travel choice: Lembaran Liburan di Temanggung

Wewangian daun tembakau, kopi, dan keindahan mentari terbit plus jajanan khas

Naskah & Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Temanggung adalah daerah perlintasan. Siapa saja yang hendak menuju Dataran Tinggi Dieng dari arah Yogyakarta atau Semarang pasti akan melewati kabupaten yang berbatasan dengan Pekalongan (timur laut), Batang (utara), Semarang (timur), Magelang (selatan), dan Wonosobo (barat daya) itu. Jelang april lalu, akhirnya saya berkesempatan menikmati Temanggung benar-benar. Lebih dari sekadar mencicipi kopinya yang telah mendunia atau menghadapi senyum ramah lembaran daun tembakau.

Gunung Sumbing dilihat dari Posong, Temanggung

Hari Pertama: Posong, Situs Liyangan, Umbul Jumprit, Omah Kelingan

Jarak tempuh menuju Temanggung, baik dari Semarang maupun Yogyakarta, sama, sekitar dua jam berkendara. Persinggahan pertama berada sekitar 25 kilometer arah barat Kota Temanggung. Desa Tlahab Kecamatan Kledung tepatnya. Saya menemukan kawasan wisata yang belum lama dikembangkan, Wisata Alam Lembah Posong namanya. Tawarannya berupa pemandangan matahari terbit yang indah dengan bersandar pada Sundoro dan menghadap ke arah hamparan Sumbing, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, hingga Ungaran. Menikmatinya di tengah hamparan tembakau pada ketinggian 1.700 m. dpl.

Pengunjung bisa juga naik sekitar 100-200 m. dpl., menapaki Sundoro, menemui sederet dinding batu cukup panjang yang diduga salah satu jejak letusan Sundoro ribuan tahun silam. Karena coraknya, masyarakat sekitar menamainya Watu Kelir. Pilihan yang tak kalah mengasyikkan adalah berkeliling perkebunan kopi dan tembakau.

Bermalam di Lembang Posong? Pilihannya berupa bermalam di rumah penduduk atau berkemah dengan paket Rp 150 ribu per orang. Fasilitasnya: tenda, kantong tidur, bantal, selimut, lampu, satu kali makan, satu kali coffee-break, api unggun, dan jaminan keamanan.

Tujuan berikutnya adalah Situs Liyangan. Berada di lereng timur laur Gunung Sundoro, diduga jejak peradaban Mataram Kuno. Proses ekskavasi perkampungan kecil dengan kisaran luas mencapai tiga hektare, yang konon terkubur setebal tujuh meter lebih akibat letusan Sundoro pada kisaran 900 Masehi tersebut, belum selesai sejak 2010. Jadi belum banyak yang dapat dilihat. Meski demikian saya sangat tertarik dengan susunan batuan tinggalan arkeologis yang tampak di permukaan berlatar gunung api yang menyembunyikannya begitu lama, sembari membayangkan seperti apa kejadian sebenarnya waktu itu hingga tak ditemukan jejak korban erupsi sebagaimana dampak letusan Vesuvius yang menewaskan ribuan jiwa masyarakat Pompeii.

Tanggung cuaca cerah, saya putuskan tidak menolak tawaran Pak Ojek asli asal Ngadirejo untuk berkeliling. Tujuannya: mata air dan sebuah candi. Dalam kisaran 6-7 menit melaju berkendara ke arah barat daya, saya tiba gerbang Umbul Jumprit. Kedatangan saya disambut segerombolan kecil kera yang baru turun dari pepohonan.

Konon, air yang berasal dari sendang tak kenal kering ini adalah air keberkahan yang kerap digunakan untuk mengawali rangkaian perayaan Trisuci Waisak, yang puncaknya pada saat purnamasidhi (bulan penuh) di pelataran Candi Borobudur.

Ditemani petugas kawasan tersebut, selain dapat mendekat ke arah mata air, saya bisa meraup air Umbul Jumprit yang sangat dingin dan bening. Kemudian saya membasuhkannya ke wajah tanpa bermaksud kelak menjadi awet muda sebagaimana dipercaya masyarakat.

Selanjutnya, 10 menit berkendara ke arah tenggara Umbul Jumprit, saya bertemu Candi Pringapus yang berusia kisaran 8-9 Masehi. Keberadaannya pertama kali dicatat oleh F.W. Junghuhn pada 1844. Selain arca Nandi (lembu tunggangan Siwa dalam mitologi Hindu) yang berada di garbhagrha, pada tubuh luar candi tersebut terdapat relief lelaki dan perempuan. Menilik bentuk dan ukuran serta sisa-sisa candi di sekitar, ada dugaan Pringapus merupakan salah satu candi perwara (anak) dari candi yang lebih besar. Setidaknya ini diperkuat dengan keberadaan pecahan wajah Kalamakara di sudut-sudut halaman cagar budaya.

Sebelum hari semakin siang, saya mengakhiri tur dan kembali ke pertigaan Tugu Ngadirejo. Tujuan terakhir saya hari ini adalah Omah Kelingan di Kandangan.

Omah Landak, Kandangan, Temanggung

Hari Kedua: Pasar Papringan

Pagi itu, pada kisaran pukul lima, saya sudah terjaga. Dengan harum dedaunan kopi dan bambu yang disinggahi embun, kuning sinar matahari yang perlahan menyibak gelap, rasanya saya lebih suka berlama-lama sembari rebah dalam Omah Landak. Seandainya tak ingat ada keramaian yang akan dimulai sekitar pukul enam dan tak ingin saya lewatkan.

Semalam, setibanya di Omah Kelingan, satu-satunya hal yang membuat saya tak sabar ingin segera beristirahat sebenarnya bukanlah rasa lelah, melainkan keemasan purnama yang bisa dipandangi leluasa sembari rebah di Omah Landak — pondok inap berbentuk kapsul berbahan dasar bambu berkapasitas satu orang. Dikeliling pohon-pohon kopi dan berada di ketinggian sekitar 2,5 meter di atas permukaan tanah, pondok ini merupakan bagian dari Omah Kelingan, salah satu homestay yang dikelola oleh Spedagi — bentuk perwajahan revitalisasi desa. Hanya dibuka untuk kegiatan tertentu saja.

Pagi itu, keramaian yang saya buru adalah Pasar Papringan. Perhelatan bersama warga Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung setiap 35 hari sekali (selapanan), yang jatuh di hari pasar Minggu Wage dengan Singgih Susilo Kartono (produsen radio kayu Magno dan sepeda bambu Spedagi) sebagai penggagas. Berlangsung mulai pukul 06.00-12.00 di lahan bernaung rimbun dedaunan bambu (papringan) seluas lebih-kurang 1.000 meter persegi.

Sebelum memasuki dan bertransaksi di kawasan pasar, setiap pengunjung diwajibkan untuk menukarkan uang dengan koin-koin bambu di tempat penukaran di gerbang depan. Ada empat jenis koin yang dapat ditukarkan; masing-masing bernilai 1 pring, 5 pring, 10 pring, dan 50 pring; dimana satu pring setara dengan Rp 1.000. Selain itu, bagi siapa saja yang hendak berbelanja, dianjurkan untuk membawa wadah atau tas. Seandainya lupa, di kiri gerbang depan tersedia lapak yang menjual tas-tas kain polos dan batik berikut keranjang bambu mulai harga Rp 30 ribu.

Macam-macam yang bisa ditemukan di Pasar Papringan. Tak semata produk kuliner tanpa kandungan MSG, juga tanpa kandungan pewarna dan pemanis buatan; tak hanya hasil pertanian dan kerajinan lokal serba natural dan ramah lingkungan; tapi ada pula pertunjukan kesenian daerah, jasa perbaikan payung dan sepatu, hingga pijat tradisional.

Saya pribadi paling menikmati keberagaman jajanan pasar dan menu sarapan. Di Pasar Papringan saya tak hanya menghabiskan seporsi sego gono seharga 5 pring, tapi juga seporsi kupat tahu, serta ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), tempe benguk (hasil fermentasi biji-biji Mucuna pruriens alias kacang benguk alias kacang koro) yang sudah dibacem, ndas borok (penganan berbahan dasar parutan singkong atau ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), es buah, serta tak lupa tiga batok (sebagai pengganti gelas) jamu kunyit asam dan temulawak. Sesudahnya saya singgah di Pojok Pijet dan membeli sekantong kecil Kopi Robusta Kelingan.

Pasar Papringan Temanggung

 


Media: Travelounge edisi Agustus 2016