travel choice: Berakhir Pekan di Ujung Kulon

Dalam dua hari, Mercusuar Tanjunglayar, Pulau Peucang, Cidahon, dan Cigenter disinggahi.

Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Rumah Badak-badak Jawa yang hampir punah. Begitulah lazimnya orang-orang mengingat nama Ujungkulon. Kawasan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional pertama di Indonesia sekaligus dilindungi UNESCO sejak 1992 ini berada di ujung paling barat Pulau Jawa, yang secara administratif merupakan bagian dari Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Lokasinya berjarak 105 kilometer dari Pandeglang dan 210 kilometer dari Jakarta.

Meski dikenal sebagai destinasi baik ekowisata maupun geowisata, tidak berarti akses ke setiap sudut kawasan konservasi itu terbuka bebas. Pembatasan tetap diberlakukan. Lantas, apa saja keindahan dan keunikan di sekitar Taman Nasional Ujungkulon yang dapat dinikmati selama akhir pekan?

Pagi di Pulau Peucang TN Ujung Kulon

Hari Pertama: Mercusuar Tanjunglayar dan Pulau Peucang

Pagi adalah waktu terbaik untuk memulai perjalanan dari Pantai Plangu (Sumur) ke Pulau Peucang. Sebaiknya tidak sampai lewat tengah hari. Perjalanan laut dilalui dengan kapal-kapal kayu bermotor bermuatan 20-30 orang dengan kisaran harga sewa Rp 3-4 juta. Lama tempuhnya tiga jam. Agar keindahan mentari terbenam dapat dinikmati seusai menyusuri hutan adalah salah satu alasan lebih baik tiba awal di Peucang. Alasan berikutnya, selain sinar matahari belum terlalu terik dengan melaut lebih pagi, Anda pun akan punya kesempatan lebih besar bertemu dengan ikan terbang serta beragam burung laut yang wira-wiri mencari santapan di sekitar Tanjung Alangalang.

Ketika kapal bersandar di Pulau Peucang, tampak keindahan pantai berpasir putih lembut dan gradasi air biru kehijauan. Ada juga segerombolan ikan kecil yang mendekat ke bawah dermaga setiap kali ada yang datang. Dari sisi pantai sebelah timur, di pagi hari, apabila langit cerah, warna-warni pancanaran sinar dapat dinikmati. Tak heran, siapa pun yang singgah ke Ujungkulon betah berlama-lama di pulau seluas 450 hektare ini. Belum lagi tersedia fasilitas penginapan dengan harga mulai Rp 700 ribu per malam.

Namun, karena rombongan kecil kami tiba sebelum tengah hari, masih ada cukup waktu untuk mampir ke Mercusuar Tanjunglayar. Jadi kami melaut dulu sekitar 30 menit ke Cibom dan berjalan kaki menyusuri hutan sekitar 45 menit atau sejauh 1,2 kilometer. Semenanjung Ujungkulon yang langsung menghadap ke Samudra Hindia pun dengan leluasa dinikmati. Pemandu navigasi yang menemani saya dan kawan-kawan juga menuturkan, konon, mercusuar tersebut adalah yang ketiga dibangun di Tanjunglayar pada 1972.

Sebelumnya, pada awal 1800, Gubernur Jenderal Hindia Belanda membangun mercusuar pertama dengan dominasi batu. Saat gempa bumi dan letusan Krakatau 1833, mercusuar pertama rusak. Sebagai pengganti, mercusuar kedua dibangun dari konstruksi baja berketinggian 25 meter dan dilengkapi dengan lampu gas.

Sekembalinya dari Cibom, setelah beristirahat makan dan berenang-renang di pantai sekitar dermaga, ada perjalanan kecil yang tak kalah menarik, yakni menyaksikan matahari terbenam di Karangcopong. Posisinya berada di barat Pulau Peucang. Namun, untuk sampai di titik tersebut, siapa pun harus rela berjalan kaki sekitar satu jam menyusuri hutan hujan tropis dataran rendah. Pohon-pohon tinggi besar menjulang dengan banir — akar yang menganjur ke luar menyerupai dinding penopang pohon — lebar-lebar menarik perhatian. Pohon Kiara yang paling termahsyur di hutan itu menjadi tempat perhentian paling lama. Wajar, mengingat ketika kembali ke perkotaan, pohon-pohon seperti itu tak akan mudah ditemukan. Tak hanya pepohonan yang memukau, beberapa kali, rombongan berpapasan dengan babi hutan dan rusa liar. Beberapa kali pula telinga kami mendengar suara burung-burung beraneka jenis, tak terkecuali rangkong.

Tak lebih dari setengah jam waktu yang ditempuh untuk sampai di Karangcopong. Namun rupanya, hari itu, saya dan kawan-kawan dihadiahi senja berawan. Maka, sebelum kemalaman, kami segera kembali menyusuri hutan. Kami juga harus beristirahat karena esok masih harus bangun pagi agar tak ketinggalan melihat matahari terbit.

Pantai Pulau Peucang TN Ujung Kulon

Hari Kedua: Banteng-banteng di Cidahon dan Cigenter

Selepas hujan semalaman, paduan udara sejuk dan sajian orkestra alam ala Peucang benar-benar membuat saya sulit untuk bangun. Tapi, begitu ingat akan melihat sisi lain Tanjunglayar dan menjumpai banteng-banteng yang sedang sarapan di Padang Penggembalaan Cidahon, saya pun bergegas.

Ide menghampiri Tanjunglayar dari sisi laut tercetus kemarin, seusai makan malam. Dari hasil perbincangan dengan kapten kapal, disepakati perjalanan dilakukan setelah menikmati fajar di pantai dekat Dermaga Peucang. Artinya, sebelum merapat ke Dermaga Cidahon, kapal kayu bermotor akan terus diarahkan ke barat, bahkan melewati perhentian di Cibom.

Namanya juga mendekati samudra lepas, gelombang pasti lain rasanya. Walau seluruh anggota rombongan sudah mengenakan pelampung, sepertinya tak ada satu pun yang tidak berpegang erat-erat pada apa saja yang dirasa kokoh. Kamera-kamera yang tak dilengkapi piranti kedap air hanya digunakan seperlunya. Saat kapal berbelok ke kiri Tanjunglayar, hadangan gelombang jauh lebih besar.

Usai melampaui detik-detik mendebarkan, saatnya kembali berjalan kaki. Hanya 10 menit menyusuri pepohonan nipah, atau dalam bahasa lokal dahon (inilah asal-usul nama Cidahon) dan buah lampeni yang tumbuh liar. Menara pandang menjulang menghadap ke padang luas menjadi penanda bahwa langkah sudah memasuki kawasan penggembalaan yang dituju. Ada papan peringatan yang dimaksudkan agar pengunjung tidak ceroboh mendekat ke kawanan banteng liar dan tetap memperhatikan jarak aman, yakni 20 meter.

Kawasan Padang Penggembalaan Cidahon paling enak dinikmati tenang-tenang dengan teropong atau kamera yang dilengkapi lensa super tele. Bila beruntung, bukan hanya banteng liar merumput yang ditemui, burung merak dan ayam hutan pun muncul.

Kami kembali melintas laut dengan kapal kayu, lalu masih harus berlayar selama dua jam menuju Cigenter. Sebagian besar kawan menghabiskan waktu dengan tidur diayun gelombang. Sebagian lainnya mencoba tidak bosan.

Cigenter, sungai sepanjang 12 kilometer dalam kawasan taman nasional, menawarkan aktivitas bersampan. Pengunjung biasanya hanya menempuh waktu 30 menit ke arah hulu untuk kemudian berputar kembali. Tarifnya Rp 50 ribu per orang. Namun menyusuri sungai nan singkat itu terasa mewah.

Jalur yang dilalui mengingatkan kita pada sungai-sungai di belantara Amazon, yang ditayangkan di televisi dan media cetak. Celoteh burung caladi merah terdengar paling dominan. Seekor ular hitam tampak tenang melingkar, berusaha tidak terlihat di salah satu pohon yang jaraknya sangat dekat dengan sampan. Buaya-buaya muara, yang diam-diam mengawasi dari sudut tak terperhatikan, sempat membuat bulu kuduk meremang. Utamanya ketika caladi mendadak berhenti menyambut kedatangan tamu.

Dua jam berikutnya, kapal-kapal kayu bermotor yang membawa saya dan kawan-kawan telah merapat ke Pantai Plangu. Membasuh diri dengan air tawar pun segera menjadi pilihan utama.

Sungai Cigenter TN Ujung Kulon


Media: Travelounge edisi Juli 2016