Naskah: Ayu ‘Kuke’ Wulandari & Rony Noviansyah
Foto: Ayu ‘Kuke’ Wulandari
Mei, hari ke-28, menjauhi pukul tujuh. Tak ada biru terang cerah yang mewarnai di pagi itu. Tanpa perlu menengadah, tepat arah depan mata, wajah pucat langit jelas terlihat. Jatuhan butir air kecil-kecil dari atas yang sesekali semakin mengentalkan prasangka akan seperti apa cuaca di menit-menit berikutnya. Namun semua itu tak sedikitpun meresahkan hati Fikar juga Farhan, adiknya. Sembari menanti giliran menaiki kapal kayu bermotor yang akan membawa mereka ke Pulau Peucang, keduanya asyik menjawab ketulusan lembut ombak yang menebah Pantai Plangu. Hangat. Laut di hari itu menyambut dengan air yang terasa hangat menghantarkan keramahan ujung barat.

Keluarga Matabumi kembali mengadakan perjalanan belajar. Tercatat sebagai Jelajah Geotrek ke-25. Tujuannya kali ini terbilang jauh, mencapai 400 kilometer berkendara. Tanpa mengecualikan kemacetan serta waktu beristirahat meluruskan kaki dan pinggang, ada sekitar 12 jam yang dibutuhkan untuk sampai ke gerbang kawasan Taman Nasional Ujungkulon (TNUK) – sebuah kawasan konservasi yang lebih dikenal sebagai rumah bagi 64 Badak Jawa hampir punah, Taman Nasional pertama di Indonesia – yang secara administratif berada di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Lantas untuk mencapai Pulau Peucang yang dipilih sebagai tempat bermalam, masih dibutuhkan melaut menggunakan kapal kayu bermotor selama kurang-lebih tiga jam.
Tak ada yang mengeluh kebosanan. Bahkan bagi yang baru pertama kali melakukan perjalanan bersama macam ini. Tampaknya masing-masing sudah menyiapkan dengan saksama apa-apa saja yang akan menyamankan. Anggota keluarga lama belajar dari pengalaman lintas darat dan laut yang cukup panjang setahun silam ketika mengunjungi Gunung Anakkrakatau. Anggota keluarga baru tak kesulitan menyesuaikan. Kebersamaan segera dirayakan dengan nyata dalam kesempatan sarapan pagi tak lama sesudah kapal meninggalkan Pantai Plangu. Nasi uduk berkawan balado telur dan kerupuk serta tumpuk-tumpukan tas perbekalan yang menjadi saksi bergulirnya perbincangan-perbincangan ringan.
Bermenit-menit kemudian pemandangan berubah cepat. Sejauh-jauh mata memandang daratan menjadi sedemikian langka, yang ada hanyalah hamparan air dan air belaka. Antusiasme berbagi cerita perlahan menurun berganti kantuk. Cuma Farhan, si bocah berusia lima tahun, yang masih bersemangat mondar-mandir dengan riang sepanjang buritan hingga haluan. Tempat favoritnya tentulah titik terdepan. Sepasang matanya terus berbinar-binar. Rupanya dalam kepala anak itu perjalanan kali ini adalah sebuah ekspedisi besar kaum Bajaklaut dan dialah nakhoda yang punya kuasa. Perhatian dan keingintahuannya sesekali teralihkan oleh kehadiran acak para ikan terbang dan gerombolan burung-burung laut yang tengah berusaha menangkap ikan untuk dijadikan sarapan saat melintasi Tanjung Alangalang. Ia pula orang pertama yang terpekik senang demi melihat dermaga dan warna-warni menggoda di bibir pantai Pulau Peucang.
“Daratan! Daratan, Tante Kuke! Kita sudah sampai!”
Gradasi air biru kehijauan berpadan pasir putih memang pesona yang terlalu sulit ditampik mata. Belum lagi keramahan segerombolan ikan-ikan kecil yang biasanya mendekat ke bawah dermaga setiap kali mengetahui ada yang datang merapat. Farhan pun sontak mengakhiri perannya sebagai Kapten Bajaklaut. Ia berpindah ke arah lain kapal untuk segera bergabung dengan Fikar, kakaknya. Dalam singkat perbincangan mata, mereka bersepakat untuk bersukaria berenang sampai puas.
Bila menelusuri arti nama yang diberikan, ada kemungkinan pada awalnya Peucang banyak dihuni oleh kancil. Terlepas dari masih ada tidaknya binatang yang terkenal cerdik dalam fabel itu di sana (mengingat kancil punya kebiasaan jarang berkeliaran di kawasan pantai dan semak belukar, melainkan selalu berada di dalam hutan), Peucang dapat dikategorikan sebagai tempat bermalam yang menyenangkan. Tidak hanya sebab ketersediaan akomodasi yang memadai juga keberadaan Kantor TNUK; tapi juga karena kehadiran monyet-monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) yang acap terlihat pura-pura sibuk sendiri namun sigap merampas hal menarik apa saja milik tamu dalam waktu singkat, rusa (Cervus timorensis) yang sama sekali tak canggung dengan kehadiran manusia ketika merumput di area terbuka berhadapan langsung dengan kamar-kamar penginapan, babi hutan (Sus scrofa) yang santai berkeliling mondar-mandir mencari camilan, biawak (Varasus salvator) pelbagai usia dan ukuran.
Hal lain yang tak kalah menarik adalah keberagaman flora yang berkembang di pulau seluas kurang-lebih 450 ha itu. Dapat mudah ditemui dan diamati dengan mata telanjang di sepanjang sekitar satu setengah jam melintasi hutan hujan tropis dalam perjalanan menuju Karangcopong. Sebut saja: kiara (Ficus sp) yang paling diminati oleh Keluarga Matabumi sebagai latar berfoto baik bersama atau sendirian tanpa sedikit pun ada yang merasa seram dengan reputasi pohon raksasa tersebut sebagai tumbuhan pencekik dan acap kali jadi penyebab kematian tumbuhan lainnya; juga cerlang (Pterospermum javanicum) yang merupakan penghasil kayu pertukangan berkualitas baik dan dikenal juga sebagai pohon bayur (Sunda, Jawa), phenjur (Madura), bolang (Bali), buli (Sulawesi), damarsala (NTT), dan teunggi leuyan (Kalimantan). Saya pribadi lebih menikmati betapa kecilnya saya di antara pohon-pohon tinggi besar menjulang dengan banir (akar yang menganjur ke luar menyerupai dinding penopang pohon) lebar-lebar.
Ah ya, sebelumnya saya menyebutkan Karangcopong bukan? Nah, nama tersebut adalah nama tempat di mana biasanya pengunjung Pulau Peucang dibawa untuk menikmati keindahan warna-warni langit kala senja, letaknya agak ke utara. Meski kemudian ternyata Keluarga Matabumi dihadiahi senja berawan, rasa-rasanya tak ada yang tidak menikmati suasana sore jelang pasang di sana. Bahkan karena keasyikan, mau tak mau perjalanan kembali ke penginapan harus ditempuh sedikit bergelap-gelapan sebab tidak semua membawa senter atau headlamp miliknya. Entah karena beramai-ramai, entah karena sebenarnya senang dengan ingar-bingar suara-suara binatang yang terkesan seperti saling berbincang saling bersahutan, rasa takut tak terdeteksi hinggap. Walau tak semuanya dapat dikenali berasal dari mana dan dari siapa, kemewahan semacam ini jelas-jelas tak akan bisa diperoleh ketika nanti kembali tenggelam dalam hiruk-pikuk perkotaan.

Mei, hari ke-29, dibuka dengan agak enggan bangun cepat sebenarnya. Paduan sejuk udara sehabis hujan semalaman, kelelahan bersenang-senang sejak pagi hingga malam, dan sajian orkestra alam ala Peucang benar-benar membuat tubuh ingin berlambat-lambat. Tapi apa daya, sebelum tidur semalam sudah disepakati bahwa rombongan kami akan bertolak melaut lebih awal agar bisa punya kesempatan menikmati masa rekah fajar tak jauh dari dermaga sebelum kemudian melanjutkan berkunjung ke Cidahon, mampir sebentar melihat Tanjunglayar dari arah laut, menyusuri Ci Genter yang tak jauh dari Pulau Handeuleum, lalu bergerak kembali ke Pantai Plangu sebagai titik akhir perjalanan laut di hari itu.
Semangat yang kemudian berhasil dikumpulkan nyaris saja jatuh berderaian lagi tatkala keindahan warna-warni langit sepanjang pukul setengah enam hingga pukul enam memahkotai sekitaran dermaga. Saat-saat seperti itu rasanya akan jauh lebih genap apabila dinikmati sembari duduk-duduk atau bertelanjang kaki menyusuri tepi pantai. Untunglah begitu menaiki kapal, sarapan berupa nasi goreng sudah tersedia. Makanan enak memang selalu mampu mengentaskan gundah. 30 menit perjalanan laut menuju Cidahon jadi tidak terlalu terasa.
“Yu, tahu kan tumbuhan nipah? Nah, dahon itu nama lain nipah, Yu. Tempat yang akan kita datangi ini pasti sebelumnya atau mungkin sampai sekarang banyak ditumbuhi dahon, makanya disebut Cidahon.”, demikian penjelasan singkat Pak Bachtiar yang di-iya-kan pula kemudian oleh Kapten Kapal sesaat sebelum merapat.
Dan, penjelasan itu terbukti benar! Tak sampai lima menit berjalan kaki dari dermaga, deret-deret pohon nipah (Nypha fruticans) menyambut di sisi kiri jalan setapak yang dilalui. Sebelumnya pun beberapa di antara Keluarga Matabumi bersama Pak Bachtiar mengerumuni tumbuhan lampeni (Ardisia humilis) yang mengingatkan pada nama sebuah desa (Cilampeni) di daerah Kabupaten Bandung dan Sate Cilampeni nan mahsyur. Buah lampeni bisa dimakan. Pilih yang berwarna merah kehitaman karena itulah buah yang sudah matang dan tak akan terlalu asam.
Sekitar enam menit dari deret pertama pepohonan nipah yang ditemui, Padang Penggembalaan Cidahon sudah terlihat. Julangan menara pandang yang menghadang ke padang luas menjadi penanda bahwa langkah sudah memasuki kawasan tujuan. Di salah satu pohon tak jauh dari menara tersebut terpasang papan peringatan yang dimaksudkan agar pengunjung tidak ceroboh saat mendekat ke arah kawanan banteng (Bos javanicus) liar yang sedang asyik sarapan, tetap memperhatikan 20 meter jarak aman. Semisal tak datang beramai-ramai, kawasan padang pengembalaan ini sesungguhnya paling enak dinikmati tenang-tenang sampai lupa waktu sambil melengkapi diri dengan teropong atau kamera beserta lensa super-tele. Apabila beruntung, bukan hanya banteng liar yang gerak-geriknya menarik untuk diperhatikan; melainkan juga burung merak (Pavo muticus) dan ayam hutan (Gallus varius) yang elok.
Kurang dari 30 menit kemudian, Keluarga Matabumi sudah dihadapkan pada rasa gelombang yang berbeda, jauh lebih galak dibanding sebelumnya karena mendekati Samudra Hindia. Seluruh peserta perjalanan segera mengenakan pelampung dan sepertinya tak ada yang tidak berpegang erat-erat. Kamera-kamera yang tak dilengkapi piranti kedap air hanya digunakan seperlunya saat kapal memutari Tanjunglayar. Dari kejauhan tampak mercusuar yang konon merupakan mercusuar ketiga yang dibangun di ujung barat Pulau Jawa tersebut, juga dominasi batuan hasil letusan gunungapi tanpa terkecuali lava bantal.
Usai melampaui detik-detik mendebarkan, kedua kapal kayu bermotor yang membawa seluruh Keluarga Matabumi kembali memasuki perairan tenang. Dua jam perjalanan menuju Ci Genter (sungai sepanjang 12 kilometer di kawasan TNUK) dilalui dengan tidur diayun gelombang. Semua serentak bangun begitu nama tujuan terakhir disebutkan. Aktivitas yang paling ditunggu-tunggu adalah bersampan sedikit masuk ke arah hulu dari muara, berjarak 30 menit pulang-pergi kira-kira. Bersampan menyusuri tenang sungai yang mengingatkan pada sungai-sungai di belantara Amazon sembari ditingkahi celoteh burung caladi di satu pucuk pohon tertinggi, disaksikan seekor ular berwarna hitam yang entah apa jenisnya dan berusaha tidak terlihat padahal sangat dekat dengan laluan sampan, diawasi buaya-buaya muara dari sudut-sudut tak terperhatikan namun sempat membuat bulu kuduk meremang tanpa sama sekali boleh dinyatakan karena selama berada di perairan ujung barat kata “buaya” adalah pantangan.
Media: Buletin Geologi Tata Lingkungan Juli 2016