destination: Bengawan Solo – mengalir sampai jauh

Panggung Sangga Buwana Keraton SurakartaSolo di puncak akhir pekan jelang akhir tahun ternyata lebih ramai dari biasa. Museum Keraton Surakarta yang sedianya baru akan dibuka pukul sembilan pagi saja pada akhirnya mempercepat waktu dibukanya gerbang. Serombongan keluarga kecil segera tampak bergantian mengabadikan keberadaan mereka di sudut-sudut yang dianggap tepat, entah itu di depan patung Pakubuwana X yang tegak menyambut di halaman luar; atau di dekat Papan Silsilah Raja-raja, di sebelah Kereta-kereta Lama, bahkan berdampingan Patung Penggawa yang berada di bagian dalam. Pagi itu, saya yang memang belum merencanakan apa-apa sejak tiba di kota budaya ini sekitar pukul enam tadi, memutuskan untuk singgah ke lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat yang didirikan oleh Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti istana yang sebelumnya hancur akibat kejadian Geger Pacinan di kisaran 1740-1743.

Di antara sekian banyak koleksi museum yang ada, keingintahuan saya terhenti pada sesosok dayung kayu dengan perkiraan panjang sekitar enam meter. Dari papan nama yang berada di bawah bagian kepalanya diketahui bahwa dayung kayu tersebut merupakan dayung perahu Kyai Rajamala.  Keingintahuan tersebut kemudian berlanjut ke satu sudut yang dipenuhi lima ukiran kayu (dikenal sebagai canthik, hiasan yang biasanya ditempatkan di haluan dan buritan perahu) dalam pelbagai bentuk (bebek, naga, gajah) dan salah satunya adalah wujud dari Rajamala itu sendiri.

“Jika salah satu dayung kayu yang digunakan sudah sebesar itu, maka sebesar apa sesungguhnya Kyai Rajamala? Seperti apa bentuk dari perahu legendaris tersebut?”, begitu pertanyaan yang muncul dalam benak dan membuat saya memberanikan diri bertanya pada salah satu petugas museum. Darinya kemudian saya mengetahui bahwa saya dapat menemukan jawabannya di Museum Radyapustaka yang berada di Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Taman Sriwedari. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surakarta. Kabarnya, selain canthik Rajamala yang kedua, saya pun akan bisa melihat gambaran replika dari Perahu Kyai Rajamala berikut keterangan yang lebih jelas.

Setelah masuk sebentar ke halaman keraton untuk menyaksikan kegagahan Panggung Sangga Buwana yang konon hingga saat ini masih digunakan oleh raja untuk bermeditasi, saya pun melanjutkan perjalanan menuju museum kedua. Dan benar saja, replika perahu besar itu ada di salah satu sudutnya. Berdasarkan keterangan yang dapat dibaca berdampingan replika tersebut, diketahui bahwa Kyai Rajamala memiliki panjang 70 meter dan lebar 7 meter. Perahu kerajaan itu pun ternyata bukan sekadar digunakan sebagai media plesiran hingga ke Selat Madura yang dilengkapi fasilitas hiburan (panggung yang mencukupi sebagai ruang gerak para penari dan untuk menempatkan perangkat Gamelan Kyai Senggani Laras). Kyai Rajamala dilengkapi persenjataan.

Dalam dunia pewayangan, Rajamala merupakan tokoh antagonis, sesosok raksasa bertubuh besar dengan wajah bertaring menakutkan yang memiliki kesaktian unik, tak terkalahkan jika sudah berada di dalam air. Pemilihan sosok Rajamala sebagai canthik konon berdasarkan mimpi Pakubuwana IV di masa itu. Hingga kini pun, setiap Selasa Kliwon, kedua canthik yang dikeramatkan tersebut masih sering diberi sesaji lengkap sebagai upaya penghormatan pada penunggu yang dipercaya masih ada di dalamnya.

Replika Perahu Kyai Rajamala di Museum Radyapustaka

Canthik Rajamala di Museum Radyapustaka

“Pak, kalau saya mau lihat aliran Bengawan Solo yang sekarang ini, masih bisa? jauh atau tidak dari kota?”, kali ini saya bertanya pada salah seorang petugas Radyapustaka. Rupanya rasa ingin tahu saya belum berhenti setelah mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang Kyai Rajamala.

“Oh, bisa, Mbak. Agak jauh ke luar kota. Naik saja bus Batik Solo yang ke Palur, bilang mau turun di Jurug. Nanti dari halte tinggal jalan beberapa ratus meter saja ke arah timur. Ada jembatan, tiga, nah, itu Jembatan Jurug namanya. Bengawan Solo melintas di bawahnya. Kalau mau santai-santai di bawah jembatan situ juga bisa, Mbak. Ada tempatnya di sana.”

Seusai mengucap terima kasih, bergegas saya mencari halte transportasi yang dimaksud. Tak lupa saya siapkan pula uang Rp 4.500 untuk membayar ongkos BST (Batik Solo Trans) nanti. Kurang dari satu jam kemudian saya sudah berdiri di satu dari tiga jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Jurug. Jika melihat hanya ada orang berjalan dan kendaraan roda dua saja yang melintas di atasnya, ada kemungkinan itulah jembatan yang paling tua di antara tiga jembatan yang ada.

Mengingat jadwal kunjungan saya ke Solo bertepatan dengan posisi matahari yang sedang merapat ke selatan, tak ayal siang itu perbekalan air minum yang biasanya mencukupi habis lebih cepat. Akibatnya saya jadi punya alasan untuk singgah ke bawah jembatan, bersantai sejenak di tempat yang dimaksudkan oleh bapak yang saya temui di Radyapustaka tadi. Dan, rupanya benar, tak sulit menemukan tempat tersebut. Tak hanya ada beberapa warung sederhana di sana. Rupanya disediakan juga jasa penyewaan tikar bagi siapa saja yang ingin menikmati suasana sedikit lebih lama. Karena melihat mayoritas penyewa tikar-tikar itu berpasangan, saya urung menikmati Bengawan Solo agak mendekat ke tepian. Saya singgah duduk saja di salah satu warung, berbincang dengan pemiliknya, sembari memenuhi perbekalan air minum kembali. Gerak-gerik dan penampilan saya yang asing dengan mudah jadi bahan pembuka pembicaraan.

“Ooo, mestinya biar lebih lengkap, mbak-nya bisa main ke Kampung Sewu. Di sana nanti bisa lihat tempat dulunya orang-orang besar kungkum.  Biasanya juga tiap habis Idul Adha, ada Kirab Apem Sewu di sana, Mbak.”

Berdasarkan cerita pemilik warung, baru tahulah saya bahwa ada kegiatan yang rutin dilaksaksanakan setiap tahunnya di sebuah kampung di timur kota Solo yang dulunya termasuk wilayah Dermaga Keraton Surakarta. Kegiatan tersebut merupakan pengejawantahan rasa syukur pada Sang Pencipta yang dipelihara sejak Ki Ageng Gibrig (seorang ulama, keturunan Prabu Brawijaya dari Majapahit) menyebarkan agama Islam di kawasan berdiamnya banyak nayaka (prajurit) yang kini dikenal sebagai Kampung Sewu. Tradisi turun-temurun itu adalah pembuatan seribu kue Apem Yaqowiyu (berasal dari penggalan kalimat doa rutin penutup pengajian Sang Ulama: ya qowiyu yaa assis qowina wal muslimin, yaa qowiyu warsugna wal muslimin – yang berarti: ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kami segenap kaum muslimin) yang berasa gurih juga manis oleh warga kampung, dan hasilnya kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Alhasil, tepat ketika senja mulai menempati panggungnya di angkasa, saya sudah berdiam di  satu titik yang merupakan pertemuan Kali Pepe dan Bengawan Solo. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari Jembatan Jurug. Tak ada yang dilakukan. Saya mengambil secukupnya waktu untuk beristirahat. Entah kenapa di saat itu juga rasanya terlantun lagu karya Pak Gesang yang termahsyur bersama sejuk alir udara.

Bengawan Solo riwayatmu kini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh

Senja Bengawan Solo dilihat dari Kampung Sewu

Karena keesokan harinya saya bermaksud untuk melanjutkan perjalanan ke Wonogiri dengan menggunakan kereta api yang saya lihat melintas di sekitaran Jalan Slamet Riyadi pagi tadi, maka saya memutuskan untuk mencari tempat bermalam di sekitar Stasiun Purwosari. Pilihan jatuh pada sebuah rumah kos bernama Wisma Khadija yang letaknya sedikit menjorok ke dalam dari Jalan K.H. Agus Salim dan  memungkinkan saya untuk menginap satu-dua malam saja. Rp 150 ribu yang dibayarkan untuk satu malam rasanya tak masalah mengingat kamar yang disediakan sangat nyaman, tersedia kamar mandi di dalam, dilengkapi pula dengan fasilitas televisi berlangganan serta pendingin ruangan.

Masih dalam tema “mendadak Bengawan Solo”, melanjutkan perjalanan kemarin, tujuan perjalanan saya berikutnya di hari Minggu adalah Waduk Gajah Mungkur yang membendung sungai terpanjang di pulau Jawa tersebut. Waduk yang mulai dibangun pada akhir 1970 itu memiliki wilayah kurang lebih 8.800 ha dan mampu mengairi persawahan seluas 23.600 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, dan Sragen; juga memasok persediaan air minum di Kota Wonogiri, serta menghasilkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air sebesar 12,4 MegaWatt.

Untuk mencapai Wonogiri, maka di pagi itu transportasi yang saya gunakan adalah Bathara Kresna, kereta api perintis yang melayani rute perjalanan Solo – Wonogiri dan sebaliknya. Dalam sehari hanya dua kali pulang pergi saja, yaitu: pukul 06.00 WIB dan 10.00 WIB dari Stasiun Purwosari, serta pukul 08.00 WIB dan 12.15 WIB dari Stasiun Wonogiri. Bila musim liburan tiba, kereta api jarak pendek yang belum lama beroperasi ini punya banyak penggemar, utamanya mereka yang pergi bersama keluarga. Bisa jadi hal ini disebabkan tarifnya yang tidak mahal, Rp 4 ribu per orang sekali jalan. Buktinya langsung saya saksikan. Belum sampai satu jam loket penjualan dibuka, tiket yang disediakan langsung ludes. Saya yang memilih jadwal keberangkatan pukul sepuluh dan membeli tiket sebelum pukul delapan pagi terbilang beruntung.

Ah ya, perlu diketahui, tidak diberlakuan nomor tempat duduk untuk Bathara Kresna. Karena itu, siapa saja yang berminat duduk nyaman di sepanjang perjalanan harus rela bergerak cepat begitu satu per satu pintu gerbong dibuka. Dan keseriusan memilih posisi duduk (pada akhirnya saya pikir) memang perlu, mengingat kereta api yang satu ini akan melaju dengan kecepatan rendah.

Sesampainya di Stasiun Wonogiri, tak akan sulit menemukan angkutan umum yang dapat membawa Anda ke beberapa tempat, jaraknya hanya sekitar satu-dua menit berjalan kaki dari Stasiun Wonogiri. Bila Waduk Gajah Mungkur yang menjadi tujuan, maka tanyakan saja mana bus/elf yang akan ke ‘proyek’. Tarif normal yang diberikan Rp 5 ribu per orang untuk sekali jalan.

Jarak antara stasiun dan gerbang waduk ternyata tidak terlampau jauh. Kurang dari 30 menit saya sudah sampai di depan loket penjualan tiket. Untuk setiap pengunjung akan dikenai biaya sebesar Rp 7.600. Tambahan biaya lain akan dikenakan apabila membawa kendaraan roda dua (Rp 1000), mobil (Rp 3 ribu), mini bus (Rp 5 ribu), dan bus (Rp 10 ribu).

Dalam sekali lihat, jelas sekali bahwa kawasan Waduk Gajah Mungkur ini dijadikan Destinasi Wisata Keluarga baik oleh warga sekitar maupun para pendatang. Warung-warung makanan dan buah tangan serta mainan tradisional yang tertata, kereta-keretaan yang nyaman dan perahu-perahu kayu bermotor yang siap digunakan untuk berkeliling, jasa foto langsung jadi, pelbagai akomodasi selayaknya ruang publik, ada di sini. Berhubung saya melenggang sendiri, mengelilingi danau waduk dengan perahu kayu bermotor tampak mengasyikkan sekali. Apalagi cuaca cerah dan langit biru bersih di itu hari. Tak apa jika harus membayar Rp 10 ribu untuk sekali keliling. Saya ingin mencerap Bengawan Solo penuh-penuh dalam 30 menit.

Waduk Gajah Mungkur


Hasil suntingan feature ini telah dimuat pada Majalah Travelounge Volume 07 Nomor 03, Februari 2016  yang diterbitkan oleh PT Tempo Inti Media untuk Bandara Internasional Soekarno Hatta