan bermalam dan menghayati kabutnya yang lihai mengaburkan nuansa cerah, mengubah sekitaran tampil muram, saling bertatapan dalam wujud-wujud sesungguhnya, bukan bagus-bagusnya saja šŸ™‚

Perpisahan di Telaga Warna, akhir 2011

Perpisahan di Telaga Warna, akhir 2011